Category Archives: Jalan-jalan

Jalan-jalan Penuh Pelajaran


-Mereka tertawa dan terus tertawa, menikmati hidup yang sebenarnya tak layak di mata saya. Tapi mereka terus tertawa dan bahagia-


-Saya berada di tengah-tengah mereka, berusaha untuk tertawa seperti mereka. Berusaha untuk menikmati hidup seperti mereka-


-Warung kecil tempat mereka jajan dan menghabiskan uang. Jajanan murah meriah dan entah apakah bersih atau tidak. Bukan seperti saya dan kalian, jalan-jalan di mall menghabiskan banyak uang yang setara dengan penghasilan bulanan mereka-


-Nenek Tua berusia 85 tahun itu tinggal disendiri. Langkah kakinya terasa berat namun Ia tetap bahagia karena Ia tahu “anak-anaknya kini telah sukses di luar sana”-


-“Ka..foto lagi, foto lagi Ka!” Teriak mereka penuh canda tawa, senyum dan bahagia-


-Mereka tidak pernah bermimpi apa-apa. Cukup bisa makan hari adalah suatu anugerah terindah-


-Saya sama seperti mereka dan mereka pun sama seperti saya. Apa yang membedakan saya dan mereka? Saya terlahir lebih beruntung dibanding mereka dan mereka terlahir untuk selalu bisa bersyukur, tidak seperti saya-

Jalan-jalan saya yang paling mengesankan.
Beberapa hari saya habiskan waktu bersama mereka dengan mencoba berempati dan merasakan hidup seperti mereka.
Hati ini hanya bisa menangis namun muka tetap tersenyum.
Betapa indahnya tawa dan senyum mereka.
Mereka tak pernah mengeluh, mereka terus menjalani hari mereka dan selalu bersyukur dengan apapun yang mereka punya.
500 ribu cukup untuk hidup 6 anggota keluarga dalam sebulan. Sedangkan saya dan kalian mungkin sekejap mata uang itu lenyap.
Indomie 3 bungkus pun sudah menjadi sesuatu yang luar biasa untuk mereka.

“Pelajaran apa Tuhan yang Kau berikan kepada saya ?”

Pelajaran untuk sesekali melihat “ke bawah” dan berhenti sejenak membanding-bandingkan orang yang ada di atas saya.
Pelajaran untuk lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang.
Belajar untuk tidak mengeluh, untuk tidak menyalahkan Tuhan, untuk tidak merasa bahwa diri saya adalah orang yang paling menderita di dunia…
Kali ini saya kalah, saya kalah dengan mereka.
Kalah dengan “mereka” yang tidak memiliki apa-apa tapi mereka memiliki “bahagia di dalam hati mereka”.

Hidup untuk bersyukur…
Hidup untuk berbagi…
Hidup untuk merasakan bahagia…
Dan hidup untuk tidak menyalahkan Tuhan untuk apa yang saya miliki sekarang…

Kali ini saya kalah!
Tapi saya akan menang karena saya telah mengetahui satu hal “uang bukanlah jaminan kebahagiaan”

Belajar bersyukur dari orang-orang yang tidak seberuntung saya…
Dan,
Belajar untuk tetap bersemangat meraih mimpi dari orang-orang yang lebih jauh beruntung dari saya…
Itulah keseimbangan hidup yang berusaha saya terapkan.

Saya hidup adalah untuk menghidupkan “kehidupan”…

Leave a comment

Filed under Jalan-jalan

Foto-Foto Liburanku Bersama Sahabat

Liburan yang sangat mengesankan ^_^.
Berikut kronologisnya, kali ini hanya berupa gambar yah. Tulisannya menyusul yah…
Silahkan menginterprestasikannya sendiri dulu…hihi

Lets Start…

Untuk foto pas keberangkatan awal tidak ada, karena kita jalan dengan dua mobil yang terpisah…

Foto pertama,

Berhenti sejenak untuk menunaikan kewajiban…

Foto kedua,

Inilah alat transportasi yang Kami gunakan, Double Xenia…

Foto ketiga,

Akhirnya sampai juga, disebuah saung untuk menyantap makan siang…

Foto keempat,

Bersiap untuk rafting namun terlebih dahulu mendengarkan instruksi dari yang ahli…

Foto kelima,

Tos!!! Untuk memulai rafting Kami…

Foto keenam,

Tim dibagi menjadi dua, ini adalah Tim Biru yang beranggotakan Saya, Inggita, Galih, Syafril dan Gera…

Foto ke tujuh,

Tim kedua adalah Tim Kuning yang beranggotakan Indri, Ratih, Nanto, Amy dan Ridwan…

Foto kedelapan,

Tim secara keseluruhan yang siap bertempur dimedan perang “Palayangan River”…

Foto ke sembilan,

Latihan di air yang tak berarus, “kanan kuat, kiri kuat…instruksi yang selalu dilontarkan oleh ketua Tim”…

Foto kesepuluh,

Keadaan Tim Biru ditengan sungai yang berarus deras…

Foto kesebelas,

Gaya Tim Kuning yang tidak mau kalah…

Foto keduabelas,

Berhenti sejenak untuk beristirahat dan berfoto-foto…

Foto ketigabelas,

Akhirnya selesai juga, pengalaman pertama “Bermain dengan Alam – Rafting”…

Foto keempatbelas,

Akhirnya tiba di tempat kita bermalam…

Foto kelimabelas,

Menjelang malam yang terasa sangat dingin meski berada didalam ruangan…

Foto keenambelas,

Facmy Muh. Fajri tepat berulang tahun di tanggal 19 September 2010…

Foto ketujuhbelas,

Bermain kembang api untuk merayakan hari ulang tahun Amy…

Foto kedelapanbelas,


Jalan pagi mengitari persawahan dan melihat pemandangan yang begitu luar biasa indah dan sangat menakjubkan, sambil membeli bahan untuk sarapan…

Foto kesembilanbelas,

Masak…Masak Nasi goreng sambil siap-siap bergegas pulang…

Foto keduapuluh,

Akhirnya, selesai juga berbenah, waktunya untuk ke tempat selanjutnya dan kembali ke Depok…

Foto keduapuluh satu,

Inilah Villa yang kita diami beserta keluarga yang empunya rumah. Keluarga bahagia…

Foto keduapuluh dua,

Selamat datang di tempat wisata Kawah Putih…

Foto keduapuluh tiga,

Berjalan menuju tempat pembelian tiket…

Foto keduapuluh empat,

Beli tiket masuk. Untuk hal ini bagian Ibu Inggit..hehe, Pak Galih numpang foto terus neh.hehe…

Foto keduapuluh lima,

Menuju Kawah putih menggunakan alat transportasi umum “Ontang-anting”…

Foto keduapuluh enam,

Didalam Ontang-anting, 20 menit perjalanan menuju Kawah Putih…

Foto keduapuluh tujuh,

Sampai juga, Indahnya dan dingin sekali, serta bau belerang yang membuat nafas sedikit terganggu dan mata perih. Tapi tetap “luar biasa menakjubkan”..

Foto keduapuluh delapan,

“Mereka” teman-teman terbaikku yang selalu memiliki semangat yang luar biasa…

Foto keduapuluh sembilan,

Hasil jepretan Galih, indahnya pemandangan disana…

Foto ketigapuluh,

Hehehe…sayang kalau saya tidak narsis disana;p, untuk kali kedua saya berkunjung kesini…Thx untuk fotonya yah…

Foto ketigapuluh satu,

On the way turun, kali ini duduk di depan tepat disamping supir Ontang-anting….

Foto ketigapuluh dua,

Kali ini mobil yang saya tumpangi tidak berhenti di tempat pemetikan strawbery, hanya mobil satunya yang singgah…

Foto ketigapuluh tiga,

Berkunjung ke KPBS Pangalengan untuk membeli susu^^…

Foto ketigapuluh empat,

Kejadian yang tak diduga, kunci mobil tertinggal di dalam. hehe…

Foto ketigapuluh lima,

Beli susu, ternyata susu strawbery enak yah rasanya, setelah sekian lama saya akhirnya “mau” mencicipinya…

Itulah perjalanan liburan saya selama dua hari…^_^

The Last,

7 Comments

Filed under Jalan-jalan

“Pulau Lombok” Tak Sepedas Seperti Namanya

27-30 Juli 2010

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya menghabiskan beberapa hari di pulau eksotik ini. Mungkin ini adalah hadiah Tuhan untuk kerja keras saya selama semester IV. Sebetulnya bukan liburan atau jalan-jalan, lebih tepatnya adalah kerja. Yups.. Saya dipercayakan oleh salah satu dosen saya Ibu Henny S. Widyaningsih untuk membantu Beliau melaksanakan sebuah acara rutin tahunan Kemenenterian Komunikasi Informasi (Kominfo) yaitu AMH (Anugerah Media Humas) 2010. Acara yang berlangsung pada tanggal 28 Juli 2010, dengan kata lain ada waktu dua hari bebas untuk menikmati indahnya Pulau Lombok (waktu yang tidak lama dan tidak sebentar juga). Bersyukur untuk empat hari tak terlupakan…^^

Lombok…

JYI, merupakan sebuah pulau di Kepulauan Sunda Kecilatau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah Barat dan Selat Alas di sebelah Timur dari Sumbawa, dimana 80% penduduknya adalah Suku Sasak (Suku Bangsa yang masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi sebagian besar memeluk agama Islam). Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-anmulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan mereka sudah kembali. Pada tahun 2007 sektor pariwisata adalah satu-satunya sektor di Lombok yang berkembang.

Itu dia sekilas tentang Lombok…^.^

Selasa 27 Juli 2010 tepatnya malam hari adalah jadwal penerbangan saya menuju Lombok, pesawat seperti biasa delay sekitar satu jaman. Cuaca di Jakarta-Lombok dan sekitarnya pada hari itu sedang tidak baik alhasil penerbangan saya di delay. Saya pergi ke Lombok dengan rombongan Komenterian Komunikasi Informasi serta tiga teman saya lainnya (Tya, Resty dan Aldi) namun saya dan Resty kurang beruntung karena kami harus terpisahkan dari rombongan dengan menggunakan flight di malam hari. Persiapan berkas-berkas dan kelengkapan acara yang membuat saya dan Resty kewalahan pada hari itu ditambah dengan berita-berita mengenai cuaca di Lombok yang sedang tidak baik. Yups..kami hanya  bisa berdoa agar penerbangan kami baik-baik saja. Dan puji Tuhan akhirnya kami sampai di pulau Lombok tepatnya Kota Mataram dengan selamat walau sepanjang perjalalanan pesawat yang kami tumpangi beberapai kali mengalami goncangan (mungkin karena angin yang sangat kencang).

Setengah jam waktu yang saya tempuh dari Bandar Udara Selaparang ke Santosa Villas & Resort tepaynya di Jl. Raya Senggigi. Saat tiba di hotel saya sudah tidak asing, karena sebelumnya saya sudah mencari tahu hotel yang akan saya tempati di Mr. Google. Saya tiba tepatnya pukul satu malam waktu NTB, satu jam berbeda dengan kota Jakarta. Saya langsung menaruh barang-barang saya di kamar dan langsung mengerjakan tugas-tugas untuk acara besok paginya bersama teman seperjuangan saya Tya, Aldi dan Resty.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 waktu setempat dan saya masih beraktifitas. Saya mencoba untuk memejamkan mata beberapa menit, akhirnya satu jam lebih saya bisa mengistirahatkan badan saya. Cuaca di Lombok tidak jauh beda dengan tempat tinggal saya di Depok, malah dapat dikatakan udara yang saya rasakan sedikit panas dan lembab sehingga membuat badan saya agak lengket.

Pukul 6 saya sudah bersiap-siap, mandi, mengurus ini dan itu, mencari baju batik sebagai tema baju pagi sampai dengan sore hari.  Ini…itu…Saya kerjakan dan saya cari. Cukup lelah karena saya harus menggunakan sepatu high heels. Saya bertugas menjaga stand display barang-barang (Penerbitan Internal, Marchendise, Company Profile seluruh peserta AMH 2010 yang berasal dari Lembaga Kementerian, Perguruan Tinggi Negeri, BMU dan Lembaga Pemerintah Derah. Dengan total peserta sekitar 160). Senyuman dan sapaan tak pernah putus terlontarkan untuk setiap tamu yang datang. Kartu nama banyak saya terima dari berbagai humas-humas yang ikut serta dalam acara tersebut. Pengalaman yang belum saya dapat sebelumnya, berkenalan dengan orang-orang baru yang menggeluti bidang humas, seperti Humas Universitas Indonesia Vishnu Juwowno. Saya beberapa kali diminta untuk menemani para tamu menggambil gambar dengan background stand yang saya jaga. Dari orang Jawa, Kalimantan, Sumatera saya temui disana dengan logat bahasa meraka yang cukup unik dan bervariasi. Saya pun terus mengabadaikan setipa moment yang khas untuk dokumentasi saya pribadi. Rasa lelah tak begitu terasa karena perasaan saya yang cukup happy mendapatkan banyak hal-hal baru. Sampai tiba akhirnya sekityar pukul 4 acara selesai dan saya bersiap untuk acara puncak di malam harinya.

Kepala saya terbagi-bagi, dari A sampai dengan Z. Harus selesai segala sesuatunya untuk malam puncak AMH 2010. Tepat pukul 6 semuanya telah beres, tinggal mempersiapkan diri saya (tampil dengan baju adat Bima). Saya dimakeup, disanggul, menggunakan baju adat Bima yang berwarna kuning keemas-emasan, mengenalan asesoris kalung dan anting. Tampak sangat sempurna seperti wanita Lombok^.^hehe, tiga teman saya yang lainnya mengenakan baju adat yang berbeda-beda yang tidak kalah uniknya dari baju yang saya kenakan. Kata yang tepat untuk menggambarkan kami berempat adalah “Mantabbbb”^.^

Acara berjalan lumayan lancar (hehe…..tetep gak pernah ada yang sempurna di setiap kerjaan yang dilakukan oleh tangan manusia), sampai dengan pukul 11 semua telah beres. Setelah itu saya ganti baju, berpenampilan layaknya remaja normal kembali (remaja??serasa masih muda aja..;p) dan bersiap untuk keluar mencari makanan sambil menikmati suasana malam hari di pulau Senggigi. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam namun sepanjang jalan masih terlihat ramai, pemandangan yang saya lihat adalah “bule-bule” dengan perawakan tinggi, kulit yang sangat putih, dan rambut pirang seperti boneka barbie yang saya miliki. Akhirnya saya dan empat teman saya yang lainnya (oh ya..bertambah satu lagi teman baru saya yaitu Dhika, Mas Dhika saya memanggilnya) memilih sebuah tempat makan yang terlihat sangat ramai dari luar jalan, suara musik yang sangat kencang dan suasana yang sedikit remang-remang. Kami mendapatkan meja diluar sehingga tidak terlalu ramai. Saya beberapa kali menengok kearah dalam, disana penuh dengan orang-orang yang sedang menikmati musik yang sangat mengundang badan untuk bergoyang. Wowww….gak jauh beda sama keadaan Kemang di Jakarta deh.hehe;p..Tidak terasa kami menghabiskan waktu cukup lama dan jam ditangan saya telah menunjukkan pukul 3 pagi.

Malam ke dua saya mengistirahatkan badan saya di Santosa Hotel, dan lagi-lagi  saya hanya sempat memejamkan mata sekitar satu-dua jaman. Sata tidak sabar menunggu pagi hari karena saya ingin melihat pemandangan pantai dibelakang hotel yang saya tempati (meski sudah dua hari saya belum sempat menikmati indahnya Pantai Senggigi). Seperti biasa saya selalu bangun lebih awal dibanding teman saya yang lainnya, saya bergegas mandi dan langsung melangkahkan kaki berputar-putar mengitari hotel tempat saya bermalam.

Wwowww…..pantai Senggigi yang begitu bersih, berisikan air laut yang berwarna biru kehijau-hijauan. Perahu dan kapa-kapal uang berserakan ditengah-tengah pantai yang terlihat sangat bebas. Saya menginjakkan kaki dipasir putih dan meninggalkan jejak langkah tanpa arti disepanjang tepi pantai Senggigi. Seorang diri saya menikmati udara pagi, melihatnya indahnya arak-arakan awan yang menyatu dengan garis tepi pantai yang tepat didepan pandangan mata saya. Sungguh saya tidak berarti apa-apa disini, karya Tuhan memang tidak ada tandingannya. Bersyukur saya pernah menginjakakn kaki dipulau ini. Ternyata Pulau Lombok tak sepedas seperti namanya, Pulau Lombok sangat berkesan manis didalam ingatan dan hati saya.

Saya balik ke kamar untuk membangunkan teman-teman saya, sebetulnya tidak tega membangunkan mereka. Saya melihat kelelapan dan wajah yang begitu tenang. Tapi mau tidak mau mereka harus bangun untuk melanjutkkan aktifitas kita selanjutnya “mengunjungi tempat-tempat yang menjadi ciri khas kota Lombok”.

Let’s start….

Saya beserta empat teman saya lainnya dan Dosen saya memulai perjalanan kami dengan terlebih dahulu singgah di rumah makan Ibu Diah untuk menyantap makan khas kota Lombok ayam taliwang (bumbu taliwang merupakan bumbu khas masakan Lombok, bumbu yang terasa pedas, asam namun sedikit terasa manis) dan sayur kanggung yang dicampur dengan tauge serta dilengkapi dengan parutan kelapa seperti “urap” dan sirami dengan sambal yang bumbu dasarnya lebih banyak tomatnya ketimbang cabainya. Kami makan sangat lahap, saya menghabiskan tiga piring nasi..hehe;p seperti biasanya. Oh ya ada yang unik dari salah satu makanan yang saya santap “sayur asam”, sayur asam kali ini cukup unik karena terdapat tomat yang begitu banyak serta kembang kol dan kangkung. Lidah saya merasakan rasa “nano-nano” karena campuran sayur-sayuran yang cukup banyak.

Perut telah terisi lalu kami lanjut ke tempat penjualan mutiara. JYI, Lombok merupakan daerah penghasil mutiara, ini merupakan salah satu mata pencaharaian masyarakat Lombok. Saya singgah di sebuah toko bernama “Lombok Pearl Collection”, disana terdapat ratusan mutiara yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga telah dapat digunakan sebagai asesoris wanita (gelang, kalung, cincin, liontin,dll). Dari harga termurah Rp 90.000 sampai dengan Rp 150jt. Oh ya sekedar informasi, mutiara yang saya temukan di Lombok terbagi menjadi dua macam yaitu mutiara laut dan air tawar. Mutiara tersebut terbentuk karena air liur yang dihasilkan oleh kerang dan yang membuat mutiara itu bebentuk bundar atau lonjong adalah nukleus (inti sel) yang disuntikkan kedalamnya. Warna asli mutiara hanya terdapat tiga macam yaitu putih, merah muda, dan sampen. Dan hal yang perlu kita tahu untuk membedakan asli atau tidaknya mutiara adalah dengan menggosokkan keduanya, apabila terasa kesat seperti pasir dan tidak meninggalkan goresan maka mutiara itu asli dan sebaliknya. Cantik sekali mutiara-mutiara itu, sayangnya saya tidak membeli satupun karena kantong kosong..hehe;p (kidding..)

Tempat ke dua adalah toko tempat berbelanja oleh-oleh. Terdapat baju-baju yang berciri khaskan kota Lombok, kain-kain, sendal, dll.Semua sibuk dengan belanjaannya masing-masing dan saya paling cepat selesai berbelanja. Maklum saya hanya berbelanja sedikit. Cukup murah harga-harga ditoko tersebut, Rp 200rb yang saya keluarkan ditukarkan dengan dua kantong pelastik yang berisikan bermacam oleh-oleh. Cukup puas saya berbelanja^.- Disela saya menunggu teman saya yang lainnya, saya memperhatikan setiap mobil lebih tepatnya plat mobil. Plat mobil di Lombok adalah DR , dan hampir seluruh mobil disana memiliki plat mobil yang unik, saya sempat melihat plat mobil DR LOGAM dan plat-plat unik lainnya. Saya menanyakan hal tersebut kepada tour guide saya dan ternyata benar dugaan saya bahwa masyarakat Lombok selalu ingin membuat mobil miliknya dikenal oleh semua orang dengan plat yang mencirikan dirinya, malah banyak yang rela membeli mobil di Jakarta untuk memperoleh plat yang unik dan langka.

Next destination adalah Toko Mutiara di daerah Desa Sekarbela Gg. Al-Jabar tepatnya (Desa yang terkenal toko-toko mutiaranya). Sepanjang jalan, kanan kiri saya adalah toko mutiara yang bentuknya serupa. Saya tiba sudah malam hari sehingga banyak toko yang sudah tutup. Di tempat ini harga cenderung lebih murah dibanding toko pertama yang saya kunjungi. Lagi-lagi kami kembali menghabiskan uang kami.hehe;p

Ternyata mutiara itu mampu dijadikan berbagai macam asesoris, gak kalah cantiknya dengan berlian. Dengan harga yang lebih murah dari berlian (jauh sekali bedanya) namun wanita tetap bisa tampil cantik yang sama dengan menggunakan ke duanya.

Yupss…”Cantik itu tidak mahal ternyata”

^_^

Waktu sudah larut malam dan kami melanjutkan perjalanan pulang. Lelah dan ngantuk semua campur aduk. Namun tetap sama, saya sangat menikmati perjalanan saya hari ini. Malam ini ditutup dengan makan malam disebuah rumah makan atau bisa disebut dengan “Happy Cafe”. Tempat makan kali ini sangat nyaman dengan diiringi suara khas penyanyi Lombok kami menyantap makan malam kami. Badan kami sambil sedikit bergoyang mengikuti alunan musik dengan lagu-lagu yang sudah tidak asing ditelinga kami. Yupss…ini adalah malam terakhir di Lombok. Saya terus menikmati malam terakhir ini di Lombok dengan terus menatap sekeliling saya dan merasakn sejuknya angin malam.

* The Last Night at lombok

Sehari penuh menghabiskan waktu di pulau Lombok, dan tidak terasa besok sudah harus pulang kembali ke Jakarta. Namun cerita belum selesai karena besoknya saya masih sempat berputar-putar di Pulau Lombok.

Pagi hari saya tiba di Hotel yang berbeda “Holiday Inn”, letaknya tidak jauh dari hotel saya sebelumnya. Pagi hari saya kembali menimati dinginya pasir putih dan pemandangan pantai yang begitu indah. Setelah puas memandangi pantai Senggigi dan bemain dengan ombak-ombak, saya bergegas bersiap-siap untuk berenang (saya sangat menyukai renang karena setelah renang saya mampu  menikmati dan bersyukur atas nafas dan kesehatan yang saya miliki^.^). Kali ini renang saya sangat berbeda karena saya berenang ditemani dengan orang-orang “bule”..hehe, mereka mengenakan baju renang yang sangat terbuka dan berjemur dibawah sinar mentari. Yaaa….badan saya kini lebih hitam, mungkin badan terhitam yang pernah saya miliki.hehe;p (cantik tidak selalu putih koq ya?;p..membela diri.hehe).

The Last Day..

Bergegas pulang, mengemas barang-barang dan siap melaju ketempat selanjutnya “kediaman sanak keluarga Dosen saya”. Perjalanan cukup jauh sekitar satu jaman lebih, sepanjang jalan saya memandangi kanan kiri saya, pemandangan yang sama seperti saat saya ingin pergi ke Jogja dengan menggunakan kendaraan pribadi. Di mobil kami bersenda gurau, bernyanyi, tertawa. Inilah hal yang terindah yang saya dapatkan di Pulau Lombok “keluarga baru”. Bersyukur sangat kalau saya masih diberikan kesempatan berkenalan dengan orang-orang baru yang mampu membuat saya tersenyum dan  tertawa sepanjang perjalanan saya ke Lombok.^_^ Sampai juga saya di sebuah rumah yang berhalamankan yang sangat kuas dimana ditengah-tengahnya terdapat sebuah saung dan disitulah kami disajikan berbagai makanan khas Lombok. Semilir angin menemani santap siang kami dan perbincangan hangat kami.

* Di sebuah saung

Waktu sudah menunjukkan pukul satu, akhirnya kami memutuskan untuk singgah di satu tempat terakhir yaitu Mata Air  Narmada. Konon katanya nama mata air tersebut diambil dari nama salah satu mata air di India. Di dalam tempat wisata tersebut terdapat Kolam Patma Wangi yang merupakan tempat selir-selir mandi dan saat selir mandi Raja melihat dari kejauhan. Dan kami menunggu “Pedande” yang akan mengantarkan kami ke tempat mata air yang konon katanya jika kita membasuh muka kita dan meminum air dari mata air tersebut maka kita akan awet muda^.^ Akhirnya Pedande datang dan kami harus menggunakan selendang emas atau kuning yang harus diikatkan dipinggang kami. Jantung saya cukup berdebar dengan sangat kencang saat saya harus menginjakkan kaki saya masuk kedalam mata air tersebut yang terdapat di dalam sebuah bangunan kecil. Yupsss….semua serba kuning dan terdapat kolam kecil dimana mengucur air yang sangat jernih, itulah mata air yang nantinya saya harus membasuh muka saya dan meminum air dari pancuran tersebut. Kami diminta untuk memanjatkan doa dan permohonan disana. Pertama saya harus membasuh muka saya tiga kali  dengan arah dari dagu bawah sampai dengan atas kepala saya, setelah selesai saya mangambil sebuah gelas. Pertama saya ambil air yang nantinya digunakan untuk membasuh gelas yang akan menjadi tempat saya meminum air tersebut.  Setelah itu akhirnya saya meminum air tersebut dengan hati yang berdebar-debat.(heheee…;p) Saya memanjatkan doa sederhana untuk “kesehatan saya”.

* Di dalam Mata Air Narmada

*Tampak Depan Mata air Narmada

Itulah tempat terakhir yang saya kunjungi. Pemandangan yang begitu indah yang mampu menutup perjalanan saya dengan senyum dan ucapan syukur yang teramat sangat.

*Mata Air Narmada tepat dibelakang kami adalah Kolam Patma Wangi

Empat hari di Pulau Lombok meninggalkan banyak kesan..Logat masyarakat setempat yang sanagt halus dan sopan, makanan yang rata-rata sangat pedas, keadaan jalan yang sangat beda dengan Jakarta, pantai yang sangat bersahabat, semilir angin yang selalu mengibaskan rambut pirang saya, suara obak yang masih terngiang sampai dengan saat ini…

Akhirnya tiba juga di Bandar Udara Selaparang, dan kali ini saya menggunakan flight yang berbeda dan dengan waktu yang berbeda pula. Pukul 5 waktu setempat saya sudah berada di dalam pesawat. Kali ini saya kurang beruntung karena saya mendapatkan tempat duduk yang berbeda dengan teman saya yang lainnya. Pada awalnya saya sempat mengeluh tapi ternyata saya sangat beruntung. Saya satu baris dengan orang Korea. Sepasang pengantin baru yang mengahbiskan honeymoon mereka di Pulau Lombok. Saya mencoba mengingat nama mereka, Kim Young San adalah nama teruntuk laki-laki Korea itu dan untuk wanita Korea agak terdengar samar-samar namun kalau boleh saya tebak namanya Toung (entah bagaimana tulisannya, saya tidak mengerti. Saya pun berulang kali melafalkan nama tersebut namun selalu salah dimata mereka.hehe;p). Meraka sangat ramah, mereka berbagi cerita selama menghabiskan waktu di Lombok. Dengan bahasa Inggris yang terbatas saya mencoba untuk mengikuti alur perbincangan meraka dari makanan kesukaan mereka (nasi goreng dan sate ayam), anak pertama yang masih ada didalam kandungan (mereka menikah sudah lama namun baru sempat berbulan madu dibulan ini), pekerjaan mereka sampai dengan membahas tempat kuliah saya Universitas Indonesia. Sungguh perbincangan yang menyenangkan, kami tertawa dan bertukar cerita sampai dengan bertukar account Facebook dan tidak lupa saya mengabadikan kebersamaan kita^.^

*New friends of mine

Finally…..

Tiba juga di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta dengan selamat.^_^

Benar-benar perjalanan yang sangat menyenangkan..

Terima kasih banyak untuk Ibu Henny S. Widyaningsih serta Tya Tirtasari, Hanindya Restiningtyas, Aldi Ramadhan, dan Handhika Satrio Ramdhan untuk kebersamaan yang sangat mengesankan selama di Pulau Lombok…

Pelajaran selama perjalanan ke Lombok :
“Gak ada yang mustahil bagi manusia yang percaya akan kebesaran Tuhan”
Seperti saya yang mungkin takkan pernah mampu dengan uang sendiri berlibur ke Pulau lombok, tapi ternyata Tuhan memampukan saya dengan apa yang saya miliki dan saya telah kerjakan sebelumnya…

17 Comments

Filed under Jalan-jalan, Tulisan Dyan

Sekarang Laut Adalah Sahabat Saya

*Pulau Tidung

Kata pertama yang ada dalam bayangan Saya saat teman Saya “Tatah” mengajak untuk berlibur ke Pulau Tidung adalah “menyeramkan”. Yups…Saya takut air dengan kedalamannya (walau saya hobi berenang – karena renang hanya ditempat yang kecil, tidak ada ombak dan tidak terlalu dalam-). Yang ada dibayangan Saya adalah naik kapal yang sederhana ditengah-tengah lautan luas tanpa ada batas dan ujung, dengan ombak-ombak yang sedang menari liar tanpa mengenal musuh dan kawan, serta hewan-hewan laut yang liar tanpa ada pawang yang mengendalikan. Itulah ketakutan Saya yang luar biasa…

Kali ini ketakutan Saya dikalahkan oleh rasa “keingintahuan” akan keindahan salah satu Pulau di Kepulauan Seribu yang sering dibicarakan orang. Kali ini Saya harus membuktikan “Apakah seindah itu Pulau yang didalamnya terdapat Jembatan Cinta?”. FYI, di Kepuluan Seribu terdapat banyak Pulau, bukan hanya Pulau Tidung yang baru bulan Januari kemarin menjadi tempat wisata atau Pulau Bidadari dan Pulau Pramuka yang sudah sering para wisatawan kunjungi, tapi banyak Pulau-pulau lain seperti Pulau Air (Pulau yang akhirnya Saya kunjungi), Pulau Sepa dimana tour guide Saya berkata inilah Pulau dengan biaya akomodasi termahal karena biasa dikunjungi oleh orang-orang Jakarta kelas atas (kelas atas masuk tour guide Saya apa yah??hehe), Pulau Kelor dimana terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng yang dibangun oleh VOC untuk menghadapi serangan Portugis pada abad ke 17, serta ada Pulau Onrust atau yang biasa disebut Pulau Kapal, dan terdapat pula Pulau Untung Jawa yang terletak ditengah-tengah kepulaun seribu dan terdapat hutan bakau yang masih asri. Yah..itulah sekilas tentang keanekaragaman Pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu, masih banyak Pulau lainnya yang tidak habis Saya bicarakan melalui tulisan (hehe..bilang aja males nulis..;p). Namun sayangnya hanya Pulau Tidung (Tidung besar dan Tidung Kecil) dan Pulau Air yang sempat Saya kunjungi, sebetulnya seh “tidak sayang” karena walau hanya dua pulau itu ketakjuban Saya sudah amat sangat hebat.

Let’s start..

Saya berserta tiga belas teman Saya lainnya Tatah, Dwi, Uni, Endah, Novi, Aan, Ivan yang merupakan teman satu komplek Saya, serta  Anggy, Nabila dan Dwi yang merupakan teman SMA Saya dan empat teman baru yakni Romi, Ayu, Miky, serta Hakim yang lebih tepatnya adalah “teman dekat Tatah”, tepat tangga 9 Juli 2010 pagi dini hari berangkat menuju Muara Angke dengan mengunakan angkot merah yang berkapasitas 13 orang (Anggy, Dwi dan Nabila berangkat langsung dari kediaman Nabila).  Satu jam perjalanan tak terasa dan sekitar pukul tujuh Kami tiba di Muara Angke, tempat kapal yang mengantarkan Kami ke Pulau Tidung berlabuh. Tiga teman SMA Saya sudah tiba sejam sebelumnya, terlalu pagi untuk tiba.hehe,,alhasil deringan HP dari bunyi dering BBM, tlp, sms silih berganti berbunyi hanya untuk menanyakan “udah dimana lo?” suara cempreng Anggy yang terdengar sampai di telinga teman disamping  Saya, Mba Endah (panggilan Mba yang terbiasa Saya lontarkan) . Walau sepanjang jalan kita tidak yakin arah jalan menuju Muara Angke akhirnya Kami sampai juga. Yups…baru pertama kali Saya menginjakkan kaki disana, jalanan yang becek, bau amis, dan keadaan riuh itulah yang saya rasakan. Maklum Muara Angke adalah salah satu pelabuhan kapal ikan atau nelayan tempat pelelangan ikan-ikan.Kami bersebelas berjalan kaki sampai dengan pom bensin tempat berkumpul para wisatawan. Banyak sekali orang, ternyata tidak hanya kami berempat belas yang ingin ke Pulau Tidung tapi ada mungkin sekitar 200-300 orang yang ingin pergi ke pulau di Kepulauan Seribu, entah Pulau Tidung, atau Pulau Pramuka atau Pulau Bidadari. Yang jelas Kami sama-sama ingin berlibur ke pulau. Akhirnya Saya bertemu tiga teman SMA Saya, perkenalanpun terjadi antara mereka, teman komplek Saya, dan tema kuliah Tatah. Saya sangat berharap semua mampu bercampur lebur tanpa membuat kelompok-kelompok (harapan kecil yang ternyata menjadi kenyataan)^.^nice guys!!

Pukul delapan, pukul sembilan, pukul sepuluh, sampai akhirnya pukul sebelas berlalu tanpa kepastian jam berapa kapal Kami akan tiba dan berangkat. Saya hanya bisa menikmati waktu dengan memperhatikan gerak-gerik orang disekeliling Saya sambil mengambil potret mereka. Ada yang sibuk mengangkat ikan-ikan dari kapal untuk dibawa dengan mengunakan gerobak, ada orang yang sedang lahap menyantap segelas pop mie (terlihat sekali bahwa Ia sangat lapar, maklum mungkin Ia berangkat subuh dari rumahnya sama seperti Saya.hehe..), Anggy yang terlihat sangat ngantuk karena telah lebih dulu meminum obat penghilang mabok, Nabila yang sedang asik foto-foto bersama Saya, Mba Uni yang mukanya sudah sangat lelah dan BT, dan ekspresi wajah lainnya yang unik dan berbeda-beda.hehe…Sungguh bukan pemandangan biasa, kapal-kapal berserakan didepan pandangan mata Saya, para wisatawan dari mata belok sampai mata sipit, dari kulit putih sampai kulit hitam, dari celana panjang sampai celana pendek para wisatawan kenakan. “SERU” pertama yang Saya rasakan walau hanya baru merasakan “riuhnya” Muara Angke.

Mr.R adalah travel yang kami gunakan (bagi yang mau CP nya bisa hubungi Saya, maklum semenjak satu minggu setelah saya menghabiskan dua hari saya disana, telpon silih berganti menanyakan tentang Pulau Tidung). Sedikit kekecewaan Saya rasakan, namun itulah manusia yang hanya mampu berencana namun Tuhan yang punya kuasa menentukan kejadian sesungguhnya (Kapal utama yang tidak dapat digunakan, sehingga Kami semua wisatawan harus menaiki kapal-kapal yang berkapasitas tidak sebanyak kapal utama yakni 400 orang). Akhirmya…..tiba juga kapal yang akan membawa Kami kepulau yang mampu membuat Saya tertantang untuk mengunjunginya. Ketakutan pun mulai tiba lagi, “naik Kapal, rasa mabok laut, ombak besar, badan tanpa pelampung”…wow, tiba-tiba jantung Saya berdegup dengan sangat kencang, namun Saya tetap menutupinya. Saya hanya mampu berdoa dan duduk paling depan (Kami mendapat tempat diatas kapal) sehingga pemandangan dapat Saya lihat dengan sangat jelas. Lautan biru terhampar luas…Indah dan sangat luar biasa mempesona!!!Di tengah kapal terdapat Bendera Merah Putih yang berkibar tertiup angin laut yang cukup kencang. Saya memberanikan diri untuk berdiri tegap dengan memegang tiang bendera, Saya serasa menjadi seorang pahlawan wanita yang sedang ingin berjuang mempertahankan kepulauan Nusantara tercinta (hehe…lebay;p). Ombak-ombak membuat badan Saya serasa melayang-melayang diudara, angin laut yang mengibaskan rambut Saya membuat mata sangat ingin terpejam karena sentuhan kelembutannya. Saya mengabadikan moment keberangakatn diatas kapal bersama teman-teman Saya, namun sayang, kebanyakan teman Saya memilih untuk tidur. Bagi Saya, sayang sekali menghabiskan waktu diatas kapal dengan tidur, Saya lebih memilih melihat keindahan lautan hijau beserta semilir angin yang menyejukan. Disela-sela perjalanan Saya berkenalan dengan mahasiswa Universitas Gajah Mada yang sedang ingin berlibur ke Pulau Pramuka (Saya sempat berfoto bersama mereka) dan kelompok wisatawan lainnya yang nota bene berumuran tidak jauh berbeda dengan Saya. Pengalaman yang luar biasa langka. Hilang seketika rasa takut Saya, inilah “SERU” kedua yang Saya rasakan, kali pertama Saya menaiki kapal dengan sebuah keberanian layaknya seorang pahlawan.

Akhirnya…….setelah kurang lebih tiga jam berada diatas kapal Saya dan teman-teman tiba di Pulau Tidung, tepatnya Pulau Tidung Besar (tempat pemukiman). FYI, Pulau Tidung layaknya sebuah komplek perumahan yang didalamnya terdapat rumah-rumah penduduk, terdapat pula Puskesmas, Sekolahan, Kantor Polisi dan kantor kelurahan (Pulau Tidung merupakan salah satu kelurahan di Kepuluan Seribu), serta terdapat warung-warung yang menjajakan jajanan dan makanan berat sampai makanan ringan dan hampir disetiap rumah terdapat pohon jambu yang sedang berbuah sangat lebat yang memapukan tenggorokan Saya menelan ludah beberapa kali. Kesan pertama Saya “biasa saja” saat pertama kali Saya menginjakan kaki di Pulau Tidung Besar, namun tunggu dulu cerita belum selesai..kesan Saya ternyata berubah seketika saat saya menyusuri jalan setapak  panjang yang mengantarkan Saya akhirnya disebuah jembatan panjang yang merupakan jembatan , penghubungn antara Tidung Besar dan Tidung Kecil. Pemandangan yang begitu indah, hamparan air yang berwarna sangat hijau saking jernihnya, jembatan yang terlihat berkelok-kelok jika dipandang dari kejauhan, luar biasa ciptaan Tuhan. Saya bersepeda sampai dengan jembatan yang akan membawa Saya ke Tidung kecil. Sepanjang bersepeda Saya nikmati udara sejuk walau jam masih menunjukan pukul dua siang. Saat tiba di rumah tempat saya bermalam, kata syukurpun terlontar karena Saya dan teman mendapatkan rumah yang besar, bersih dan tepat dibelakang rumah pemandangan yang indah Pulau Tidung. Lanjut bersepeda,  Saya jarang sekali bersepeda ketika Saya di rumah maklum gak punya sepeda..hehe;p. Ternyata asik sekali kegiatan bersepeda, apa lagi bersama teman-teman. Semua berlomba menggenjot sepeda, dari sepeda warna merah jambu seperti yang Saya taiki sampai dengan becak motor yang berbahan bakan solar. Celingak-celinguk Saya  perhatikan pemandangan kanan kiri Saya, sesekali sepeda Saya onggel karena asiknya Saya memandangi pemandangan yang begitu indah (padahal seh onggel karena gak bisa naik sepeda..hehe;p). Semua orang bersemangat bersepeda, sperti sedang ingin berlomba mendapatkan hadiah sebuah mobil mewah jika sampai paling pertama di tempat yang ditentukan. Akhirnya sampai juga ditempat parkir sepeda, semua sepeda Saya dan tiga belas teman saya lainnya diparkir seperti sepeda motor, dengan diikat denga tali rapia supaya tidak tertukar dengan kelompok wisatawan lainnya. Lalu kita jalan menyusuri jembatan dimana orang menyebutnya “jembatan cinta”. Oh ya terdapat satu jembatan yang cukup tinggi untuk melalui suatu cekungan laut yang agak dalam (sekitar 10 meter) dan disitulah orang-orang memperagakan loncat indah mereka (body jumping). Sempat tergerak hati untuk mencoba berpartisipasi meramaikan tontonan yang memacu adrenalin, tapi kali ini Saya kalah karena Saya tidak cukup nyali untuk melakukannya. Empat jempol untuk mereka yang berani ikut serta memperagakan loncat indah karangan pribadi mereka (dari anak kecil, pria, wanita sampai dengan teman Saya Nabila, Romi dan Miky). Sepanjang jalan kami tanpa kehabisan gaya berpose untuk mengabadikan keindahan pemandangan di kanan kiri depan belakang Kami layaknya model-model kelas internasional (Bisa dilihat di Face Book Saya). Ada sekitar tujuh buah kamera dan empat belas telpon berkamera mengabadiakn moment indah itu. Sampai tiba akhirnya Kami sampai di Pulau Tidung Kecil. Indah sekali….tanpa ada bangunan seperti di Pulau Tidung Besar, para wisatawan bebas memilih dan mengambil tempat yang paling pas untuk bermain air (pualu ini tanpa ombak) dan bersenda gurau. Yah…kekonyolan-kekonyolan Saya dan teman-teman Saya lakukan, dari  main pasir, main jorok-jorokan, sampai main ciprat-cipratan air yang rasanya sangat asin. Seketika itu semua masalah, penat hilang seketika, yang ada hanya rasa senang ria bercampur takjub. Inilah “SERU” ke tiga yang tidak kalah hebat  mengguncang rasa takjub Saya akan keindahan alam Pulau Tidung.


Setengah hari saya dan teman habiskan dengan melakkukan kegiatan yang berkaitan dengan air, dari naik kapal sampai bermain air di Pulau Tidung kecil. Kaki terasa sangat lelah dan badanpun terasa tidak seputih saat sebelum tiba (hehe…hitam sipa takut;p). Kami bergantian untuk mandi, badan penuh dengan pasir pantai yang putih dan agak terasa gatal dibadan. Makan malam pun tiba, sampai pada akhrinya Saya, Mba Uni, Tatah dan Mas Ivan memilih untuk kembali makan mencicipi bakso Mpok Tidung (hehe…memang Mpok yah panggilan untuk Ibu-ibu di Pulau Tidung?;p). Jalan kecil masih sangat ramai, orang masih banyak yang bersepeda walau sudah pukul tujuh malam. Akhirnya waktu istirahat pun tiba, banyak teman yang sudah nyeyak tidurnya (Anggy, Dwi, Nabila….tidur dengan pose ciri khas masing-masing..hehe). Kami disediakan empat buah kasur besar, setiap kasur teruntuk tiga orang alhasil ada dua orang yang tidur dilantai dengan menggunakan tiker, saya dan Hakim lah orang yang beruntung itu..hehe;p. Namun…seperti biasa Saya tidak akan bisa tidur ditempat baru, mata Saya masih terbuka, Saya memandangi teman-teman Saya yang sedang nikmat beristirahat. Akhirnya Saya pun memilih untuk tetap menghidupkan TV hingga akhirnya menonton Piala dunia dimana pada malam itu pertandingan untuk  memperebutkan juara ke tiga, pertarungan antara Jerman vs Uruguay (tadinya Miky dan Romi niatnya mau nonton bareng, eh.,..tapi mereka tidur duluan. Cupu!!!Tapi sempatlah nonton film-film horor yang membuat bulu kuduk Saya merinding beberapa kali..hehe). Sambil mata merem melek saking ngantuknya Saya mampu menyelesaikan tontonan satu pertandingan penuh yang sangat mendebarkan yang akhirnya gelar juara ke tiga piala dunia 2010 diraih oleh Jerman dengan skor akhir 3-2. Tidak terasa akhirnya Saya sempat tertidur hampir satu jam (Saya sangat beruntung sekali walau hanya satu jam) dan tepat jam empat pagi Saya terbangun. Saya masih melihat pemandangan yang sama “teman-teman yang masih nyenyak tidur dengan gaya ciri khasnya masing-masing” . Jam lima pagi Kami pun kembali siap menikmati hari terakhir Kami, hari terakhir yang akan diisi dengan kegiatan snorkeling ditengah Pulau Tidung Kecil dan Pulau Air. Ini adalah “SERU” ke empat, melihat lucunya wajah-waajh teman Saya yang sedang tidur, luar biasa karya Tuhan yang mampu menciptakan berbagai macam karakter fisik manusia (sempat termenung sejenak mensyukuri apa yang dianugerahkan kepada Saya).

Snorkeling….

Atau selam permukaan atau selam dangkal (skin diving) adalah kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel serta mengenakan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) untuk menambah daya dorong kaki saat berenang. Kami sebelumnya menaiki sebuah kapal kecil bermuatan sekitar 13-20 orang, selain saya dan tiga belas teman Saya terdapat pula tour guide Kami Mas Bayu dan dua orang yang Saya sebut dengan “anak pantai” (karena  Saya sempat berbincang-bincang dengan mereka, mereka dengan perawakan yang terlihat sangat kuat dengan badan yang sangat keras dan dengan kulit berwarna gelap berkata “KAMI TIDAK TAKUT LAUT DAN AIR”..kata-kata yang sangat bertolak belakang dengan diri Saya yang sangat takut dengan air yang berkedalaman). Kita mengguanakn baju pelampung sebelum menaiki kapal (baju ini dipakai untuk berjaga-jaga agar Kami tetap bisa bersahabat dengan laut yang akan Kami lalui). Kali ke tiga jantung Saya berdegup dengan sangat kencang, kali ini puncak ketakutan Saya. Bayangkan kapal kecil yang lebih kecil dibanding kapal saat Saya berangkat berada ditengah lautan yang beromabak sangat kencang (lebay…hehe,gak kenceng bgt seh..tapi tetap kencang “menurut Saya) maklum jam sudah menunjukkan pukul sembilan dimana semakin siang dan semakin sore ombak-ombak tersebut akan semakin besar (tidak termasuk ombak besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau selain Kepulauna Seribu). Saya hanya bisa berdoa dalam hati sambil memegang erat tangan Ayu, dimana sesekali ombak mengehempaskan perahu kecil Kami yang membuat posisi duduk saya selalu bergeser ke kanan kiri. Angin sangat kencang, keindahan yang lebih luar biasa dibanding saat Saya berangkat kemaren siang. Saya benar-benar bangga terhadap diri Saya (meski kata teman, Saya lebay) karena akhirnya Saya BERANI MENGALAHKAN SALAH SATU RASA TAKUT TERBESAR DALAM HIDUP SAYA yaitu “NAIK KAPAL DITENGaH LAUTAN YANG DALAM DAN LIAR”. Tiba juga akhirnya ditempat Kami bersnorkeling, dari atas kapal Saya telah bisa melihat ekosistem laut yang begitu nyata, yang biasanya hanya Saya lihat di foto-foto. Terubu karang dan tumbuhan-tumbuhan laut yang indah dan memamerkan keanekaragaman yang menakjubkan. Jantung saya kembali berdegup seketika Saya harus loncat turun dari kapal untuk langsung bersentuhan dengan air dan ekosistem yang ada. Rasa takut ada karena pemandangan yang tidak dapat dibohongi, ombak-obak yang mungkin akan membuat Saya terombang-ambing saat saya bersnorkeling nanti. Satu demi satu teman Saya turun dari kapal dan akhirnya Saya beranikan diri turun. Kaki Saya langsung lemas, saya merasakan ombak mengayun-ayunkan badan Saya, Saya ingin sekali berpeganagn namun teman-teman Saya yang lain sama-sama berusaha untuk menjaga dirinya masing-masing. Saya coba menenangkan nafas Saya dan coba menikmati setiap ayunan ombak-obak. Sekali dua kali saya memasukkan separuh kepala saya di dalam air, lebih jelas lagi terlihat ekositem laut yang ada. Memang benar kata orang “Pulau Tidung memang paling pas untuk dinikmati ekosistem lautnya dengan bersnorkeling” (kalau untuk diving Saya belum berani, habis snorkeling saja sudah takut apa lagi diving..hehe). sekitar setengah jam Kami habiskan di Pulau Tidung Kecil ini. Lalu Kami melanjutkan perjalanan untuk menuju Pulau Air, Pulau dimana semua orang memuji keindahaannya. Kali ini Saya tidak takut karena Saya mulai terbiasa dengan hempasan ombak. Lumayan setengah jam lebih akhirnya Kami sampai di Pulau Air. Kata pertama yang terlontar dari mulut Saya adalah “KEREN!!!!!!!!!!!!!” Perahu Kami melewati pepohonan (entah pohon apa namanya, seperti pohon cemara) , kanan kiri pohon yang sangat hijau dan sangat simetris layaknya satu deretan pohon yang sedang bercermin dan perahu Kami yang menyusuri cermin itu. Indah…..jernih….hijau….romantis!!!! Mata Saya tidak berkedip  beberapa menit, ternyata foto-foto yang Saya temukan di bapak Google tidak menipu . Ternyata memang benar adanya “panorama yang sangat indah yang dipamerkan oleh Pulau Air”, pulau dimana milik pribadi Bapak Ponco Sutowo (pengusaha terkenal yang merupakan pemilik dari Hotel Sultan yang sekarang disebut hotel Hilton, Bapak mertua Dian Satro kalau tidak salah.hehe..). Entah tak terbayangkan berapa harga Pulau seindah ini, pulau yang hanya didiami oleh orang yang bertugas merawat pulau tersebut. Saya berasa seperti terdampar disebuh pulau, karena tepat kapal Saya berhenti disalah satu pesisir pantai yang sangat kecil (kecilnya ini yang menambah indah pemandangan Pulau Air) berpasirkan pasir putih. Untuk kali ke dua kami menikmati keindahan ekosistem laut. Namun kali ini tidak seindah ekosistem sebelumnya. Kami disini lebih menikmati dengan berenang, berfoto-foto, dan bersantai-santai layaknya wisatawan asing berjemur dipinggir pantai Sanur Bali…hehe;p. Satu jam terasa sangat cepat, tidak terasa Kami harus segera pulang karena kapal untuk pulang akan berangkat pukul dua siang ini. Pulau…pulau….indah sekali Tuhan!!!!ini adalah hal “TERSERU” sepanjang liburan saya di kepulauan seribu.

Kembali pulang ke Depok..hehe

Kami mandi, beres-beres, dan sampai pada akhirnya duduk diatas kapal kembali.^^300 ribu yang tidak sia-sia.Terima kasih Tuhan…Terima kasih Pulau Tidung & Pulau Air…Terima kasih Tatah yang sudah repot-repot mengurus travel Kami..Terima kasih Teman semuanya!!!!!!!

Tak akan habis kata-kata jika Saya terus menuruti semua perasaan bahagia Saya untuk menuliskan semua pengalaman indah di Pulau Seribu. Tulisan ini hanya sepuluh dari ratusan pengalaman seru yang Saya dapat disana.

Segala puji syukur hanya untuk MU TUHAN, untuk segala kuasa dan kebesaran-MU atas hidup hambu—MU ini.

Leave a comment

Filed under Jalan-jalan, Tulisan Dyan

PRJ (Pekan Raya Jakarta), apa itu ??

Pernah denger kata “PRJ (Pekan Raya Jakarta)” atau “Jakarta Fair”?? Pasti udah gak asing lagi yah buat kalian terutama orang-orang jakarta. Ya…PRJ adalah pameran tahunan terbesar di Jakarta dimana acara tersebut dalam rangka memperingati Hari Jadi kota Jakarta yang tepat jatuh pada 22 Juni. Sebenernya seh PRJ udah lama banget diselenggarain tepatnya mulai daari tahun 1968 dan pencetus dari acara ini Bapak Gubernur Ali Sadikin, dan hebatnya gak pernah putus acara tersebut diselenggarakan. Jadi bisa dibilang sudah 42 kali PRJ meramaikan kota Jakarta. Fyi, Pemerintah DKI mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968 yang mengatur penyelenggaraan PRJ tersebut. So…resmi banget yah ternyata PRJ itu.^.-

Khusus Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair 2010 kali ini diselenggarakan sejak tanggal 10 Juni hingga 11 Juli 2010. Adapun tema Pekan Raya Jakarta 2010 seperti yang diungkapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo yakni Jakarta Fair 2010 turut memperkokoh perekonomian nasional.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun kota Jakarta ke-483 tahun 2010 ini mengusung tema sentral dengan keragaman kita bangun Jakarta sebagai kota jasa yang ramah lingkungan seiring dengan tema tersebut dapat dilaporkan Jakarta Fair tahun 2010 mengambil tema Jakarta Fair tahun 2010 turut memperkokoh perekonomian nasional”.

Ada yang berbeda dari agenda acara Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair 2010. Menurut penuturan Mahardi Saputra, Manager Promotion dan Sponsorship PT. JI.Expo, penyelenggara Pekan Raya Jakarta 2010, perbedaan PRJ kali ini yakni nonton bareng Piala Dunia di dalam area Pekan Raya Jakarta. Jadi PRJ ini turut meramaikan dan menyemarakkan pesta bola dunia.

Untuk yang sekarang ini yang special kita bebarengan dengan Piala Dunia, tentunya kita akan mempersiapkan itu. Dari Piala Dunia itu, kita punya 3 panggung untuk nonton bareng Piala Dunia. Dan di panggung utama, kita mempunyai 3 LCD screen dan didukung oleh sound sistem 3000 watt dimana itu kalau nonton bareng udah kaya di stadion aslinya. Karena yang datang, tiap malam, apalagi weekend sampai 150 ribu orang, jadi pas goal itu serentak teriaknya itu sampai bergetar itu area PRJ, itu seru sekali”.

Walau undah 42 kali diselenggarakan (percaya gak percaya) saya baru tahun ini (2010) dateng ke PRJ.hehe;p.. itupun gak disengaja. Biasanya cuman denger dari orang “Gila…PRJ rame banget!” sekarang sudah bisa ngerasain sendiri ramainya PRJ. Tepat tanggal 27 Juli 2010 untuk tahun ini diadain di Arena PRJ Kemayoran Jakarta Pusat,  (jauh dari rumah saya di Depok.hehe) saya dan teman-teman SMA saya  (Ratih, Galih, Amy, Yunus dan Indri) akhirnya mengunjungi “pesta akbar” kota Jakarta tersebut.

Bisa dibayangin kita berangkat jam setengah tiga dari Depok dan tiba disana sekitar jam setengah enam, mepet banget sama magrib. Wow….”macet” adalah kata pertama yang terlintas saat saya ditanya oleh teman saya seputar pengalaman saya ke PRJ. Lebih tepatnya macet setelah pintu keluar tol, ngantri untuk masuk ke pintu masuk PRJ –untung kali ini bukan saya yang nyetir;p thx to Galih dan Amy-.

Kita beruntung karena dapet parkiran tepat didepan pintu masuk pertama, (terdapat 7 buah pintu masuk untuk pengunjung, yakni Pintu A, Pintu D, Pintu F, Pintu G, Pintu L, Pintu I-1, Pintu K, dan Pintu 2). So…kita langsung tancappp beli tiket masuk sebesar Rp 20.000,- (harga untuk hari Jumat Sabtu dan Minggu, untuk hari selain itu hanya Rp15.000,-), nilai yang gak begitu besar yang dapat dijangkau oleh semua kalangan dan nilai yang selalu sama setiap tahunnya. PRJ dibuka setiap hari mulai pukul 15.30 hingga 22.00 pada hari biasa, dan mulai pukul 10.00 hingga 23.00 pada hari Sabtu dan Minggu. Kami diberikan karcis elektronik smart-card..Pemandangan pertama yang saya lihat adalah tulisan “Gambir Expo” yang merupakan pintu masuk ke dalam PRJ.

“Wow….Rame banget” kata pertama yang tercetus dari mulut saya. Gimana gak rame orang PRJ itu berisikan event pameran, promosi bisnis, pagelaran seni budaya, festival musik nonstop selama 32 hari penuh yang akan diramaikan oleh berbagai artis penyanyi dan band papan atas Indonesia diantaranya adalah Agnes Monica, Superman is Dead, Iwan Fals, Kerispatih, ST 12, Tony Q, Boomerang, Gigi, Sheila on 7, The Changcuters, TRIAD, Dewa, Andra & Backbone, Pas Band, The Upstairs, Maliq&D essential, Netral, Padi, Slank, Tipe-ex, Ungu, Cokelat, Nidji, Godbless dan Naif, dimana acara tersebut merupakan terbesar di Indonesia. Jyi, PRJ tersebut diikuti oleh 2.500 perusahaan yang terdiri dari 1.500 stand, 27 propinsi, dan ratusan pengusaha kecil serta koperasi dari seluruh Indonesia. Dan untuk kalian tahu seluruh area yang dipergunakan untuk PRJ adalah 44 hektar, mencakup 13 zona pameran dan sarana prasarana lain seperti tempat parkir dengan kapasitas lebih dari 9.000 mobil dan 25.000 sepeda motor, masjid, danau, dan lain-lain. Panitia menyediakan musholla di setiap hall yang digunakan untuk pameran. Arena PRJ Kemayoran juga memiliki lebih 63 titik toilet dan 30 titik toilet portabel untuk pengunjung PRJ 2010, dengan jumlah total urinoir mencapai lebih dari 800 buah. Wow….mantabbbb!!!!! Gak kebayang yah panitia dari acara ini…^^

Semua orang berbelanja, semua yang orang cari bisa di dapat disini. Semua merk helm, sepeda, barang elektronik, makanan… semuanya ada disini. Sayangnya waktu saya datang saya lagi gak punya uang.hehe. jadi gak beli apa-apa deh;p. Ya…cuman nyobain kerak telor (baru pertama kali juga lho saya makan kerak telor.hehe;p) Jyi, kerak telor adalah makanan asli daerah Jakarta (Betawi), dengan bahan-bahan beras ketan putih, telur ayam, ebi (udang kering yang diasinkan) yang disangrai kering ditambah bawang merah goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir. Ternyata enak lho “kerak telor”, apalagi makan sama nasi hangat dan ditambah saos sambal.hehehe;p

Pengalaman pertama yang menyerukan sekali, apa lagi ditambah teman-teman saya yang gokil habis. Kita serasa main ular tangga lho, kita saling berpegangan pundak belakang untuk menerobos jalan yang begitu padat oleh orang-orang, yupss…Indri teman saya yang menjadi lokomotif dari kereta-keretaan ular tangga kita.hehe..sampe ada neriakan kita lho “Wah….ada huru hara…..!!!!” saking kencengnhya kita jalan tanpa melihat siapa yang ada di depan dan kanan kiri kita.hehehe… seru banget memang. Ketemu teman lama aja sudah seru, ditambah datang ke acara yang super duper dahsyat tambah poll serunya^^hehe….

Ya,,,untuk kali pertama ke PRJ

Untuk kali pertama makan kerak telor

^.^

Satu pertanyaan yang ada benak saya saat itu “Berapa banyak yah orang yang ada di Arena PRJ Kemayoran ini?”. Saya mencari tahu dan ternyata khusus untuk hari sabtu minggu yang dateng berkisar antara 100 ribu sampai 200 ribu orang.

Ya…moment liburan sekolah juga menjadi faktor utama yang membuat PRJ ini semakin banyak pengunjungnya. Benar-benat dapat disebut “pesta rakyat” dan hiburan yang murah untuk warga Jakarta dari berbagai kalangan ekonomi. Entah berapa total transaksi yang berlangsung selama acara ini. Semoga tema Jakarta Fair tahun 2010 “turut memperkokoh perekonomian nasional” seperti yang dituturkan Bapak Fauzi Bowo dapat tercapai.

Ayooo…datang ke PRJ^.^

Saya sudah pernah lho, akhirnya,,,hehehe

Terima kasih Indri, Ratih, Amy, Galih, Yunus….^^

7 Comments

Filed under Jalan-jalan