Semua Adalah Guru

Dari wanita berambut panjang itu “saya belajar mencitai diri saya sendiri”

Dari wanita berperawakan kecil itu
“saya belajar untuk menikmati hidup ini”

Dari wanita tegar berkacamata tebal itu
“saya belajar indahnya menjadi seorang wanita dengan segala kelebihan dan kekurangan”

Dari wanita berjilbab panjang itu
“saya belajar untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara”

Dari wanita yang bermuka oriental itu
“saya sadar untuk selalu memancarkan kebahagiaan bukan kesedihan”

Dari wanita berkalungkan Salib itu
“saya belajar untuk tetap berbuat baik meski telah disakiti”

Dari wanita berlogat bali itu
“saya belajar mengenai keseimbangan dunia dan akhirat yang akhirnya memampukan saya menjadi wanita kuat seperti sekarang ini”

Dari wanita yang selalu menggunakan kemeja itu
“saya belajar untuk menerima segala kekurangan saya dan bangga menjadi diri saya”

Dari laki-laki yang tak pernah terlihat rapi itu
“saya belajar untuk lebih bisa menerima perbedaan”

Dari dia
Dari kamu
Dari mereka…
“saya belajar banyak hal tentang kehidupan”

Dari “perbedaan” saya belajar melihat segala “persamaan”…

Bukan belajar tentang satu tambah satu sama dengan dua seperti di sekolah dasar, belajar mengerti teori-teori komunikasi seperti diperkuliahan, bukan belajar mengenai ilmu-ilmu pasti yang sudah dibukukan oleh profesor-profesor handal atau orang-orang pintar di dunia…

Saya belajar dari semua orang yang telah berhasil menaklukan setiap hari-hari mereka dengan cara mereka sendiri dan keunikan Tuhan dalam membuat skenario di setiap masing-masing mereka…

Saya belajar dari semua orang yang pernah berhasil, jatuh, dan bangkit…

Saya belajar dari orang yang tak bisa mendengar, dari orang yang tak bisa melihat, dari orang yang tak mampu menghidupi dirinya sendiri…

Saya belajar dari semua orang yang memiliki banyak keistimewaan dan kelebihan…

Saya belajar dari semua orang “yang pernah melakukan kesalahan”, sehingga saya mampu menjadi pemenang untuk diri saya sendiri dalam berlomba mengatasi musuh terbesar dalam hidup saya yaitu “masa lalu dan penyesalan”…

“Memaafkan diri sendiri” adalah cara terindah yang memampukan saya mampu kembali menikmati hidup ini. Dan saya belajar dari “kamu”, Dia yang membuat saya akhirnya bisa merasakan indahnya arti sebuah “sakit hati”…

Belajar…
Belajar dari semua orang…

Kita adalah guru yang diharapkan mampu “membuat orang lain” tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang sebelumnya pernah kita lakukan…

Itulah kehidupan…

Tapi..sekarang pertanyaannya :
“Apakah sekarang saya sudah mampu menjadi guru untuk orang-orang disekeliling saya ?”
Pertanyaan yang tidak harus saya jawab tapi harus selalu saya lakukan “melakukan yang terbaik dalam hal apapun agar orang tau bahwa ada kekuatan besar dalam diri saya yang memampukan saya seperti sekarang yaitu Tuhan”

-renungan malam di tengah tuntutan dunia yang sedang gencar-gencarnya mendesak saya untuk menjadi seorang pemenang-

Depok, 19 Des 2010

Leave a comment

Filed under Hari-hari Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s