Baik Tidak Selalu “Tidak Baik”

Suaranya memecahkan suasana malam. Lekingan suaranya mencekam hati setiap manusia yang lewat didepannya. Kedipan matanya serta raut wajah yang dingin senantiasa terpancar. Kala poni polemnya dikibaskan mata kirinya melirik dengan tajam namun seketika suara lembut terdengar keluar dari mulutnya “selamat malam….”

Sesekali Kita tertipu oleh tampilan fisik, tapi itulah kehidupan. Pertama kali yang kita lihat itulah yang kita nilai. Jadi tidak disalahkan jika pencitraan yang pertama kali nampak adalah hasil dari panca indera tangkapan kita.
Jadi sebaiknya berhati-hatilah kita, bukan berarti bernegatif ria dengan semuanya. Berhati-hati untuk segala penampilan pertama yang menarik mata kita.
Dengan begitu kita tidak terperangkap akan keindahan yang sesaat. Baru setelah itu kenalilah lebih dalam, disitulah letak sesungguhnya kepribadian seseorang.
Caranya menilai sesuatu, cara pandangnya, pemikiran-pemikirannya adalah sesuatu yang tak bisa dilihat oleh kedipan mata. Tapi tetap saja “kesan pertama” dibutuhkan untuk menjebatani pengenalan kita lebih lanjut akan sesuatu hal.

Wajah garang, belum tentu hatinya sangar.
Suara judes, belum tentu hatinya pedes.
Sikap diam tanpa kata, belum tentu Ia pribadi yang tak mengasikkan.
Sikap cerewet berkata tanpa titik, belum tentu ia pribadi yang tak mau mendengarkan.
Semua belum tentu kawan…^.^

Setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan “tempat” dan kesempatan yang sama untuk menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Waktu satu dua detik tak dapat menjawab semuanya. Memang butuh waktu beberapa lama untuk mengenal seseorang dan barulah pantas menilainya baik ataupun tidak baik, dimana konteks baik dan tidak baik memiliki arti yang berbeda-beda menurut masing-masing kita.

Belajar menilai sesuatu secara benar adanya. Bukan menilai asal-asalan hanya karena sebuah penampilan hasil dari kedipan mata. Banyak faktor untuk menilai seseorang. Namun yang paling baik adalah “tidak menilai siapapun, karena belum tentu diri kita adalah orang baik di mata yang lain.”

Wanita molek dengan sepatu hak tingginya, dengan langkah yang pasti Ia berjalan dan dengan senyum diobral, semua mata memandang. Seketika Ia berkata “Gw gito lho…” Semua mata yang memandangkan seketika itu juga memalingkan badan
dan menjadi enggan untuk mengenalnya lebih dalam.

Anak kecil berpakaian seragam sekolah merah putih dengan menggendong tas sekolahnya, sambil berdendang lagu “Cita-citaku”. Seketika Ia menegur Nenek tua yang ingin menyebrang jalan “Nenek..mari saya bantu menyebrang.”
Kebaikkan hati adalah cara paling ampuh menunjukkan sebuah hal yang bisa dinilai baik oleh orang lain. Namun kebaikan yang memang benar-benar tulus yang tidak dipaksakan. Dimana pada akhirnya kebaikkan kitalah yang melandaskan orang menilai siapa diri kita.

“Lagi-lagi salah satu dari 13 Hukum Kehidupan berlaku dalam hal ini “Hukum Sebab Akibat”, apa yang ditabur itu juga yang akan dituainya. Kita menabur kebaikan, maka kita akan menuai kebaikan. Kita menabur kerja keras, kita akan menuai kesuksesan. Dimana kita menabur, disitulah kita menuai. Dan kapan kita menabur itu yang akan menentukan kapan kita menuai.”

Berbuatlah sesuatu hal yang memang mendatangkan kebaikkan. Bersikaplah wajar dan menempatkan diri sebagaiman mestinya. Niscaya “orang akan selalu menganggap mu orang baik dan layak untuk diberi kebaikkan…”

Depok, 23 Februari 2011

Leave a comment

Filed under Tulisan Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s