Lingkungan yang Membentuk Saya

Mungkin banyak orang sudah mengetahui siapa saya. Wanita yang perawakannya kecil, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, menggunakan kaca mata untuk membantu penghelihatannya, berambut seperti singa (ledekan teman-teman saya), yang punya hobi masak, dan sangat betah tinggal di rumah. Beberapa orang mungkin pernah berurusan dengan saya, maksudnya pernah mengerjakan kegiatan bersama, atau memiliki hubungan yang dekat, mungkin pernah ada yang tidak sengaja saya sakiti, mungkin ada yang pernah bahagia dan senang karena saya, mungkin ada yang senang atau tidak dengan saya. Itulah kehidupan di mana selalu ada saja hal-hal yang kita suka dan tidak kita suka, yang terduga dan yang tidak terduga. Tapi saya tetap jalani hidup saya dengan ilmu-ilmu yang saya dapatkan dari pendidikan formal maupun nonformal. Pada dasarnya saya selalu ingin hidup berbagi dengan sesama dan mencoba untuk tidak egois. Berteman dengan siapapun, mendengar cerita orang lain tentang perjuangan mereka dalam menjalani kehidupan yang berbeda-beda adalah hal yang selalu ingin saya cari dan dapatkan sebagai pembelajaran. Hidup dengan belajar memposisikan diri disetiap lingkungan yang sedang saya pijaki dan belajar mempertahankan prinsip di tengah tawaran-tawwarn dunia yang menggiurkan yang mampu menanggalkan segala nilai-nilai keluhuran.

Saya terlahir di sebuah keluarga sederhana. Seorang Ayah yang keras dalam mendidik anak-anaknya, seorang Ayah yang mengajarkan berbuat kebaikkan tanpa mengharapkan imbalan, seorang Ayah yang mengajarkan untuk tidak mendewakan uang , seorang Ayah yang mengajarkan pentingnya menjadi seseorang “yang berbeda”, seorang Ayah yang mengajarkan untuk dapat hidup miskin dan hidup kaya sehingga tetap menjadi orang yang sederhana dan mampu hidup sekeras dan semiskin apapun, seorang Ayah yang mengajarkan pentingnya “proses” dari pada “hasil”, seorang Ayah yang penuh keikhlasan dan tak pernah mengeluh tentang kehidupan, seorang Ayah yang mengajarkan pentingnya berkomunikasi (walau papah kerja di luar kota, Beliau tetap rutin dan tidak pernah lupa menelpon untuk mengetahui perkembangan anak-anak dan isterinya setiap harinya), seseorang yang mengajarkan kepada saya untuk dapat memegang prinsip dan keyakinan, seorang Ayah yang bisa menjadi teman, dan seorang Ayah yang berhasil membentuk pribadi saya seperti sekarang ini. Seseorang yan sangat saya banggakan!

Ibu yang melahirkan saya dengan penuh perjuangan. Seorang Ibu yang bisa melakukan pekerjaan apapun (karena Papah di luar kota, jadi semua urusan Mamahlah yang mengerjakan), dari naik motor, mengendarai mobil, membetulkan peralatan-peralatan listrik, mengecet dinding rumah, membuat masakan-masakan yang lezat, dan semua hal Beliau bisa lakukan. Seseorang Ibu yang tetap setia pada satu hati walau jarak memisahkan, seseorang Ibu yang mengajarkan saya indahnya menjadi seorang ibu rumah tangga, seseorang Ibu yang mengajarkan saya untuk selalu mempercantik diri agar selalu terlihat muda, seseorang Ibu yang mengajarkan saya untuk tetap pintar walau hanya beraktifitas di dalam rumah, seorang Ibu yang mengajarkan saya untuk hidup mandiri walau saya seorang wanita, seseorang Ibu yang mengajarkan kepada saya untuk bisa mengatakan “tidak”, seseorang yang memiliki kesabaran tanpa batas dalam mengahadapi kenakalan-kenakalan, seseorang Ibu yang secara diam-diam selalu memikirkan saya ditengah wajahnya yang terkesan cuek, seseoarng Ibu yang mampu menjadikan “rumah” sebagai tempat pilihan pertama anak-anaknya untuk menghabiskan waktu, seorang Ibu yang mampu membuat anak-anaknya tidak sabaran pulang ke rumah untuk menyantap makanan terlezat di dunia, seseorang yang mengajarkan saya indahnya menjadi seorang wanita yang mampu mengerjakan segala hal mulia di dunia.
Keluarga harmonis di mana dalam keadaan susah dan senang kita selalu bersyukur dan bahagia. Tak pernah ada kekurangan saat saya bisa merasakan kasih sayang dari Mereka. Rumah adalah tempat ternyaman dan tempat di mana saya bisa menjadi diri saya apa adanya. 23 tahun saya bersama dengan keluarga saya, dan selama itu pula pelajaran-pelajaran kehidupan yang paling berharga saya dapatkan dan mampu membentuk saya seperti sekarang.

23 tahun saya bukan hanya melakukan aktifitas di rumah, saya juga belajar di sekolah TK, SD, SMP, SMA, D3, dan sampai dengan sekarang. Berbagai macam les dan organisasi saya ikuti, dan beruntunglah saya karena saya mendapatkan lingkungan atau tempat yang saya menuntut saya untuk selalu aktif dan selalu belajar. Pengalaman yang sangat berharga adalah saat saya mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Depok, SMA terfavorit di Depok. Semua orang yang bersekolah di sana merupakan orang-orang pilihan dan orang-orang hebat dalam bidang akademis, prestasi non akademis maupun dalam hal organisasi. Saya sadar saya tidka pintar, namun saya menjadi merasa pintar karena di kelilingi oleh orang-orang pintar. Saya bisa menjadi seseorang yang terus mau belajar di atas keterbatasan saya dalam mengerti seseuatu hal, saya bisa menjadi seseorang yang selalu ingin aktif dalam keorganiasian di tengah kelemahan-kelemahan saya, saya menjadi seseorang yang memikirkan “masa depan” bukan seseorang anak muda yang hanya terlena dengan harta orang tua dan kesenangan-kesenangan dunia semata. Disitulah kembali saya di bentuk. Hingga sampai dengan sekarang “mereka” (teman-teman SMA Negeri 1 Depok) menjadi salah satu penyemangat saya untuk menjadi seseorang yang “berbeda”. Mereka rata-rata telah bekerja, ada yang bekerja di pemerintahan, bekerja di perusahaan-perusahaan swasta, ada yang masih bersekolah di negara-negera tetangga dengan bermodalkan beasiswa, mereka yang “luar biasa” menjadi kan diri mereka “tidak biasa” tapi sangat istimewa. Sesekali saya berkumpul dengan mereka, kita membahasa banyak hal dan banyak bidang. Semangat mereka untuk memajukan bangsa dalah salah satu hal yang bisa membuat saya bertanya pada diri saya “Apakah saya juga bangga dan ingin membanggakan bangsa di tengah dunia ? Apa yang bisa saya lakukan di tengah diri saya yang masih berusaha mengejar gelar sarjana ?”. Sempat saya malu dan minder dengan diri saya yang belum bisa bekerja seperti mereka yang mengabadikan diri mereka kepada bangsa, saya yang masih kuliah dan meminta uang dari orang tua, tapi mereka kembali menyemangati saya. Mereka selalu membuat saya berfikir “bahwa saya tetap seseorang yang hebat dan luar biasa”. Yah, karena mereka saya seperti sekarang ini.

Namun itu hanya bagian “baik” dari salah satu lingkungan yang saya diami di mana masih banyak lingkungan-lingkungan yang memberikan hal-hal baik kepada saya, ada juga lingkungan-lingkungan yang menuntut saya untuk tetap berusaha memegang prinsip. Lingkungan di mana saya mampu melihat berbagai macam perbedaan sehingga akhirnya saya mampu menerima segala perbedaan itu. Ada hitam dan ada putih, ada nakal dan ada baik, semua ada positif dan negatif. Itulah lingkungan tempat di mana saya hidup. Beruntunglah saya karena saya masih diberi kekuatan untuk memegang teguh prinsip, ajaran-ajaran, dan adat istiadat yang memampukan saya untuk tetap berdiri tegak menjadi diri saya sendiri, di tengan perlombaan dunia dalam meraih kebahagiaan yang diidentikkan dengan uang. Penolakan demi penolakkan terhadap hal-hal yang tidak sesuai adalah hal yang sulit bagi saya untuk melakukannya, tapi sedikit demi sedikit, waktu mampu membentuk saya menjadi pribadi yang mampu mengatakan “tidak” untuk segala seuatu yang bertentangan dengan hati dan nurani saya. Walau pada mulanya saya pernah merasakan begitu banyak kebodohan dan hal yang tidak baik, yang akhirnya membuat saya terjatuh dan sadar akan kesalahan-kesalahn yang saya lakukan. Itulah proses kehidupan yang mengantarkan saya untuk terus menjadi seseorang yang dewasa dalam menyikapi segala hal.

Lingkungan bagi saya sangat berpengaruh terhadap pembentukkan karakter seseorang, saya tidak memilah-milah dalam memilih teman tapi saya selalu berusaha untuk masuk ke dalam lingkunagn yang sejalan dengan prinsip hidup saya dan berteman dengan siapun yang mampu memberikan hal-hal positif untuk saya. Hal-hal positif dalam hal ini bukan berarti saya memanfaatkan seseorang untuk kepentingan saya tapi saya mampu belajar banyak hal baik dari padanya. Saya tahu kelemahan diri saya, saya lebih baik untuk menghindar dari pada saya bermain-main dengan hal yang mampu dengan mudah menjerumuskan saya. Lagi-lagi semua itu adalah pilhan. Saya memilih untuk bisa diterima dengan lingkungan apapun dengan tetap memegang prinsip yang saya miliki. Dan tetap mampu mengatakan “tidak” untuk segala hal nyang memang “bertolak belakang dengan prinsip saya.

Sepanjang tulisan ini, saya selalu menyebutkan kata “prinsip”, prinsip dalam pengertian saya adalah sesuatu yang saya yakini dan saya percaya berlandasakan pada ilmu-ilmu agama dan nilai-nilai luhur adat dan budaya timur di mana saya tinggal dan memperoleh kehidupan. Prinsip yang tak cukup jika dituliskan pada selembar kertas, prinsip yang telah tertanam di dalam hati saya dan membentuk jati diri saya sebagai seorang manusia yang bernama Dianita Taiasuti.

Berbabanggalah saya terlahir sebagai diri saya, memiliki dasar dan pondasi kehidupan dari orang tua saya. Ini buka suatu kesomobongan, tapi saya ingin sekali membagikan bahagia saya dan saya ingin memberitahukan kepada semuanya bahwa “skenario kita berbeda-beda, tapi berusahalah untuk selalu menikmatinya”. Jadilah seseorang yang “luar biasa” dan “tidak biasa” yang mampu berguna untuk kelurga, sahabat, agama, bangsa, negara, dan sesama. Jadilah “anak muda” yang mampu memikirkan nasib bangsa. Penerus bangsa yang mampu mengubah dunia dengan segala kelebihan, kelemahan, dan perbedaan yang kita punya, dengan bersatu pasti kita biasa!

Saya terus belajar…
Hidup bagi saya adalah belajar…
Semoga Tuhan tak pernah lelah mengajarkan berjuta-juta kebaikkan kepada saya dan kalian…

4 Comments

Filed under Keluarga, Motivasi, Tulisan Dyan

4 responses to “Lingkungan yang Membentuk Saya

  1. wanita yang penuh dengan semangat!!
    itu yang ada difikiranku ketika aku mendengar nama “dianita tiastuti”^^
    wanita yang selalu memiliki semangat untuk bangkit dari setiap permasalahan yang menimpanya…
    wanita yang memiliki semangat menularkan kebaikan-kebaikan…
    wanita yang semangat untuk selalu menjadi lebih baik lagi…
    dan masih banyak lagi semangat positif yang dia miliki…
    that’s why i love to be her friend;)

    warmhugs!:*

    • Haduh…aq terharu baca comment mu Dwi sayang.
      Makasih banyak yah, aq bersyukur klo aq bs melakukan seperti apa yg kamu bilang.

      Aq masih belajar untuk menjadi pribadi yg lebih baik lg.
      Kamu juga wanita hebat Dwi!!!!
      Aq jg belajar banyak dr km..

      Kita semangat untuk menjadi lebih baik setiap setiknya!!!^^

      Maksih yah Dwi sayang…
      Km hrs bangkit yah!!!!!!!

      *kisshug

  2. wahh.. jarang bgt aku ktmu seorang wanita seperti km teman..
    sangat unik dan mempunyai visi..
    aku bgt..
    hehe..
    aku yakin di masa depan km akan menjadi wonderwoman..
    hhe..
    smangat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s