Suara Hati Malam Ini

Dear God,

Januari 2011 sebentar lagi akan berlalu. Awal tahun Engkau berikan banyak hadiah berharga, kelulusan dengan hasil yang terbaik, senyum bahagia orang tua saya, kebersamaan dengan teman-teman kuliah diakhir masa-masa perkuliahan, dan banyak lagi.
Awal tahun yang membuat saya sangat bersyukur sehingga dapat tersenyum lebih lebar dari biasanya. Kebahagiaan itu sangat nyata di depan mata saya. Nyata sampai-sampai saya terlena karenanya.
Untung saja Tuhan menugur saya, sedikit sentilan di tengah bulan Januari ini. Sentilan yang membuat saya bertanya-tanya sampai dengan detik ini.
Entah apa lagi yang Tuhan rencanakan untuk hidup saya yang sangat sempurna di mata saya ini. Yang jelas satu hal, Tuhan membuka kembali hati saya yang biasanya. Tuhan sadarkan saya untuk hal-hal yang tidak semestinya saya lakukan.

Tapi…
Kembali pertanyaa-pertanyaan hidup menghiasi hari-hari saya. Terlihat jelas sekali, saya akan dihadapkan dengan pertempuran hidup yang sebenarnya. Saya bukan lagi gadis kecil hingusan yang hanya mengetahui makanan apa yang enak dan tidak tapi sekarang saya seorang wanita dewasa yang harus mengetahui ada apa dibalik makanan enak dan makanan tidak enak, saya harus mampu memakan makanan yang tidak enak dengan wajah yang tetap tersenyum.

Entah, apa arti semuanya ini. Saya berterima kasih kepada-MU Tuhan, Engkau selalu sadarkan saya untuk tetap bermimpi layaknya seorang manusia yang memiliki banyak keterbatasan. Engkau pula yang tak pernah lelah mengingatkan saya untuk kembali sadar “untuk apa saya hidup di dunia”.

Malam ini,
Saya biarkan air mata terakhir mengalir di pipi saya.
Saya biarkan kegundahan bermain-main terakhir kalinya di kepala saya.
Saya biarkan diri saya menertawakan diri saya hari ini untuk terakhir kalinya.

Inilah cara saya menyemangati diri saya sendiri.
Saya memang punya banyak sahabat, tapi saya sangat tahu mereka pun memiliki banyak masalah yang mungkin lebih berat dibanding saya. Masalah saya akan hanya menambah repot mereka.
Cukup hati ini yang tau, kapan saya menangis, kapan saya gundah, dan kapan saya lemah menjadi seorang manusia. Cukup saya dan yang memiliki saya, Tuhan satu-satunya…

Masalah awal tahun yang merupakan modal saya untuk menuju perang yang sesungguhnya.
Selalu berfikir positif untuk segala masalah ini.

Satu minggu saya renungi semuanya, satu kesimpulan saya yang merupakan kesalahan saya “saya TERLALU bahagia” dan “saya LUPA untuk meneteskan air mata”…

Tuhan,
Engkau sangat sempurna membentuk pribadi saya yang sangat jauh dari sempurna.

Tangis terakhir malam ini adalah tanda bahwa saya hanyalah seorang manusia biasa yang punya TUHAN yang luar biasa setia menyempurnakan setiap detik-detik di hidup saya ini…

*Kehidupan menuntut seorang manusia untuk tampil sempurna, sampai-sampai saking sempurnanya manusia lupa akan hakekat dirinya sebagai seorang hamba Tuhan dimata Tuhan-NYA. Hanya kesenangan dunia yang sementara yang selalu dielu-elukan dan didewakan. Kapan manusia tersadar, saat Tuhan “berkata tidak” untuk hal yang diharapkan. Salah atau benar, ini hanyalah sebuah pemikiran dari seorang anak manusia yang terus mencoba mengerti setiap rencana Tuhan dihidupnya…

25 Januari 2011, Tuhan kirimkan sahabat yang paling mengerti saya, yakni diri saya sendiri…

Leave a comment

Filed under Hari-hari Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s