Jalan-jalan Penuh Pelajaran


-Mereka tertawa dan terus tertawa, menikmati hidup yang sebenarnya tak layak di mata saya. Tapi mereka terus tertawa dan bahagia-


-Saya berada di tengah-tengah mereka, berusaha untuk tertawa seperti mereka. Berusaha untuk menikmati hidup seperti mereka-


-Warung kecil tempat mereka jajan dan menghabiskan uang. Jajanan murah meriah dan entah apakah bersih atau tidak. Bukan seperti saya dan kalian, jalan-jalan di mall menghabiskan banyak uang yang setara dengan penghasilan bulanan mereka-


-Nenek Tua berusia 85 tahun itu tinggal disendiri. Langkah kakinya terasa berat namun Ia tetap bahagia karena Ia tahu “anak-anaknya kini telah sukses di luar sana”-


-“Ka..foto lagi, foto lagi Ka!” Teriak mereka penuh canda tawa, senyum dan bahagia-


-Mereka tidak pernah bermimpi apa-apa. Cukup bisa makan hari adalah suatu anugerah terindah-


-Saya sama seperti mereka dan mereka pun sama seperti saya. Apa yang membedakan saya dan mereka? Saya terlahir lebih beruntung dibanding mereka dan mereka terlahir untuk selalu bisa bersyukur, tidak seperti saya-

Jalan-jalan saya yang paling mengesankan.
Beberapa hari saya habiskan waktu bersama mereka dengan mencoba berempati dan merasakan hidup seperti mereka.
Hati ini hanya bisa menangis namun muka tetap tersenyum.
Betapa indahnya tawa dan senyum mereka.
Mereka tak pernah mengeluh, mereka terus menjalani hari mereka dan selalu bersyukur dengan apapun yang mereka punya.
500 ribu cukup untuk hidup 6 anggota keluarga dalam sebulan. Sedangkan saya dan kalian mungkin sekejap mata uang itu lenyap.
Indomie 3 bungkus pun sudah menjadi sesuatu yang luar biasa untuk mereka.

“Pelajaran apa Tuhan yang Kau berikan kepada saya ?”

Pelajaran untuk sesekali melihat “ke bawah” dan berhenti sejenak membanding-bandingkan orang yang ada di atas saya.
Pelajaran untuk lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang.
Belajar untuk tidak mengeluh, untuk tidak menyalahkan Tuhan, untuk tidak merasa bahwa diri saya adalah orang yang paling menderita di dunia…
Kali ini saya kalah, saya kalah dengan mereka.
Kalah dengan “mereka” yang tidak memiliki apa-apa tapi mereka memiliki “bahagia di dalam hati mereka”.

Hidup untuk bersyukur…
Hidup untuk berbagi…
Hidup untuk merasakan bahagia…
Dan hidup untuk tidak menyalahkan Tuhan untuk apa yang saya miliki sekarang…

Kali ini saya kalah!
Tapi saya akan menang karena saya telah mengetahui satu hal “uang bukanlah jaminan kebahagiaan”

Belajar bersyukur dari orang-orang yang tidak seberuntung saya…
Dan,
Belajar untuk tetap bersemangat meraih mimpi dari orang-orang yang lebih jauh beruntung dari saya…
Itulah keseimbangan hidup yang berusaha saya terapkan.

Saya hidup adalah untuk menghidupkan “kehidupan”…

Leave a comment

Filed under Jalan-jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s