Kartini Dimata Seorang Dianita

Sepanjang hari ini di televisi sebagian besar menghadirkan sosok kartini di era sekarang. Mungkin saat Saya ditanya “Siapa Kartini bagi diri Saya?” Tanpa berfikir panjang Saya akan menJawaban dengan lantang “Mamah Saya”.

Kenapa akhirnya Beliau yang merupakan Kartini di mata Saya.

Yang pertama, jelas sangat “Beliau mempertaruhkan hidup dan matinya untuk melahirkan Saya ke dunia, serta mengandung 9 bulan dengan merasakan mual dan perasaan-perasaan lainnya.”

Yang kedua, berhubung Papah Saya sering tugas ke luar kota jadi Mamah lah yang lebih sering menghabiskan waktu bersama Saya. “Beliau mampu bukan hanya sebagai seorang Ibu tapi juga seorang Ayah”. Beliau mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan Pria seperti mengecet dinding, naik ke atas genteng untuk memperbaiki listrik atau genteng bocor, menjadi antar-jemput Saya dan ade2 Saya dari mengendarai motor sampai dengan mobil, dan melakukan apapun tanpa bantuan seorang Pria.

Yang ketiga, “Beliau mampu membuat anak-anaknya betah di rumah dan menjadikan rumah tempat ternyaman buat anak-anaknya.” Beliau mampu memasak berbagai jenis masakan, mampu melakukan pekerjaan rumah dengan apik dan rapi, mampu menjahit baju saat baju Saya rusak ataupun membuatkan Saya baju ketika kecil.”

Yang keempat, walau seorang Ibu rumah tangga Beliau “selalu tahu pengetahuan tentang dunia.” Banyak hal yang Beliau ketahui, dari membaca sampai dengan menonton berita.

Yang kelima, Beliau seseorang yang sangat tulus dan setia mencintai Papah Saya, walau ditinggal bertahun-tahun Beliau tetap setia. Beliau tulus berkorban untuk Papah, Saya, dan adik-adik Saya.

Yang keenam, Beliau mengajari Saya indahnya melakukan hal-hal dengan ketulusan dan keikhlasan. Tanpa pamrih dan iming-iming di belakang.

Yang ketujuh, Beliau mengajarkan Saya untuk menjaga kecantikan dan keindahan sosok seorang Perempuan, makhluk Tuhan paling sempurna. Dengan selalu tampil cantik di manapun Beliau berada sekalipun di rumah. Merias wajahnya dengan make up sederhana, memakai pakaian yang sepantasnya dan pas hingga akhirnya membuat Beliau enak dipandang mata, rajin olahraga untuk terus menjaga bentuk badannya. “Menjaga anugerah Tuhan yang luar biasa atas dirinya.”

Yang kedelapan, “Beliau selalu membuat Papah Saya terlihat sempurna.” Beliau yang dengan setia mencarikan dan menyiapkan pakaian dan segala perlengakapan lainnya, yang membuat Papah Saya terlihat gagah dan awet muda. Beliau yang mengingatkan Ayah Saya untuk makan yang sehat dan olahraga secukupnya. Dan Beliau selalu tampil mengangumkan saat di bawa kemanapun Papah Saya berada, Beliau membuat Papah Saya terlihat semakin sempurna dengan kehadirannya.

Yang kesembilan, Beliau selalu dapat menghargai Papah Saya dan sadar akan kodratnya yang adalah dipimpin oleh Pria.

Yang kesepuluh, Beliau mengajarkan kepada Saya bagaimana mencitai Tuhan dengan cara yang benar. Dan hidup dengan cara yang benar. Serta rendah hati dan peduli terhadap sesama terutama orang-orang yang kekurangan.

Dan Yang terakhir, Beliau tak pernah meneteskan air mata di depan Saya dan adik-adik Saya. Beliau selalu ingin meyakinkan kepada Kami “bahwa Ia selalu baik-baik saja.” Dan doa yang tak pernah terucap adalah hal yang membuat Saya bisa seperti sekarang.

Bangun pagi, mobil Saya sudah bersih mengkilap, di atas meja makan sudah tersedia sepiring buah, segelas jus, dan roti bakar bawang margarin. Sampai dengan malam hari Beliau tidak akan beranjak tidur sebelum Saya berada di rumah dengan utuh. Dan Beliau selalu marah saat Saya melakukan hal yang salah. Beliau tegas, Beliau akan memuji saat pekerjaan Saya benar-benar patut dipuji, dan Beliau akan marah saats kepercayaannya sudah mulai dilanggar oleh anak-anaknya.

Tak habis-habis Saya menceritakan segala kelebihan mengenai Sosok Kartini di mata Saya. Karena Beliau akhirnya Saya bisa seperti sekarang “Tahu bahwa setiap saat Saya harus bisa mandiri, harus terus mengembangkan diri, dan tahu kodrat Saya sebagai perempuan yang bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan benar.”

Bahagia sekali Papah Saya memiliki Kartini seperti Mamah…
Dan Saya bangga mempunyai Mamah sepertinya…
Dan Beliau yang banyak menginspirasi hidup Saya…

Semoga cerita Saya menginspirasi semua kita yang adalah Perempuan.
Bangga menjadi pendamping adam di dunia…

So..
Siapapun kita (perempuan), apapun asal kita, apapun background pendidikan kita, apapun asal keluarga kita, dan walaupun kita bukan tokoh-tokoh seperti Ibu Sri Mulyani, Ibu Megawati, “Kita tetap bisa menjadi KARTINI untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita, untuk sahabat-sahabat kita, dan untuk orang-orang terdekat kita.”

Bukan Saya sombong dengan mencertitakan semuanya, Saya hanya ingin Kita semua (perempuan) masih terus bangga walau mungkin Kita hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa.

Bangga lah menjadi dirimu sendiri!

*Selamat hari Kartini

Leave a comment

Filed under Tulisan Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s