“Ibu Tegar” dan “Wanita Ceria”

Hari ini saya pergi memanjakan diri di salon langganan saya, dan kebetulan saya ditangani oleh “orang baru” di salon itu. Sebut saja “Ibu Tegar”, sesuai dengan pribadinya yang akan saya ceritakan detailnya.

Yup..percakapan itu berawal dari ketika saya menanyakan namanya.
Kali ini entah kenapa saya memanggil pekerja di salon itu dengan sebutan “Ibu” biasanya saya selalu memanggil semuanya dengan sebutan “Mba”.

Saya : Orang baru yah Bu ?
Ibu Tegar : Gak koq, saya kan sudah liat Mba waktu dua minggu lalu saat Mba kesini?
Saya : wah..saya tidak ‘ngeh. Maaf yah Bu, masih muda saya pelupa.hehe
Ibu Tegar : yah..Mba, masih muda sudah pelupa.

Ibu Tegar itu sangat riang dan antusias berbincang-bincang dengan saya. Dia menceritakan semuanya, terutama mengenai anak kesayangannya, sebut saja “Gadis Ceria”, selain menceritakan hewan-hewan peliharaannya.

Begini ceritanya…
Setahun yang lalu saat Gadis Ceria bersama kekasihnya berangkat kerja terjadilah sebuah kecelakaan yang mengakibatkan Gadis Ceria itu harus rutin menjalani serangkaian perawatan. FYI, Gadis Ceria dan Ibu Tegar itu berasala dari keluarga yang sangat sederhana. Yah…dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, Mereka berobat dan dengan uang yang pas-pasan pula. Hingga pada akhir perjalanan pengobatannya Mereka bertemu dengan seorang dokter ahli bedah syaraf.

Singkat cerita,

Dokter : Maaf Ibu…Salah satu syaraf anak Ibu “rusak”. Sehingga memori lamanya hilang.(Dengan nada rendah dan sedih terpancar)
Ibu Tegar : Puji Tuhan..(Sambil tersenyum penuh kasih)
Dokter pun bingung, karena tidak melihat kesedihan di wajah Ibu itu.
Ibu Tegar : Puji Tuhan karena memori masa lalu yang hilang, bukan nyawa anak saya yang hilang.
Dokter itu lalu tersenyum.

Percakapan singkat itu terlihat bahwa Ibu Tegar sangat mensyukuri hal apapun sekalipun hal itu mungkin di mata kita “sangat buruk”. Bayangkan saat orang kita sayang kehilangan ingatan mereka, dengan begitu semua kenangan indah kita bersamanya hilang semua.
Bukan hanya itu, Gadis Ceria itupun terlihat sangat ceria dan tidak bersedih dengan keadaanya.

Gadis Ceria : Mama…Aku lupa semuanya. (Sambil tertawa kecil terlihat bercanda). Untung aku masih bisa inget “mama” orang yang paling aku sayang.
Ibu Tegar : (Ibu tersebut menahan tangis bangganya terhadap anaknya, Ia tidak mau meneteskan sedikit air mata di depan anaknya) hehe…baguslah, jadi kamu juga lupa kalo kamu sering mamah omel-omelin.hehe
Gadis Ceria : wah…mamah sering ngomel-ngomelin aku.
Dan percakapan terus berlanjut penuh canda dan tawa.

Namun…
Seketika Gadis Ceria itu pingsan. Begitulah kesehariannya. Di tengah-tengah canda tawa mereka pasti Gadis Ceria itu jauh pingsan akibat penyakit sarafnya.
Selama satu tahun semua itu terjadi dan berulang.

Saya tidak bisa membayangkan saat saya berada di posisi salah satu dari mereka.

Posisi Gadis Ceria :
Woww…kehilangan memori selama satu tahun. Semua kenangan gak bisa saya ingat. Mungkin tangis dan kehampaan yang akan mewarnai hari-hari saya. Tidak sepertinya yang selalu melewati hari-hari dengan canda tawa. Belum lagi saya tidak bisa kemana-mana seorang diri karena dalam sehari mungkin 3-5x saya pingsan. Wajar kalau saya menyebutnya “Gadis Ceria”.

Posisi Ibu Tegar :
Iya..bagaimana saya tidak menyebutnya dengan Ibu Tegar. Bayangkan, saat Ia tahu anaknya kehilangan memori, Dia masih bisa tersenyum dan bersyukur. Belum lagi satu hal “Sesakit apapun Dia, sesedih apapun, Dia tidak pernah mau meneteskan airmata di depan anaknya”. Dari sini saya belajar untuk menjadi seorang Ibu sepertinya.

Sepanjang saya berbincang dengan Ibu Tegar, saya hanya terdiam, merenung dan bersyukur.
Inilah pelajaran indah ke dua di bulan Desember ini.

Tidak salah kalau kali ini saya memanggil Ibu, beda dengan pekerja salon lainnya. Ia memang benar-benar sosok seorang Ibu, yang berhati mulia.

Tulisan ini sebuah kenyataan, dan yang memampukan saya “lebih bisa bersyukur untuk hidup saya sekarang”.

Nite All…
Semoga kita selalu merasakan bahwa kita yang sekarang adalah “yang terbaik”.

-Thx to Ibu Tegar dan Wanita Ceria-

2 Comments

Filed under Tempat dan Peristiwa

2 responses to ““Ibu Tegar” dan “Wanita Ceria”

  1. kak dian,,
    sekedar saran aja nih, kalo ketemu lagi sama mereka, tolong bilang ke si “gadis ceria” buat mulai menulis, bisa jadi salah satu terapi buat memperkuat ingatan tuh..
    Semoga bermanfaat..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s