Category Archives: Komunikasi & Humas

DIAN Communications is COME BACK

Akhirnya sempat vakum  beberapa bulan karena kesibukan di acara MasterChef Season 2 as finalis, saya meninggalkan perkejaan untuk waktu yang menurut saya cukup lama. Tapi saya tidak merasa rugi karena banyak hal baik yang saya dapatkan walau saya tidak bekerja selama kurang lebih 3 bulan. Banyak yang bertanya “apa pekerjaan saya” mungkin kalau yang mengikuti blog saya, saya pernah menulis tentang pekerjaaan saya sebagai publicist namun gak ada salahnya jika saya menceritakannya kembali.

DIAN Communications berawal dari mimpi LUAR BIASA saya dimana saya ingin memiliki perusahaan sendiri dengan tahu diri bahwa saya hanyalah seorang wanita biasa. Kebetulan skripsi saya saat kuliah di HUMAS Universitas Indonesia saya mengangkat tema tentang “Publicist Artis Titi Kamal” dengan subjek penelitian seorang publicist yaitu Ichwan Persada. Saya sebetulnya bukan ingin membahas tentang publicist tapi lebih tepatnya saya ingin membahas mengenai “personal HUMAS”. Yah..dan ternyata publicist adalah percabangan dari salah satu profesi HUMAS atau yang biasa disebut Public Relations yakni salah satu bidang profesi dalam humas personal.

Kali pertama saya terjun, saya tidak tahu apa-apa. Yang saya tahu hanya yang tertera dalam hasil skripsi saya namun berkat bimbingan mas Ichwan Persada saya diperkenalkan dengan dunia nyata satu persatu. Bisa dibilang pekerjaan saya ini pada intinya adalah “memperkenalkan atau mempromosikan sebuah product (bisa film, public figure/artis, atau produk lainnya)” dalam hal ini saya lebih mengkhususkan pada film dan artis. Tahapannya secara umum, saya mengatur semua perencanaan promosi mulai dari film itu dibuat sampai pada akhirnya film itu telah  naik di bioskop dan di tonton oleh banyak orang. Mulai dari menyusun program yang sesuai dari karakteristik film yang saya pegang, bekerjasama dengan para rekan media, membuat press release, mengatur promo di dunia online termasuk jejaring sosial, membuat event-event sampai dengan evenet besar yaitu GALA PREMIERE, dan banyak lagi yang adalah tanggung jawab saya sebagai seorang publicst. Pada intinya tugas saya adalah “bagaimana caranya FILM tersebut diketahui oleh khalayak dan diterima serta ditonton”.

Kerjaan saya amat sangat rumit dan menyita waktu. Bisa dibilang saya bekerja hampir 24 jam. Awal mula saya dibantu rekan setia saya Andi Apriatna dan sampai dengan saat ini Dialah rekan kerja terbaik saya. Semua serba O, saya tidak kenal satu pun media, saya tidak pernah mengundang media untuk datang ke sebuah acara, saya tidak kenal artis A sampai dengan Z, semua saya serba tidak tahu. Namun satu hal yang saya yakini “SAYA BISA” dan alhasil sampai dengan saat ini 1 tahun masa produksi dan 1 1/2 tahun semenjak berdiri DIAN Communications, saya telah memegang 4 buah film layar lebar (Milli and Nathan, Semesta Mendukung, Ambilkan Bulan, Perahu Kertas – hanya setengah jalan-), 1 film serial TV, dan event-event rekan-rekan artis saya. Sebuah pencapaian yang menurut saya luar biasa, bukan sombong tapi saya bangga dengan apa yang akhirnya bisa saya lakukan tanpa modal sepeser pun. Namun masih banyak kurangnya saya sadari hal itu, itulah mengapa saya ingin terus belajar menyempurnakan setiap hal yang saya kerjakan.

Sekarang saya kembali lagi memulai tapi bukan dari O, saya meneruskan apa yang sudah saya kerjakan, saya sedang merapikan semuanya, mulai dari renovasi website, materi-materi promo, dan banyak lagi yang sedang saya benahkan. Saya tidak akan berhenti dan akan terus mengepakkan saya DIAN Communications, yang rencananya akan meluas bukan hanya film tapi  bidang yang lainnya sambil bekerjasama dengan Ayah saya tercinta yang adalah konsultan pertambangan dan lingkungan.

Doa sederhana saya semoga pekerjaan dan niat baik saya didengar oleh Tuhan dan Tuhan selalu menjaga semangat saya untuk terus mengepakkan sayap, tidak mudah puas, dan terus berkarya, dan terus bisa menghidupi banyak orang dan menjadi terang untuk sekitar.

So, butuh jasa promosi dibidang apapun atau butuh konsultasi di bidang humas/public relations atau ingin membangun image produk atau perusahaan Anda atau membutuhkan jasa handling media atau apapun yang berkaitan dengan publicist atau Humas/public relations bisa menghubungi saya di email dianita.tiastuti@yahoo.com atau tlp di 021-7754174 . 

Dan terakhir… punya restoran atau rumah makan ? Bisa juga saya bantu untuk promosi. Atau ada acara yang membutuhkan orang untuk mendemo masakan, saya pun bersedia. Dua dunia pekerjaan yang saya kerjakan sekarang adalah DIAN Communications dan KULINER.

Lakukan pekerjaan yang Anda cintai.. Uang akan mengikuti.. Yang terpenting NIKMATI dan jadilah INSPIRASI!

By Dianita Tiastuti

Advertisements

2 Comments

Filed under Film, Komunikasi & Humas, Motivasi, Tulisan Dyan

Publicist is My Passion

Sebentar lagi tepat satu bulan Saya menjalani pekerjaan Saya yang baru. Tepatnya Saya berusaha untuk membuat perusahaan sendiri yang bergerak di bidang Publcist. Setiap orang yang bertemu dengan Saya, entah itu teman, entah itu kerabat atau siapapun pasti bertanyaan “Apa itu Publicist?” Ada yang bilang agen, ada yang bilang manager, dan lain-lain. Memang sekarang tak bisa dipungkiri antara manager, agen, dan publicist dijalankan oleh satu orang, mungkin di negara lain sudah sangat maksimal dijalankan oleh orang-orang yang berbeda namun di Indonesia ke tiga profesi tersebut masih dijadikan satu. Dan Saya berusaha menggeluti salah satu bidang itu, dan meminfokan kebanyak orang bahwa agen, manager, dan publicist itu berbeda. Dan Saya ingin semua orang tahu pentingnya seorang publicist di ere modereniasasi sekarang ini.

Kenapa akhirnya Publicist yang Saya pilih? yah karena Saya ingin sekali menjadi humas, dan Publicist tidak jauh beda dengan humas, Ia hanya memiliki tugas yang lebih spesifik dalam hal publicity yang merupakan salah satu fungsi dari seorang humas, namun ujung-ujungnya adalah sama yaitu “mengcreate sebuah image yang baik.” Saya telah melamar pekerjaan dimana-mana dan ada beberapa yang diterima namun hati Saya berkata “tidak”, entah dari dulu Saya ingin sekali mandiri, tidak diatur oleh orang dan Saya tidak dibudaki oleh orang atau perusahaan. Saya ingin berdiri dengan kaki Saya sendiri, Saya yang mengatur waktu Saya sendiri, dan Saya bebas mengekspresikan apa yang Saya mau tanpa harus memikirkan kebijakan ini dan itu. Dan ada satu hal yang akhirnya mendasari Saya untuk memilih Publcist ini, Saya memiliki sebuah mimpi bahwa “Siapapun dapat menjadi public figure saat Ia memiliki SESUATU dan mereka memiliki KESEMPATAN dan mereka mampu BERSAHABAT dengan media.” Itulah gunanya Saya menjadi tangan kanan mereka-mereka yang ingin menjadi public figure dengan arti yang sesungguhnya. Saya mampu menjadi fasilitator hingga akhirnya mereka bukan hanya “cepat masuk di dunia entertain hingga akhirnya cepat tenggelam (seperti artis-artis sekarang yang hanya aji mumpung)” namun akhirnya Mereka mampu exist dan menjadikan artis/public figure sebagai “Karier” mereka bukan hanya menerima saat job datang tapi mereka berfikir jauh ke depan untuk dapat maksimal menjalankan profesinya. Yah sama seperti halnya pegawai swasta, pegawai negeri dan lainnya.

Dalam bidang publicist ini target Saya adalah para public figure (seperti artis, politisi, dll), perusahaan, olahragawan, music label, management artis, dan banyak lagi. Siapapun yang ingin dikenal oleh masyarakat, memiliki image yang baik, ingin menjadi kawan dengan rekan media, dan memiliki eksistensi dimata masyarakat, Saya akan dengan senang hati membantu mereka. Namun Saya hanya sebatas melakukan publisitas dan apapun yang berkaitan dengan media, Saya tegaskan bahwa Saya tidak mencarikan job/pekerjaan. So, gak akan salah lagi persepsi orang menegani profesi Saya sekarang.

Yah, dunia sekarang banyak orang berlomba untuk akhirnya dikenal oleh masyarakat. Bayangkan kekuatan media online sekarang sangat luar biasa, siapapun dapat terkenal secepat kilat hingga akhirnya menjadi star. Banyak hal-hal positif yang dimunculkan, namun skelaigus banyak hal negatif yang muncul saat kita tidak mampu bagaimana cara menfaatkan media tersebut dengan benar. So, hal itulah menjadi salah satu paket dalam jasa yang Saya tawarkan disamping jasa-jasa lainnya yang setiap orang berbeda-beda. Segala hal yang Saya lakukan adalah berdasarkan research tidak sembarangan ,membuat program a sampai dengan z. Semua harus realistis dan disesuaikan dengan klien Saya. Saya akan membuat program bagus ketika Saya tahu dengan detail apa yang ingin Saya rubah apa objek Saya, itulah gunanya research sehingga akhirnya program yang Saya buat sesuai dengan tujuan apa yang ingin dicapai yang lagi-lagi semua diasarkan pada research tersebut. So, semuanya gak semudah apa yang orang pikirkan tentang profesi Saya ini. Mulai dari bertemu dengan para public figure, membuat janji, fact findinbg tentang calon klien Saya (dari a sampai z Saya ahrus tahu), membuat program yang sesuai, mempresentasikannya, meyakinkan mereka, hingga akhirnya ,mengaplikasikan segala program yang Saya buat dimana Saya sangat membutukan peran media didalamnya.

Lagi-lagi satu hal yang dapat Saya ambil dari profesi ini bahwa yang terpenting dalam hidup dan kesuksesan adalah “hubungan baik” atau biasa orang sebut link atau network. Woww, sekarang Saya sangat sadari ini. Orang pintar sekalipun tidak akan sukses saat ia tidak mampu bergaul dan tidak memiliki banyak teman, karena lagi-lagi semua orang sukses membutuhkan banyak pihak yang mampu mendorong kesuksesannya.

Awalnya Saya takut dan tidak yakin, namun setelah Saya jalani ini hampir satu bulan, satu demi satu hal mampu Saya lakukan. Pengalaman baru, perasaan yang selalu ingin tahu, selalu mengisi hari-hari Saya. Saya dituntut berpikir banyak hal dalam satu waktu, dari artis ini (Saya baru memiliki klien artis) artis itu, harus Saya pikirkan secara bersamaan. Kelemahan Saya adalah paling susah menghafal dan kurang teliti, namun karena profesi baru ini Saya terlaltih untuk menghafal dan teliti untuk segala hal. Dan ditambah Saya harus bekerjasama oleh 2 (dua) anak buah dan 2 (dua) konsultan, Saya harus dapat menjadi pemimpin yang bisa sebagai teman sekaligus dihargai sebagai seorang pemimpin. Banyak hal yang Saya pelajari hampir satu bulan ini. Pulang malam, menyetir sendirian, mengenai dunia baru (dunia artis), bertemu dnegan banyak orang baru yang berbeda-beda karakter. Luar biasa, tak pernah habisnya Saya mengucap syukur.

Hal kedua yang Saya dapat adalah “semua kita adalah sama yatu manusia.” Saya bertemu dengan beberapa artis dan sebelumnya Saya berpikir bahwa mereka luar biasa dan jauh di atas Saya dan Saya sungkan serta minder dengan mereka. Namun sekarang Saya tahu bahwa mereka adalah sama seperti Saya. Mereka manusia biasa yang mampu tertawa lepas, yang mampu bercanda, yang terkadang membuat kesalahan, dapat menghargai Saya. Siapapun itu tetap sama yaitu MANUSIA. Yang membedakan hanyalah jalan hidup setiap Kita dan apa tugas masing-masing kita di dunia.

Yup…
Saya hanya ingin bilang “LAKUKAN” apa yang ingin kamu lakukan, jangan terlalu lama berfikir karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup di dunia. Apapun yang kita bayangkan, belum tentu sesuai, seperti halnya ketika takut untuk berbuat sesuatu yang baik, saat kita jalani ternyata hal itu biasa dan tidak seseram apoa yang kita bayangkan.

THE LAST
“JADILAH HUMAS UNTUK DIRIMU SENDIRI, KITA HIDUP DITENGAH-TENGAH MANUSIA YANG LAIN. DISAMPING KITA MELAKUKAN APAPUN YANG KITA ANGGAP BENAR, KITA HARUS TETAP BISA MEMIKIRKAN BANYAK HAL DIMANA HAL TERSEBUT MERUPAKAN BAGIAN DARI TANGGUNG JAWAB KITA SEBAGAI MANUSIA. JADILAH YANG TEBRAIK DENGAN MELAKUKAN SEGALA HAL YANG TERBAIK, SEHINGGA TANPA KITA SURUH SEMUA ORANG AKAN MENGANGGAP KITA ADA DAN BERGUNA BAGI MEREKA”

*Sukses untuk kalian semua

1 Comment

Filed under Hari-hari Dyan, Komunikasi & Humas

Tantang di dunia “Keartisan”

Menjadi artis adalah salah satu profesi dambaan setiap orang. Media berusaha menghibur masyarakat melalui artis-artis tersebut. Fungsi hiburan media massa ini diberikan dengan cara memudahkan seseorang utnuk menanggulangi masalah kehidupan. Maka dari itu lah banyak orang ingin menjadi seorang artis karena mereka akan dengan cepat dan instan memperoleh uang yang tidak sedikit jumlahnya.

Sosok artis yang sering muncul di TV, job- job manggung, main sinetron yang tidak pernah sepi membuat artis sangat sibuk setiap harinya. Semakin muncul di media massa, popularitas pun semakin naik. Seiring ketenaran yang melejit otomatis harta kekayaan pun bertambah banyak. Karena banyaknya tawaran manggung, main sinetron, iklan, dan sebagainya, maka artis-artis ini butuh seorang yang mampu mengatur jadwal manggung atau tampil di televisi, mengatur keuangan artis, mengatur perjanjian kontrak dengan sponsor, mengarahkan artis untuk bersikap baik di depan media, membantu artis mempertahankan eksistensi, dan menjalin hubungan dengan pihak media untuk melakukan publisitas.

Artis-artis Indonesia yang telah memiliki nama besar seperti Agnes Monica, Olga Syahputra, Helmi Yahya, Anang Hermansyah, Joshua Suherman, dan artis-artis besar lainnya memiliki cara tersendiri dalam menghandle setiap hal yang berkaitan dengan citra, publisitas, dan eksistensinya di dunia hiburan tanah air. Sebagai contoh Helmi Yahya yang dijuluki sebagai “Raja Kuis”, yang merupakan seorang presenter dan juga seorang creator kuis yang banyak dikagumi. Dengan kemampuan managementnya, Ia mampu menangani sendiri hal-hal yang berkaitan dengan ekistentsinya sebagai seorang public figure, atau dengan kata lain Ia menjadi humas untuk dirinya sendiri. Beda halnya dengan sosok artis multitalent Agnes Monica, Ia mempercayakan semua urusannya kepada kakaknya sendiri. Banyak artis yang mempercayakan keluarganya untuk menangani segala urusan-urusan yang berkaitan dengan media. Namun secara keseluruhan di mata para artis ataupun masyarakat, manajer artislah yang dilihat dan diakui sebagai seseorang yang mampu mengangkat nama seorang artis.

Keberadaan profesi manajer artis ini boleh dibilang belum terlalu lama dikenal kalangan artis di Indonesia. Awalnya, jabatan itu hanya dianggap gaya-gayaan semata. “Biar seperti band-band asing, dibilang profesional gitu,” kata sejumlah orang ketika jabatan manajer mulai dikenal di industri hiburan Tanah Air . Ketika industri hiburan kian marak, kehadiran dan peran manajer pun dirasakan makin penting. Keberadaan manajer untuk seorang artis adalah sebuah tuntutan profesionalitas yang tak bisa ditunda lagi. Di lihat di lain sisi, sampai saat ini, banyak artis pengguna jasa manajer masih dihinggapi pemahaman yang keliru tentang peran dan tugas manajer. Banyak artis hanya menganggap manajer layaknya seorang pembantu yang harus mempersiapkan segala keperluan artis, mulai membawakan baju, tas, sampai mengawalnya kala bepergian.

Pada era 1970 dan 1980-an, beberapa artis memang sudah menggunakan jasa manajer. God Bless, misalnya. Grup yang dimotori Ahmad Albar dan Ian Antono itu pada era 1970-an malah dimanajeri beberapa orang. Di antaranya, Hendra Lie yang kini jadi pemilik Mata Elang, perusahaan lighting terbesar di Asia Tenggara. Ada juga Alex Kumara yang kini direktur di TVOne atau Log Zhelebour yang kini pemilik perusahaan rekaman Logiss Record. Tapi, menurut pengamat musik Bens Leo, jasa manajer mulai marak dipakai pada era 1990-an, ketika informasi teknologi kian terbuka.

Selain mencarikan klien, manajer juga jadi wakil dari artis ketika menjalin kerja sama dengan pihak lain,” ungkap Bens Leo selaku pengamat musik. Ada berbagai pendapat mengenai tugas seorang manajer di mana seorang manajer harus lebih terkonsentrasi pada pengembangan diri si artis. Manajer juga punya peran dalam membesarkan artis yang diurusnya. Keberhasilan Slank merilis 16 album, belasan kali pentas setiap bulan, dan melakukan kolaborasi dengan artis atau band lain, tak lepas dari peran Bunda Iffet Sidharta, ibunda Bimbim, drumer Slank yang mengurus manajemen grup musik itu. Meski menerapkan manajemen keluarga, tetap saja para personel Slank puas dengan kerja Bunda. Cara kerja Bunda Ifet tak lagi tergolong amatiran. Bahkan, pada perkembangan selanjutnya, ia mulai menggunakan media cetak untuk mendongkrak popularitas Slank yang juga berfungsi sebagai wahana mempererat para Slankers melalui media ‘Koran2an Slank’.

Seperti penjelasan di atas, peran manajer artis memang sudah ada dari dahulu, sekitar tahun 1970-an. Padahal pada kenyataannya dalam sebuah management artis terdapat tiga profesi yang mendukung pekerjaan para artis tersebut sebagai public figure, yang sangat menjanjikan jika ditekuni, yakni agen artis, manajer artis, dan publicist artis. Tugas seorang agen hanya untuk mencarikan pekerjaan untuk si artis, sedangkan manajer bertugas hanya untuk mengarahkan karier artis dan membuat perencanaan atau strategi karier si artis hingga 5 tahun ke depan dan profesi seorang Publicist memiliki tugas untuk secara terus-menerus mempublikasikan artis diberbagai media untuk terpeliharanya awareness masyarakat atas keberadaan sang artis. Ke tiga profesi tersebut telah diterapkan di salah satu negara yang sudah tidak asing lagi dengan praktek publisitasnya yakni Amerika Serikat, seperti disebutkan sebagai berikut: The average American actor employs an Agent, Manajer, and Publicist, relying on a team of skilled professionals to guide and cajole a career in the right path. Aktor Amerika rata-rata mempekerjakan seorang humas Agen, Manajer, dan, mengandalkan tim profesional terampil untuk membimbing dan membujuk karier di jalur yang benar. Bisa dikatakan bahwa artis-artis Amerika Serikat sudah tidak asing lagi terhadap profesi Publicist. Seperti artis yang sudah tidak asing lagi di telinga kita seperti Madonna, Beyonce, Timberlake, Hillton, mereka menggunkana jasa Publicist untuk melakukan salah satu pekerjaan mereka yaitu berhubungan dengan media.

Hubungan Publicist dengan rekan media (pers) merupakan cara yang bisa ditempuh untuk membuat citra yang baik di depan masyarakat. Hubungan artis dengan media adalah salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap pencitraan artis tersebut. Segala tindak-tanduk para artis disorot oleh media, oleh karena itu artis harus selalu menjaga hubungan yang baik dengan media di tengah jadwal artis yang sangat padat, yang menyulitkan artis untuk tetap dapat menjalin hubungan dengan media. Di mana sebuah profesi atau perusahaan atau public figure sangat dituntut untuk melakukuan fungsi media relations dikarenakan media yang sangat berpengaruh terhadap pembentukkan citra.

Di sinilah dibutuhkan peran seseorang untuk dapat melakukan hal tersebut. Seperti halnya pernyataan dari Jerry Dalton Jr, salah seorang manajer komunikasi perusahaan di Aircraft Company “Praktisi PR sangat penting perannya dalam menjalin hubungan dengan media”. Artinya, hubungan dengan media sangat penting dilakukan untuk menunjang keberhasilan kegiatan PR. Hal tersebut sama seperti apa yang dinyatakan oleh seorang pakar kehumasan dari San Jose State University Lawrence & Dennis L. Wilcox, “Publisitas sebagai informasi yang tidak perlu membayar ruang-ruang pemberitahuan atau penyiarannya, namun disaat yang sama tidak dapat dikontrol oleh individu ataau perusahaan yang memberikan informasi, sebagai akibatnya informasi dapat mengakitbatkan terbentuknya citra dan mempengaruhi orang banyak dan dapat berakibat aksi – di mana aksi ini dapat menguntungkan atau merugikan saat informasi dipublikasikan.”

Dengan profesi Publicist tersebut artis dimungkinkan dapat bertahan diketatnya persaingan dunia keartisan di mana cepat sekali bermunculan artis-artis pendatang baru yang memiliki keunikkan-keunikkan tersendiri. Di maraknya artis yang bermunculan, maka dibutuhkan sesosok seorang artis yang bukan hanya dapat menghibur para masyarakat dan penggemarnya melainkan harus dapat beracting atau bersikap layaknya seorang public figure. Cara artis berbicara dan bertutur kata di depan media, cara artis menanggapi setiap gossip yang beredar di masyarakat sampai dengan cara artis bersikap di depan media adalah hal-hal kecil yang sering kali diacuhkan oleh seorang artis.

Artis harus dapat bersikap secara cerdas guna terbentuk sebuah citra yang positif di masyarakat sehingga awareness masyarakat terhadap sang artis tetap terjaga. Hal tersebut yang akhirnya dapat membuat artis mampu bertahan diketatanya persaingan di dunia keartisan sekarang ini. Jadi peranan seorang Publicist adalah mengadakan hubungan yang dapat menghasilkan, dalam hal ini hubungan yang menghasilkan dengan media. Seperti arti dari kata publisitas yang berasal dari kata inggris, publicity yang memiliki pengertian.

“Publicity is information From an outside source that is used by the media because the information has news value. It is an uncontrolled method of placing massages in the media because the source does not pay the media placement.”

Publisitas adalah informasi yang berasal dari sumber luar yang digunakan oleh media massa karena informasi itu memiliki nilai berita. Publisitas merupakan sebuah metode yang tidak dapat terkontrol, dalam penempatan pesan di media massa karena sumber tidak membayar media untuk memuat berita bersangkutan. Sehingga peranan artis dalam menjaga hubungan baik dengan media mampu dicover oleh seorang Publicist.

Amerika Serikat seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Publicist sudah bertindak menggantikan posisi artis yang ditanganinya dalam berhubungan dengan media. Media sudah terbiasa menghubungi Publicist untuk memperoleh segala informasi mengenai artis yang diharapkannya. Artis sangat berperan kecil dalam hal berkomunikasi dengan media, “Selalu berusaha mendapatkan sisi lain dari sebuah berita dan menghubungi Publicist artis dan memintanya untuk menyangkal atau mengkonfirmasi berita tersebut.” Hal tersebut yang melindungi penulis secara hukum dan membuat perbedaan antara berita yang baik atau berita mati. “Kita biasanya harus mengetahui siapa sumber berita tersebut. Kami perlu mengetahui bagaimana Publicist merespon berita tersebut. Jika mereka mengatakan “no comment”, maka sudah berarti berita tersebut benar. Salah satu alasan lagi untuk tidak mengatakan no comment. ”, ujar salah satu Publicist artis di Amerika Serikat.

Terdapat pula beberapa berita di media massa luar negeri yang memberitakan mengenai seorang artis di mana berita tersebut merupakan hasil wawancara dari Publicist artis Mereka. Hal tersebut sangat terlihat dengan jelas keefektifan menggunakan jasa Publicist di kalangan para artis Hollywood. Hubungan dengan media yang baik akhirnya dapat terus mempertahankan eksistensi artis dimata publik dan penggemarnya dikarenakan citra yang baik yang selalu dapat dijaga oleh sang artis yang memiliki rutinitas dan kesibukan yang sangat padat dengan kata lain Publicist dapat sedikit meringankan pekerjaan artis untuk berhubungan dengan media.

Rosady Ruslan, Manajemen humas dan manajemen komunikasi (konsepsi dan aplikasinya), (Jakatrta : PT Raja Grafindo Persada, 2001)
John Hartley, Communication Cultural Studies and Media Studies The Key Concepts, (Routledge: 2004)
Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa; Suatu Pengantar Edisi Kedua, (Jakarta : Erlangga 1987)

3 Comments

Filed under Komunikasi & Humas

Pengertian Public Relations (PR)

Public Relations di Indonesia diterjemahkan ke dalam Hubungan Masyarakat. Kata masyarakat yang sangat luas cangkupannya dan terjemahan tersebut pada prakteknya lebih menekankan kepada publik eksternal, padahal sesungguhnya Humas harus dapat melakukan komunikasi internal dan eksternal. Di Indonesia istilah Humas lebih banyak digunakkan di lembaga-lembaga pemerintahan atau organisasi non-profit sedangkan istilah Public Relations digunakan dalam organisasi atau perusahaan swasta profit. Ada beberapa pengertian yang menjelaskan apa itu Public Relations atau Humas, antara lain :

Menurut Cutlip, Center dan Glen Broom dalam bukunya Effective Public Relations:
“Public Relations is the management function which evaluates public attitudes , identifies the policies ang procedures of an individual or an organization with the public interest, and plans and executes a program of action to earn public understanding andacceptance”.

Fraser P. Seitel dalam The Practice of Public Relations:
“Public Relations is a planned process to influence public opinion, through sound character and proper performance, based on mutually satisfactory two-way communication”.

Enam puluh lima kepala Public Relations menganalisis 427 definisi yang berbeda-beda mengenai Public Relations dan akhirnya disimpulkan melalui 88 kata , yaitu:
“Public Relations is a distinctive management function which helps establish and maintain mutual lines of communications, understanding, acceptance, and coorperation between an organization and its publics; involves the management of problems or issues; helps management to keep informed on and responsive to public opinion; defines and emphasizes the responsibility of management to serve the public interest; helps management keep abreast of and effectively utilize change, serving as an early warning system to help anticipate trends; and uses research and sound ethical communication techniques as its principal tolls.”

Edward L. Bernays, dalam bukunya Public Relations mengatakan:
“Public Relations has three meanings : (1) information given to the publi;, (2) persuasion directed to the public to modify attitudes and actions of an institutio; (3) efforts to integrate attitudes and actions of an institution.”

Terdapat banyak definisi-definisi lainnya selain yang telah disebutkan di atas, namun dari definisi-defini tersebut dapat disimpulkan bahwa Public Relations atau Humas adalah suatu proses perencanaan yang dapat dikaitkan dengan fungsi manajemen dan merupakan penghubung antara khalayak internal perusahaan/lembaga/organisasi dan khalayak eksternal dengan masyarakat luar yang terkait dengan lembaga/organisasi tersebut. Serta memiliki kesamaan pokok pikiran, yaitu :

1. Public Relations merupakan suatu kegiatan yang bertujuan memperoleh goodwill, kepercayaan, saling pengertian, dan citra yang baik dari publik/ masyarakat.

2. Sasaran public relations adalah menciptakan opini publik yang favourable, menguntungkan semua pihak.

3. Public realtions merupakan unsur yang sangat npenting dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik dari organisasi/ perusahaan.

4. Public relations adalah usaha untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara suatu badan/ organisasi dengan masyarakat melalui suatu proses komunikasi timbal-balik atau dua arah. Hubungan yang harmonis ini timbul dari adanya mutual uderstanding, mutual confidence, dan image yang baik. Ini semua merupakan langkah-langkah yang ditempuh oleh public relations untuk mencapai hubungan yang harmonis.

Leave a comment

Filed under Komunikasi & Humas, Skripsi

Teori Kritis

Teori Kritis merupakan aliran filsafat abad ke-20. Bermula dari sebuah institut di Jerman, Institut fur Sozialforschung yang didirikan pada tahun 1923 oleh seorang kapitalis yang bernama Herman Weil, seorang pedagang grosir gandum, yang pada akhir hayat “mencoba untuk cuci dosa” mau melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan di dunia (termasuk dalam skala mikro: penderitaan sosial dari kerakusan kapitalisme). Institut tersebut merupakan awal mula tokoh-tokoh Teori kritis memulai pemikiran-pemikirannya. Namun institut tersebut hanya bisa bertahan sampai tahun 1933 di Frankfurt. Hal tersebut dikarenakan Kepemimpinan Hitler terhadap partai Nasionalsosialis sangat bersikap keras dalam mempromosikan antisemitisme dan secara terang-terangan memusuhi sosialisme dan komunisme, sehingga pemerintah Jerman dapat diambil alih olehnya. Alasan lainpun karena Institut fur Sozialforschung cenderung sosialis dan hampir semua tokoh lembaga tersebut adalah keturunan Yahudi. Di samping itu Hitler menggunakan kekuasaanya untuk melakukan banyak tindakan-tindakan keras antara lain; menangkap orang-orang komunis dan anggota Partai Sosial Demokrat dan terjadi tindakan pembunuhan dan kekerasan terhadap orang-orang Yahudi.

Keadaan tersebut yang akhirnya membuat tokoh-tokoh (Max Horkheimer dan Theodor Wiesengrund Adorno) Teori Kritis satu demi satu meninggalkan Jerman dan membuka cabang Institut fur Sozialforschung di New York dengan bernaung pada Columbia University dan berkembang juga di Los Angeles California. Seiring dengan perkembangan waktu akhirnya tepat sesudah Perang Dunia II Institut fur Sozialforschung kembali dibuka di Frankfurt am Main, Jerman dengan Max Horkheimer sebagai pemimpinnya.

Pada saat itulah Teori Kritis atau mazhab mulai disebarluasakan, namun pada tahun 1960-an baru terkenal di Jerman. Mazhab tersebut lebih diperbincangkan dan diskusikan oleh “mahasiswa kiri” pada tahun 1960-an yang mengkaitkannya dengan “Perselisihan Positivisme dalam Sosiologi Jerman”. Makin lama perkembangan mazhab tersebut making berkembang, diterusi oleh mereka yang pernah belajar dan menjadi asisten di Institut fur Sozialforschung (tokoh-tokoh setelah Perang Dunia ke II, setelah tahun 1960-an). Teori Kritis menjadi inspirasi dari gerakan sosial kemasyarakatan. Gerakan sosial ini dipelopori oleh kaum muda yang pada waktu itu secara historis telah tidak ingat lagi dengan masa kelaparan dan kedinginan pasca perang dunia II. Generasi muda tahun 1960-an telah merasa muak dengan kebudayaan yang menekankan pembangunan fisik dan menekankan faktor kesejahteraan ala kapitalisme. Generasi ini adalah generasi yang secara mendalam meragukan atau menyangsikan kekenyangan kapitalisme dan disorientasi nilai modern. Generasi ke dua ini bukan berasal dari orang-orang yahudi seperti generasi pertama. Dan mereka sudah tidak menggunakan istilah mazhab. Istilah “Mazhab Frankfurt” hanya untuk generasi pertama. Namun ke dua generasi ini sama-sama menghasilkan banyak tulisan dan karya-karya yang diakui oleh dunia. Dua generasi tersebutlah yang merupakan pemikir-pemikir dari Teori Kritis tersebut yang menciptakan sebuah sejarah mengenai Teori Kritis.

Teori Kritis ini ada untuk melawan teori tradisional yang afirmatif (memberikan pengertian yang lebih memuaskan tentang realitas, dengan menjadi puas karena realitas itu, jadi realitas tersebut diafirmasi dan dibenarlan), dimana teori tradisional pada intinya ingin menciptakan sebuah pencerahan dan kebebasan agar pengetahuan berada sedekat mungkin dengan realitas atau kebenaran. Pemikiran para tokoh Teori Tradisonal tersebut disanggah oleh para tokoh-tokoh Teori Kritis dimana menurut mereka teori Tradisonal tidak berhasil dalam tujuannya dalam mencerahkan serta membebaskan manusia. “Teori Tradisonal tersebut hanya bisa mengubah pengertian kita tentang realitas, tetapi tidak mampu mengubah realitas itu sendiri.” Inilah hal yang akhirnya dikritisi oleh toko-tokoh Teori Kritis. Lebih dalammnya lagi dijelaskan bahwa teori tradisional dibatasi pada kotemplasi yang artinya hanya memandang dan tidak bisa menjadi praktis dan dicoba untuk mengubah apa yang dipandang itu.

Dengan keadaan tersebut dan dilandasi dengan sikap perlawanan terhadap anggapan para filosof yang berpendapat bahwa tugas mereka adalah memberikan penjelasan teoritis dan bukan untuk mengubah realitas, Horkheimer dan teman-teman menunjukkan bahwa setiap teori dengan sendirinya sudah mempunyai segi yang praktis. Sehingga mereka memiliki hak untuk mengkritisi hal tersebut.

Gagasan pokok dari Teori Kritis yaitu :

“Begitu pula masyarakat perlu mengingat kembali sejarah dan penindasannya, dengan demikian mengerti bahwa ia sampai sekarang hidup dalam kesadarn yang palsu (kesadaran yang begitu saja menerima situasinya sebagai tak berubah); dan dengan demikian ia menjadi bebas untuk memperjuangkan emansipasinya”

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Teori Kritis adalah :

Memahami bahwa realitas yang diselidiki pada hakikatnya ditentukan oleh penindasan dan penghisapan (Marx: Masyarakat adalah masyarakat yang tergelongkan dalam kelas-kelas, yang terdiri dari kelas-kelas atas dan kelas-kelas bawah), jadi merupakan realitas buruk, sekaligus palsu karena menutup-nutupi hal itu (secara ideologis).

Teori Kritis dengan demikian membuka kesadaran bahwa keadaan buruk dan palsu itu dapat diubah; dengan demikian hubungan-hubungan penindasan itu kehilangan kuasa mutlak mereka atas manusia. Hubungan-hubungan itu hanya mempertahankan diri selama tidak disadari atau diterima sebagai sesuatu yang tak bisa diubah. Begitu kita mengerti bahwa kita sendirilah yang menciptakannya, dorongan kita yang paling mendalam, dorongan untuk mengusahakan emansipasi (pembebasan) dan dapat menyatakan diri.

Teori Kritis Berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Pendekatan Teori Kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni. Teori Kritis pada titik tertentu memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris

Teori Kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah. Pada dasarnya, Teori Kritis mau menjadi praktis.

-Informasi didapat dari berbagai sumber, kalau ada yang membutuhkan dapat menghubungi saya-

Leave a comment

Filed under Komunikasi & Humas

Berbicara di depan Orang Banyak, Siapa Takut !

Saya sering dihadapkan pada situasi dimana saya harus berbicara di depan orang banyak, rasa cemas, deg-degan, gelisah kerap kali melanda diri saya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, latihan dan terus latihan, dan berulang kali harus tampil di depan orang banyak, satu demi satu kesalahan dapat diatasi. Intinya adalah terus latihan !! Dan sebenarnya berbicara di depan umum itu bukanlah sebuah bakat, setiap orang mampu dan bisa berbicara dengan percaya diri dan lancar seiring dengan latihan yang terus dilakukkan.

Saya ingin berbagi sedikit ilmu yang pernah saya dapatkan sepanjang saya kuliah, yang sedikit banyak berkaitan dengan berkomunikasi khususnya berkomunikasi di depan publik.

Let’s start!!!!^_^

PUBLIC Speaking (PS) secara harfiyah artinya berbicara di depan umum, utamanya ceramah atau pidato. Secara luas, PS mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas. Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face. Dapat disimpulkan Publik speaking adalah proses berbicara kepada sekelompok orang secara sengaja serta ditujukan untuk menginformasikan, mempengaruhi, atau menghibur pendengar. Seni dan ilmu publik speaking khususnya di lingkungan yang kompetitif di Amerika Utara, juga dikenal sebagai forensics. Kata forensik adalah sebuah kata sifat yang berarti “perdebatan umum atau argumen.” Kata tersebut berasal dari bahasa Latin forensis, yang berarti “dari forum.”Jadi terdapat keterkaitan antara dua pengertian tersebut.

Dalam melakukkan salah satu seni berkomunikasi tersebut harus diperhatikan lima unsur yang sangat berpengaruh, yakni :

  1. Pengirim pesan (sender),
  2. Pesan yang dikirim (message),
  3. Bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau medium),
  4. Penerima pesan (receiver) dan
  5. Umpan balik (feedback).

Ke lima unsur tersebut harus sangat diperhatikan, dasar yang digunakan untuk mendukung ke lima unsur tersebut adalah berbagai macam hukum-hukum dan teori-teori komunikasi yang ada. Beberapa hukum komunikasi antara lain :

  1. Hukum pertama dalam berkomunikasi secara efektif, khususnya dalam berbicara di depan publik adalah sikap hormat dan sikap menghargai terhadap khalayak atau hadirin. Hal ini merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain, termasuk berbicara di depan publik. Kita harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai hadirin kita. Kita harus ingat bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaaan orang tersebut.
  2. Hukum kedua adalah empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam berbicara di depan publik, kita harus terlebih dulu memahami latar belakang, golongan, lapisan sosial, tingkatan umur, pendidikan, kebutuhan, minat, harapan dan sebagainya, dari calon hadirin (audiences) kita. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima.  Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu dalam berbicara di depan publik, kita perlu siap untuk menerima masukan atau umpan balik dengan sikap positif.
  3. Hukum ketiga adalah audible. Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Audible dalam hal ini berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui medium atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.
  4. Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan (clarity). Selain bahwa pesan harus dapat diterima dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh hadirin, akan membuat pidato atau presentasi kita tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity dalam public speaking, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan dalam presentasi atau pembicaraannya.
  5. Hukum kelima dalam komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika kita berbicara di depan publik. Justru dengan kerendahan hatilah kita dapat menangkap perhatian dan respon yang positif dari publik pendengar kita.

Kelima hukum komunikasi tersebut sangat penting untuk menjadi dasar dalam melakukan pembicaraan di depan publik. Terdapat pula beberapa tips atau kiat-kiat untuk public speaking yang saya adaptasi dari buku Say It Like Shakespeare, karangan Thomas Leech.

  • Persiapan, hal yang paling penting dalam persiapan kita untuk berbicara di depan publik adalah membangun rasa percaya diri dan mengendalikan rasa takut dan emosi kita. Bahkan banyak pakar komunikasi yang mengatakan bahwa persiapan mental jauh lebih penting daripada persiapan materi atau bahan pembicaraan. Meskipun demikian, persiapan materi juga sangat mempengaruhi kesiapan mental kita. Kesiapan mental yang positif merupakan syarat mutlak bagi kita dalam berbicara di depan publik. Pastikan juga bahwa anda beristirahat dan tidur yang cukup menjelang waktu anda berbicara di depan publik dan majulah dengan sikap optimis dan sukses. Berikut adalah hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam menyampaikan pesan kepada publik: Kualitas suara kita merupakan faktor kunci yang menentukan apakah hadirin memperhatikan kita maupun pesan yang kita sampaikan. Pastikan bahwa suara anda cukup keras dan jelas terdengar bahkan oleh hadirin yang duduk paling jauh dari anda sekalipun. Jika tersedia, selalu gunakan pengeras suara (loudspeaker), meskipun anda merasa suara anda sudah cukup keras. Cobalah dengan berlatih mendengarkan suara anda sendiri. Caranya dengan menutup mata, berbicaralah, kemudian perhatikan kualitas, kekuatan dan kejelasan suara anda. Suara kita merupakan aset kita yang paling berharga dalam berkomunikasi secara lisan. Oleh karena itu memelihara kualitas suara dan berlatih secara kontinu merupakan keharusan jika kita ingin menjadi pembicara publik yang sukses. Jika suara kita kurang bagus dan sumbang, kita dapat mencari pelatih suara profesional atau mengikuti kursus atau pendidikan (seperti misalnya di Institut Kesenian Jakarta) untuk meningkatkan kualitas suara kita. Apalagi misalnya anda bercita-cita jadi presenter, pembicara publik, MC dan sebagainya. Anda harus benar-benar memperhatikan kualitas suara anda. Bahasa dan kata-kata yang kita gunakan merupakan faktor kunci lain yang menentukan kemampuan komunikasi kita. Bahasa yang baik dan tepat dapat membantu memperjelas dan meningkatkan kualitas presentasi atau pembicaraan kita. Oleh karena itu perlu sekali bagi kita untuk memperhatikan kata-kata dan bahasa yang kita pilih. Pikirkanlah kata-kata yang akan anda gunakan, karena kemampuan berbahasa yang buruk akan tercermin pada kualitas penyampaian pesan kita. Hindari menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Jika anda salah mengucap, cukup anda ulangi sekali lagi kalimat tersebut dengan benar. Penampilan adalah kesan pertama. Jadi kita harus pastikan bahwa pada saat kita maju atau berdiri untuk berbicara, hadirin atau audiens kita memperoleh kesan yang baik terhadap kita. Pastikan bahwa penampilan kita membawa pesan yang positif, dan kita kelihatan lebih baik dan merasa lebih baik. Gunakan pakaian yang sesuai dengan suasana pertemuan, dan sesuai dengan jenis pakaian yang digunakan oleh para hadirin lainnya.
  • Komunikasi Non-verbal, yang dimaksud dengan komunikasi non-verbal adalah: kontak mata, ekspresi wajah, penampilan fisik, nada suara, gerakan tubuh, pakaian dan aksesoris yang kita gunakan semuanya memberikan efek atau pengaruh yang cukup besar terhadap penyampaian pesan kita. Para hadirin akan kebingungan ketika bahasa tubuh kita misalnya berbeda dengan bahasa verbal yang kita ucapkan. Biarkan tubuh kita berkomunikasi juga dengan audiens kita. Bahasa tubuh kita sebagai pembicara atau pengirim pesan dan bahasa tubuh pendengar atau audiens kita dapat membantu atau menghalangi proses komunikasi. Jika hadirin duduk dengan sikap seperti mau tidur atau menunjukkan wajah bosan, berarti kita harus mengubah suasana atau cara kita menyampaikan pesan.
  • Persiapan Mental, dalam membangun kesiapan mental kita dalam berbicara di depan publik, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengurangi ketegangan fisik dengan cara melakukan senam ringan (stretching). Karena kita tidak dapat menurunkan ketegangan mental sebelum kita mengendorkan otot-otot tubuh kita yang tegang. Seperti yang dikatakan oleh psikolog Amerika yang terkenal Dr. Richard Gillett, It is almost impossible to go into alpha without considerable muscular relaxation. Hampir tidak mungkin masuk ke kondisi alpha (kondisi gelombang otak atau mental yang relaks) tanpa mengendorkan otot-otot tubuh. Biasanya saya memegang ujung kaki sambil berdiri membungkuk selama sepuluh detik. Kemudian tarik napas yang panjang dan dalam, tahan beberapa detik, kemudian keluarkan napas pelan-pelan. Selanjutnya anda bisa batuk sekali atau minum segelas air putih untuk mempersiapkan vokal anda. Cara lain yang efektif untuk membangun kesiapan mental adalah dengan datang ke tempat pertemuan lebih awal. Dengan demikian kita dapat mengetahui suasana dan keadaan terlebih dahulu. Selanjutnya kita bisa mencari dukungan (back up support) dari orang-orang yang kita kenal maupun kenalan baru serta dari mereka yang mengharapkan kita sukses dalam presentasi nantinya. Mengobrollah dengan mereka sebelum presentasi dimulai.

Berikut adalah beberapa prinsip dalam mempersiapkan mental sebelum berbicara di depan publik:
1. Berbicara di depan publik bukanlah hal yang sangat menegangkan. Dunia tidak runtuh jika anda tidak melakukannya dengan baik. Tidak akan ada hal yang buruk yang akan terjadi setelah presentasi atau penyampaian anda. Jadi tenang dan relaks saja.
2. Kita tidak perlu menjadi orang yang sempurna, cerdas ataupun brilian untuk berbicara di depan publik.
3. Siapkan 2-3 poin pembicaraan atau pertanyaan, karena audiens anda akan sulit untuk mengingat atau memperhatikan lebih dari tiga hal dalam satu waktu.
4. Kita harus memiliki tujuan atau sasaran yang jelas dan terarah.
5. Kita tidak perlu menganggap diri kita adalah seorang pembicara publik. Tujuan kita adalah menyampaikan pesan (message) kita kepada hadirin
6. Kita tidak perlu harus dapat sepenuhya menguasai seluruh hadirin. Biarkan saja kalau ada beberapa yang tidak menaruh perhatian. Fokuskan perhatian kita pada mereka yang tertarik dan mendengarkan presentasi kita.
7. Kita harus ingat bahwa sebagian besar hadirin menginginkan kita berhasil dalam presentasi atau penyampaian pesan kita.

SO…SIAPA TAKUT BERBICARA DI DEPAN PUBLIK!!!!!!^_^

Semoga bermanfaat yahh….

NB : Literatur didapat dari kegiatan perkuliahan saya di Ekstensi Komunikasi Humas Universitas Indonesia

4 Comments

Filed under Komunikasi & Humas, Tips & Trik

Ten Laws of Human Communication

  1. It’s not what our message does to the listener, but what the listener does with our message, that determines our success as communicators.
  2. Listeners generally interpret messages in ways that make them feel comfortable and secure.
  3. When people’s attitudes are attacked head-on, they are likely to defend those attitudes and, in the process, to reinforce them.
  4. People pay most attention to messages that are relevant to their own circumstances and point of view.
  5. People who feel insecure in a relationship are unlikely to be good listeners.
  6. People are more likely to listen to us if we also listen to them.
  7. People are more likely to change in response to a combination of new experience and communication than in response to communication alone.
  8. People are more likely to support a change that effects them if they are consulted before the change is made.
  9. The message in what is said will be interpreted in the light of how, when, where and by whom it is said.
  10. Lack of self-knowledge and an unwillingness to resolve our own conflicts make it harder for us to communicate with other people.

Hugh Mackay

Why Don’t People Listen ?

2 Comments

Filed under Komunikasi & Humas