Guru

Saya memang punya keluarga, tapi tak sepenuhnya mereka yang mengajarkan saya. TK, SD, SMP, SMA, sampai dengan perguruan tinggi, saya temui sosok pengajar yang beraneka ragam rupanya.

TK, saya bisa mengeja setiap tulisan dengan terbata-bata. Saya bisa menghitung angka satu sampai dengan sepuluh. Saya bisa bernyanyi lagu riang gembira dan saya tahu beraneka ragam nama buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lain hal.

Sampai saya SD, saya pun bertemu dengan bapak ibu guru yang mulai mengajarkan sulitnya menaklukan pelajaran matematika dengan tambah kurang kali dan baginya. Mulai menghafal banyak teori-teori sederhana dan mulai tahu setiap alasan dibalik terciptannya sebuah hal. Dan di SD perkelahian-perkelahian kecil sesama teman banyak dileraikan oleh para guru yang mungkin “lelah” untuk meladeni kenakalan-kenalan kami.

Beranjak SMP, saya mulai mengenal PMR, Paskibra, Kimia, Fisika, Geografi, dan cabang-cabang ilmu IPS dan IPA. Sedikit membuat otak saya kewalahan untuk mengerti setiap hal. Namun cara “mereka” membuat saya akhirnya dapat menyelamai satu demi satu hal dan akhirnya mengerti walau nilai rapor tak semua bertuliskan angka sembilan atau delapan.

SMA, mulai penuh dengan permasalahan pelajaran. Mulai dari belajar reporoduksi manusia, bagaimana cara hewan dan tumbuhan berreproduksi, dan bagaimana angka-angka dalam matematika di rumuskan dalam berbagai teori yang kadang tidak masuk akal. Namun tetap semua bisa saya lewati, dengan cara pengajaran yang beraneka akhirnya saya bisa lulus tanpa harus mengulang.

Akhirnya, saya kuliah. Lebih spesifik lagi apa yang saya terima. Namun semua tetap sama, ada sosok yang tanpa lelah mengajarkan banyak teori, konsep, dan ilmu. Terkadang bukan hanya ilmu pasti namun juga ilmu-ilmu kehidupan. Bagaimana cara kita mengahragai satu sama lain, bagaimana cara bersaing yang sehat, bagaimana cara menghormati orang yang di atas kita, bagimana menjadi orang yang bukan hanya pintar namun kaya akan hati dan pengalaman.

Banyak..
Banyak sekali yang saya dapat yang mungkin tak pernah sebanding dengan uang SPP atau uang kuliah yang saya bayar untuk mengaji mereka. Pasti tidak akan pernah cukup, tapi meskipun demikian “pilihan untuk menjadi seorang pengajar” adalah hal yang mulia dimana sampai dengan sekarang “impian menjadi pengajar” masih ada di dalam hati saya.

Menjadikan orang lain pintar, menjadikan orang lain tahu, menjadikan mereka bisa “membaca dunia”.

Terima kasih Bapak Ibu guru.
Meski saya kini tlah jauh, doa yang terbaik selalu saya panjatkan teruntuk kalian yang saya sayang.

With love,
Dianita Tiastuti

Leave a comment

Filed under Hari-hari Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s