Selembar Amplop Dari Pak Pos (Eps.1)

Rumah tanpa pagar, tanpa teras depan dan tanpa halaman. Terlihat kotor, kumuh, dan berwarna kusam. Nampak seorang Nenek berkacamata dengan syal dilehernya duduk di sebuah kursi tepat berada di depan pintu masuk rumahnya. Sambil memegang sehelai kain dan jarum jahit di tangannya. Rambutnya yang sudah putih, kulitnya yang sudah keriput, dan kantung matanya yang sangat besar memperlihatkan bahwa Nenek itu sudah tidak cantik seperti mudanya.

Tiba-tiba di tengah suasana yang hening, hanya terdengar senandung Nenek yang menyanyikan sebuah lagu “Sepanjang kita masih terus begini takkan pernah ada damai bersenandung…” lagu lama yang dinyanyikan ulang oleh Kaka Kris Dayanti, suara klakson terdengar samar di telinga Nenek itu “Tin…Tin…Pos!” teriak seorang Pak Pos bermotorkan bebek berwarna orange dengan seragam Posnya. Seketika nenek itu tersentak kaget, menjatuhkan kain di tangannya sampai dengan kacamata turun sampai ke hidungnya. Nenek itu langsung berdiri bungkuk sambil memegang tongkat kayu di tangan kirinya. Dan Nenek itu pun menyaut Pak Pos “Iya…sebentar!” sambil terbatuk-batuk mengucapkan kalimat pendek itu.

Langkahnya yang sangat pelan akhirnya membuatnya sampai di depan pak Pos yang perawakannya sangat memprihatinkan, kurus, kumel, berantakan, keringat nampak di bajunya yang basah, dan terlihat sangat lelah.

“Ini Ibu ada surat untuk Ibu” ujar Pak Pos
“Oh..saya sudah tidak Ibu-ibu, saya Nenek” ucap Nenek sambil tersipu-sipu malu.

Pak Pos pun terlihat salah tingkah dengan perkataan si Nenek.
Pak Pos memberikan sebuah surat tanpa ada nama pengirimnya.

Nenek itu terlihat sangat bahagia kegirangan, mendapati dirinya menerima sebuah surat. Mengingat Ia hanya memiliki seorang anak yang tinggal entah di mana, dan sudah tidak bertemu dengannya hampir 10 tahun lamanya. Anaknya pun tak tahu tinggal di mana Nenek itu. Nenek itu hanya tinggal seorang diri, dengan menjahit untuk menghidupi dirinya.

Nenek itu menerima surat tersebut, dan seketika raut wajah Nenek itu berubah, yang tadinya ceria dan bahagia berubah menjadi duka dan air mata pun jatuh ke pipinya.
Dan Pak Pos pun mendadak diam…
Ada apa dengan nenek tua itu ??
Padahal Ia belum membuka surat itu, hanya dengan menatapi raut wajah Pak Pos air mata itu keluar…

-Tunggu cerita selanjutnya-^_^

Leave a comment

Filed under Cerita Berseri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s