Ketika Harapan Itu Masih Ada

Beberapa hari ini kembali banyak pertanyaan mengisi pikiranku, pertanyaan yang biasa datang saat aku bingung mentukan pilhan. Pertanyaan yang selalu muncul saat aku tak tahu mana yang sebenarnya aku harapkan. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku terus berfikir di tengah kekosonganku dan ditengah kedataran hidup yang melanda hari-hariku.

Bahagia selalu ku rasa, tanpa ada hambatan kesedihan yang menyebrang jalan kebahagiaanku. Rasa cukup, puas selalu bisa aku terima dalam hati. Tak ada sedikitpun rasa untuk tidak mensyukuri segala hal. Rasa yang selalu membuatku merasa nyaman, dan ternyata inilah sebuah kesalahan. Lenyapnya obsesi, lenyapnya optimisme, lenyapnya ambisi, yang pas takarannya mampu membuat hari terasa lebih memiliki arti.

Untung, aku masih dapat merasakan hal ini. Rasa yang membuatku ingin keluar dari zona kenyamanan, rasa yang membuatku mampu menggoreskkan setiap sejarah di tahun-tahun kehidupan. Rasa ini kembali dengan berjuta harapan baru dan kembali mimpi mengisi setiap hembusan nafas yang enggan untuk mati saat ini.

Teryata betul, tak ada ujianpun membuat kita penuh ujian dan banyak ujianpun membuat kita ingin merasakan hidup tanpa ujian. Inilah sifat dasar manusia yang tak pernah merasakan “benar” dalam segala keadaan yang Tuhan berikan. Teriak dalam hati “ujian adalah jalan keluar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sempurna di mata Tuhan…!”

Tulisan ini membingungkan, jawaban dari setiap pertanyaan hanya mampu dijawab oleh yang menuliskan. Terlepas dari semua “kejelimetan” hanya satu yang dapat ku simpulkan “aku ingin hidup dengan terus dapat merasakan setiap campur tangan Tuhan melalui ujian-ujian yang selalu dapat ku selesaikan” bukan malah duduk termenung, meratapi, dan terus meratapi nasib yang selalu datar tampa gelombang.

Otak pun ingin dipanaskan, pikiranpun ingin selalu diajak bercengkrama untuk berdiskusi memecahkan permasalahan-permasalahan. Keinginan jiwa dan raga untuk terus menggoreskan sejarah adalah tujuanku untuk mampu membuat diri ini siap menghadap Sang Empunya.

Ternyata cinta sejati adalah doa

Ternyata teman terbaik itu adalah harapan

Ternyata sahabat terbaik adalah pengorbanan

Kehilangan “teman terbaik” membuatku terbangun dari tidur yang lelap dengan para “cinta sejati dan sahabat terbaik”, yang akhirnya bangun untuk kembali bersama mencatat sejarah kehidupan dengan tinta seorang “Dianita”, perempuan biasa yang ingin keberadaannya selalu menjadi istimewa bagi sekitarnya, wujud cinta dan kasih terhadap Sang Pencipta.

With LOVE,
Dianita Tiastuti
DIAN Communications
TOP 13 MasterChef Indonesia Season 2

1 Comment

Filed under Tulisan Dyan

One response to “Ketika Harapan Itu Masih Ada

  1. tulisannya emang njlimet, malah nyari2 jawaban atas ‘pertanyaan2’ yg tadi sempat teruraikan di awal, namun terjawab sudah kalau jawabannya hanya diketahui oleh seorang “Dianita” sang penulisnya. tapi mungkin makna yg dalem ini, cukup mengena di hati para pendamba harapan sejati😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s