Orang Berubah Karena UANG

23 (dua puluh tiga) tahun adalah usia dimana orang sedang berlomba untuk mulai masuk ke dunia kerja, begitupun dengan Saya. Mencari lowongan sana-sini, inteview perusahaan ini dan itu. Begitulah yang Saya dan teman-teman Saya lakukan di usia-usia sekarang.

Namun seperti tulisan Saya sebelumnya, akhirnya Saya memilih kerja untuk diri Saya sendiri bukan untuk perusahaan orang yang akhirnya menggaji Saya dengan sejumlah uang.

Lagi-lagi UANG yang selalu dibicarakan oleh banyak orang. Ada satu hal yang miris yang Saya rasakan sekarang. Banyak teman-teman Saya diusianya sekarang telah memiliki jabatan dalam pekerjaannya, telah berpenghasilan di atas rata-rata, tidak dapat dihitung menggunakan jari. Bangga sekali menjadi teman mereka.

Namun…
Banyak hal yang berubah (ini hanya apa yang rasakan dan benar atau tidak lagi-lagi ini hanya sebuah ungkapan), teman-teman Saya berubah karena UANG dan pekerjaan.
Perubahan yang baik dan buruk, yang memiliki definisi berbeda di setiap masing-masing kita. Sebetulnya Saya takut untuk mengutarakan ini, karena Saya takut di mana akhirnya ada waktunya saya mengalami hal yang sama seperti mereka.

UANG menjadikan mereka orang yang tidak sederhana seperti sebelumnya. Menghamburkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya dapat dibayar oleh nominal yang lebih kecil. Seperti contohnya, beragam HP Balckberry yang sedang beredar dari murah sampai mahal, kebanyakan orang memilih untuk selalu mengikuti trend terbaru dengan mengikuti harga yang termahal, padahal fungsinya tetap sama sebatas “bbm-an, browsing, dan sejenisnya”. Lagi-lagi ini hanya pendapat Saya. Prinsip manusia memang beda, ada yang memang berusaha untuk selalu exist dan menjadi yang beda dengan menampilkan hal-hal yang Ia punya, dan ada juga yang memang sederhana. Lagi-lagi itu pilihan masing-masing kita.

UANG juga akhirnya membuat banyak orang rela tidak tidur semalaman hanya untuk bekerja, tanpa menyadari anugerha-anugerah sederhana yang Tuhan berikan (kesehatan, keluarga, dan waktu) yang kerap kali saat itu direnggut kesederhanaan itu berubah menjadi sebuah bencana yang besar. Memang perlu sekali kerja keras dan banting tulang, tapi lagi-lagi bagi Saya banyak hal yang harus kita pikirkan selain pekerjaan yang menghasilkan uang. Bayangkan saja saat kita benar-benar menomer satukan pekerjaan untuk mengejar target kekayaan, melupakan keluarga, sahabat dan lingkungan. Di tengah-tenang nyawa direnggut oleh Tuhan, apa yang kita dapatkan ? Uang ? Kenikmatan ? Tidak, kita hanya meninggal dalam keadaan kita dibutakan oleh pekerjaan. Tidak satu pun yang tahu kita hidup sampai kapan, lagi-lagi kita harus sadar akan banyak anugerah lain yang Tuhan berikan dan percayakan yang seharusnya memang harus kita jaga. Keluarga, sahabat, dan sesama. Anugerah-anugerah yang memampukan kita membayar kebahagiaan tanpa butuh mengeluarkan UANG.

Yah…kita memang hidup butuh UANG. Tapi tak selamanya UANG membuat kita bahagia.

Banyak orang berlibur ke luar negeri, dan Saya hanya berlibur misal ke pulau dewata Bali. Namun Saya tetap dapat merasakan bahagia saat Saya pergi dengan orang-orang yang terkasih.

Banyak orang tinggal di rumah-rumah mewah dan megah, dan saya hanya tinggal di komplek perumahan di pedalaman. Namun Saya tetap merasakan bahagia dengan keluarga yang Saya cinta karena tetap bisa terlindung dari panas dan hujan.

Banyak orang memiliki satu bahkan lebih mobil mewah, dan saya hanya mengendarai mobil dengan harga yang relatif tidak terlalu mahal. Namun Saya tetap merasakan bahagia, karena Saya tidak merasakan panasnya sengatan matahari dan dapat mengajak banyak orang untuk bepergian bersama Saya.

Banyak orang makan di restoran mahal, dan Saya hanya makan di rumah dengan masakan rumahan yang dibuat oleh tangan sendiri. Namun Saya tetap merasakan bahagia karena Saya bisa masakan bersama keluarga yang tanpa ada batasan waktu dapat bersenda gurau tanpa harus memikirkan berapa harga yang harus dibayar.

Banyak lagi…
Dan lagi-lagi ini tidak dapat diperdebatkan karena prinsip kita memang beraneka ragam dan tujuan hidup masing-masing kita berbeda.
Namun satu hal yang selalu Saya doakan “semoga Saya tidak menjadikan UANG sebagai penentu kebahagiaan”.

*Terinspirasi dari salah seorang sahabat Saya yang sangat sederhana walau Ia memiliki harta yang sangat berlimpah.

3 Comments

Filed under Motivasi

3 responses to “Orang Berubah Karena UANG

  1. Ikhsan Fakhri

    Nice Writing Dian, satu hal yang ingin saya sampaikan saat ini… saya pernah merasakan hal-hal yang dirasakan orang-orang pada umumnya terbelit masalah keuangan bahkan ada situasi yang mengharuskan saya Menghasilkan materi lebih dari pengeluaran yang saya lakukan. Saya bahkan tidak peduli mau lelah atau sakit nantinya, yang terpenting saya bisa dapat uang banyak…

    Hingga ada satu peristiwa, yang mengantarkan saya pada UNTUK TIDAK SERAKAH, keadaan saya drop bahkan terkulai di atas kasur untuk beberapa hari disaat tersebut saya berfikir “Ooh Allah, i spent much time for work… then i spent much for the recovery, DAMN!” tidak hanya itu ternyata saya tidak sengaja merusak Notebook rekan saya mau ndak mau harus diganti! disaat tersebutlah KESEHATAN serta KEHATI-HATIAN DALAM HIDUP mulai terasa penting ketimbang uang! ha ha ha ha

    sejak saat itu saya belajar satu hal, Time Management dan “Work not only hard but Smart” sangat dibutuhkan! #sharing

    • Wow..Ikhsan thank u so much for sharing:D
      Aku semakin tambah meyakini apa yang yang aku prinsipi.

      Yah…Time management adalah pemecahan dalam permasalahan itu. Semoga kita pun bisa semakin seimbang dalam menjali hidup ini ya. Sehingga kt gak akan pernah menyesal dengan hidup yg 1x ini.

      Sekali lg thx yah:)

  2. Ikhsan Fakhri

    sama-sama Dian! keep health and Smart always!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s