Belajar Dari Yang Lebih Dulu

Saya sedikit mau sharing mengenai perbincangan saya dengan salah seorang rekan saya, yang baru saya kenal pada saat itu.

Singkat cerita..
Laki-laki berbadan kecil yang mengenakan jaket coklat di tubuhnya yang sudah mengalami lika-liku kehidupan selama 40th, menceritakan tentang kisah percintaannya.

Satu kalimat yang saya ingat “Saya gagal dalam mengambil keputusan hidup dan saya masih menyesal sampai sekarang”. Iya, Beliau menikahi seorang dokter lulusan universitas terbaik di Indonesia dan berparas sangat cantik (Beliau menunjukan fotonya), Ia tidak mencintainya. Ia hanya bangga.
Yang Ia cintai dalam hidupnya adalah wanita sederhana, lulusan universitas biasa-biasa saja dan dari jurusan yang tidak sehebat isterinya sekarang. Dengan segala kurang, Ia akhirnya memilih sang Dokter.
Ia menikahi seseorang yang Ia banggakan namun tidak Ia sayang. Itulah penyesalan terbesar dalam hidupnya, alhasil sampai dengan sekarang Ia tidak memiliki keturunan.

Miris saya mendengar seseorang yang sangat hebat, mengaku salah memutusukan hal besar dalam hidupnya dan Ia mengatakan “Aku belum bahagia dan aku masih terus mencari bahagianya”. Sangat kasihan, saya iba.

Poin negatifnya, Ia tidak tahu bahwa bahagia bukanlah dicari tapi “diciptakan”. Dan sia-sialah hidup ketika manusia terus berusaha mencari bahagianya. Padahal detik ini, kita mau bahagia atau tidak adalah “pilihan”. Dan Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-NYA walau terkadang yang Ia beri selalu kita rasa adalah buruk untuk hidup kita.

Anyway,
Poin plusnya adalah saya perempuan berumur 25 th yang sedang merencanakan sebuah pernikahan, tersentak hati untuk memilih pasangan yang akan membuat saya bahagia sepanjang hidup saya. Kenyataan sekarang, orang lebih melihat harta, kepintaran, jabatan, dan paras yang rupawan. Hal-hal yang sangat membuat seorang manusia bangga terhadap pasangannya. Sampai terkadang rasa bangga itu menutup hati seorang manusia akan cinta yang lebih tulus yang ada dihadapannya.

Saya tersadar, bahwa sesungguhnya yang manusia butuhkan adalah cinta, cinta di dalam hatinya, yang entah kenapa cinta itu ada. Cinta itu tanpa alasan, Ia datang tiba-tiba saja, dan tak terduga dengan siapa orangnya.
Tanyalah dalam hati “Apa kita betul mencintai pasangan kita atau kita hanya bangga karena memilikinya?”

Kalau boleh memilih, saya memilih untuk mencintai orang sederhana dan akhirnya bangga terhadapnya karena Ia membuat saya bangga dengan kelebihannya yang menutupi kurang saya dan kelebihan saya menutupi kurang saya.

Cinta..
Cinta itu memang buta, saya sangat setuju.
Tapi logikalah yang menuntun manusia dalam mencintai sesamanya secara “benar”.

The Last :
“Cintai seseorang yang bangga memiliki mu, karena kurang mu adalah lebih menurut matanya”

So, jangan pernah paksakan cinta.
Biarkan dia pergi saat kita tahu tak ada cinta dihatinya untuk kita.
Cinta bukan masalah kaya atau jelek, pintar atau bodoh, baik atau jahat. Cinta adalah anugerah yang ada di dalam hati dan Tuhan yang memberikannya.

2 Comments

Filed under Cinta, Hari-hari Dyan

2 responses to “Belajar Dari Yang Lebih Dulu

  1. lavesand

    keren bgt, ka diannnnnnn i love ur words ur story and you!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s