Mendengar Itu Lebih Baik

Hari ini Saya mengantar salah satu sahabat Saya ke rumah sakit. Sebut saja Dia Mr.Y. Mr.Y sedang meminta Saya untuk mengantarnya melakukan medical check up untuk keperluan kantornya. Dadakan sangat tapi untungnya Saya sedang tidak ada acara. Yah senda gurau, obrolan menjengkelkan sampai mengharukan antara Saya dengan Dia. Singkat cerita Saya pun tiba di salah satu rumah sakit yang berada di Depok, maklum Kami memang berdomisili di Depok. Mr.Y ini memberikan banyak inspirasi untuk Saya, Saya sudah menganggapnya sebagai kaka Saya sendiri. Untungnya Kami sudah kenal lama dan Saya pun dekat dengan calon isteri dan keluarganya.

Yah..akhirnya Kami pun tiba di rumah sakit. Saya menunggunya di lobby rumah sakit. Cukup beragam pengecekan kesehatan yang Dia ikuti, memakan waktu hampir satu jam lebih, maklum antrian pun banyak jadi harus menunggu giliran. Mengisi waktu Saya, Saya hanya cukup dengan sebuah alat komunikasi digenggaman Saya, yang membuat Saya mampu membaca dunia tanpa harus membayar tiket pesawat dan berkunjung ke semua negara-negara.

Namun tiba-tiba saat Saya sedang asik mengupadet twitter dengan menginfokan “cara pencegahan Kanker yang murah meriah” (bisa liat di twitter Saya) mendadak seorang Ibu yang masih muda namun dengan muka yang lesu duduk di sebelah kiri Saya. Seketika mata Saya bergeser dari telpon genggam Saya ke Ibu yang sangat terlihat sedang memikirkan sesuatu. Seketika pula Ibu itu menanyakan kepada Saya tentang beberapa hal, begini percakapan Saya dengan Ibu yang bernama sebut saja Mrs.X.

(Mrs.X melirik ketangan Saya, yang pada saat itu Saya hanya menggengam sebuah handphone, sebuah dompet, dan kunci mobil.)
Mrs.X : “Mba umurnya berapa ?”
Saya : “November ini umur Saya 24 tahun Ibu. Memang ada apa Bu ?”
(Tanpa menjawab pertanyaan Saya terlebih dahulu, Ibu itu langsung melontarkan pertanyaan keduanya.)
Mrs.X : “Mba kerja ?”
(Dengan bingung dan dengan alis naik ke atas, dan dahi berkerut, Saya langsung menjawab.)
Saya : “Saya sudah bekerja Bu.”
(Saya menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat yang lengkap, subjek, objek, dan predikat. Maklum, Saya baru mengikuti workshop Public Speaking yang dibawakan oleh Mba Dewi Huges. Bagaimana cara menjawab pertanyaan orang dengan benar.)

Mrs.X : “Oh…Mba bawa mobil kesini ?”
Saya : “Iya Ibu, Saya membawa mobil.”
Mrs.X : “Mba ngapain ke rumah sakit ?”
Saya : “Teman Saya medical check up Bu.”
Mrs.X : “Oh…pacar Mba maksudnya, atau suami Mba ?”
Saya : “Oh..bukan Bu, bukan pacar atau suami Saya, hanya teman Saya.”

(Dalam hati Saya bertanya, “koq Ibu ini tahu yah, Saya kesini dengan seorang laki-laki, mungkin dari jauh Ibu ini sudah memperhatikan Saya.” Perasaan curiga pun mengisi pikiran Saya, Tapi…kembali lagi ke pernyataan yang mengandung pertanyaan lebih tepatnya, “Oh…pacar Mba maksudnya, atau suami Mba ?”. Saya tertawa dalam hati, Saya belum punya pacar apa lagi suami. Seketika dalam hati Saya berdoa, “Cepatlah pertemukan saya dengan jodoh Saya Tuhan.” Tiba-tiba Ibu itu mengagetkan Saya, karena Saya asik bercengkrama dengan diri Saya sendiri.)

Mrs.X : “Mba enak banget yah, masih muda, cantik, sudah kerja, punya mobil pula, dan punya waktu luang untuk membantu teman Mba.”
(Dengan tampang yang memelas dan sedih, Ibu itu terus bercerita dan Saya hanya diam mendengarkan. Dan Saya pun sedikit kegeeran karena perkataannya yang mengandung pujian.)
Mrs.X : “Coba Mba bayangkan Saya, anak Saya sakit muntah-muntah sudah tiga hari. Dan Saya takut membawanya ke rumah sakit, karena Saya gak punya uang. Namun akhirnya Saya memberanikan diri untuk kesini. Suami Saya sudah meninggal, Saya cuman pembantu, dan Saya pun tadi naik angkutan umum untuk mengantar anak Saya kesini dengan hanya membawa uang Rp 75.000,- di dompet Saya. Mba bayangkan, kehidupan Saya seperti apa Mba. Sebulan Saya hanya mendapatkan gaji Rp 350.000,-. Saya tinggal menumpang dengan teman Saya. Anak Saya baru 6 tahun. Dan Saya berjuang seorang diri. Dan kemarin anak Saya sakit dan dia minta dibelikan ayam KFC dan Saya pun tidak bisa membelikannya, Saya berfikir lebih baik Saya simpan uangnya untuk pengobatannya. Mba jauh lebih beruntung dari Saya, kemana-mana naik mobil, mau makan apa aja bisa, dan gak perlu mikir akan makan apa hari ini. Saya terlahir seperti ini dan Mba terlahir seperti itu, itulah rencana Tuhan yah Mba.” (Sambil tertawa dan tersenyum ketika menyebutkan nama Tuhan)
(Lama-lama Ibu itu meneteskan airmata, dan Saya hanya terdiam, sedih sekaligus bersyukur. Tiba-tiba Ibu itu dipanggil oleh seorang suster hingga akhirnya Ia berpamitan dengan Saya.)

Mrs.X : “Iya suster..”
Mrs.X : “Mba…Saya pergi dulu ya. Makasih Mba sudah mendengarkan cerita Saya.”
(Saya hanya tersenyum dan mengucapkan “sama-sama Ibu.”)

Saya terdiam seketika, mengingat kembali setiap pertanyaan dan perkataan Ibu itu. Dua perasaan seketika Saya rasakan. Pertama, Saya sedih dengan keadaan Ibu itu, miris rasanya. Saya bukan hanya melihat dari tv-tv tentang pengalaman hidup orang dengan keadaan yang susah, tapi Saya mendengarkan dan melihat dengan panca indera Saya sendiri tanpa lewat perantara.

Kedua, Saya benar-benar ditegur oleh Tuhan. Keadaan saya sekarang sudah lebih dari cukup, apapun Saya bisa miliki, apapun yang Saya mau bisa Saya dapatkan. Kemana-mana pergi dengan mengendarai mobil pribadi tak perlu panas-panasan di jalan dan angkutan, mau makan apa saja saya bisa dan tidak perlu memikirkan “mau makan apa Saya hari ini atau besok”, mau ke rumah sakit pun Saya tidak harus berfikir “apakah Saya punya uang atau tidak”. Semua bisa Saya dapatkan. Pertanyaan yang menusuk Saya “kurang apa lagi hidup Saya ini?”. Dari kemarin Saya giat-giatnya memandang langit, memandang segala mimpi dan masa depan dan dengan giat berusaha untuk meraihnya. Melihat begitu banyak orang sukses di luar sana dan ingin Saya untuk bisa seperti mereka. Dan sekarang, Saya diperlihatlan “tanah” oleh Tuhan, Saya diperlihatkan segala hal yang jauh di bawah Saya. Dua hal yang sangat bertentangan. Mungkin Ibu tadi adalah malaikat dari Tuhan untuk membantu Saya melihat salah satu dari sisi kehidupan. Menangis Saya dalam hati dan bertanya Saya dalam hati “Saya harus seperti apa?, apa Saya tidak boleh bermimpi, apa Saya tidak boleh melihat langit, apa Saya tidak boleh berusha sekuat tenaga mengejar mimpi-mipi Saya ??” .Atau “apa Saya hanya harus bersyukur dan menerima apapun yang Saya punya sekarang tanpa harus berambisi bermimpi dan meraih segala hal ??”

Ternyata bukan keduanya.
Saya harus tetap memiliki mimpi dan tetap sesekali melihat hal-hal yang jauh dibawah Saya.
Sejalan dengan hal yang Saya kejar dan telah Saya dapat, Saya harus tetap bersyukur atas segalanya. Lagi-lagi tidak protes atau menyalahkan Tuhan dengan apapun yang pada akhirmya tidak Saya dapatkan.

Indah sekali pelajaran hari ini. Semoga apapun yang Saya kerjakan sekarang, semoga membuat Saya menjadi manusia yang selalu dapat bersyukur namun tetap memiliki semangat hidup untuk menjadi manusia yang selalu lebih baik setiap detiknya.
Dan yang terakhir, banyak “mendengar” adalah modal untuk memeluk dunia.
Terlalu banyak bicara yang akhirnya membuat Kita lupa akan esensi Kita sebagai manusia, yaitu menjadi “manusia yang baik untuk manusia yang lainnya”. Dan ketika Kita sudah menjadi pendengar yang baik, maka orang pun akan senantiasa mendengarkan Kita dan menjadi sahabat Kita di dunia.

Dan kata-kata terakhir Ibu yang Saya temui tadi “Saya terlahir seperti ini dan Mba terlahir seperti itu, itulah rencana Tuhan yah Mba”. Ibu itu tetap bersyukur dan tersenyum di tengah ujian dalam hidupnya.
Yah…KITA SEMUA MEMILIKI JALAN HIDUP YANG BERBEDA, namun KITA TETAP SAMA YAITU MANUSIA.

*Terima kasih Tuhan untuk hari yang indah ini..

2 Comments

Filed under Hari-hari Dyan, Motivasi

2 responses to “Mendengar Itu Lebih Baik

  1. Shane W

    Tuhan pasti punya rencana terbaik untuk setiap hambanya. Semoga ibu tersebut selalu diberikan rahmat,rezeki dan hidayah oleh Allah SWT. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s