20 Tahun Berlalu Saya Masih di Depok

Pagi ini saya tiba-tiba teringat masa-masa dua puluh tahun yang lalu, saat saya baru pindah dari kota kelahiran saya Banjarbaru Kalimantan selatan ke kota Depok. Saya berusia tiga tahun saat pertama kali pindah kesana, jalanan menuju rumah saya dari depan jalan raya sangat jauh dan jalannya pun masih rusak-rusak. Sama seperti halnya saya memasuki sebuah hutan yang tidak ada penduduknya. Masih jarang alat transportasi umum, seperti ojek, angkutan umum, becak, apa lagi bus. Sayapun tidak jauh-jauh bersekolah, tinggal jalan sedikit saya sudah tiba di TK Ibunda. Sebuah TK yang kecil, yang hanya terdapat ayunan, perosotan sebagai fasilitas permainanya.

Dahulu di komplek perumahaan saya Mampang Indah, tepatnya disepanjang gang rumah saya, baru terdapat sekitar lima rumah (kalau saya tidak salah), rumah tetangga kanan kiri saya, dan dua rumah lagi tepat berada didepan rumah saya. Keadaa saat itu masih sangat sepi, belakang rumah saya terbentang sawah yang begitu luas, dan tetangga sebelah kanan sayapun adalah rumah paling pojok dimana sisanya adalah persawahan dan empang-empang. Saya masih ingat, keadaan itu masih sangat asri, udara yang sangat sejuk, pepohonan yang masih ada di depan masing-masing setiap rumah, kali kecil yang berair jernih yang mebuat saya sering mencari udangan-udangan ataupun keong-keong (permainan waktu kecil yang sangat menyenangkan disamping permainan lainnya seperti main bete, congklak, bekel, main karet ataupun permainan lainnya).

Sangat “hijau” itulah deskripsi yang maasih teringat dibenak saya sampai dengan sekarang. Bukan hanya sawah-sawah, tapi jiga pepohonan yang masih dibilang banyak. Di rumah saya terdapat pohon jambu air, terdapat pohon belimbing, pohon kasturi dan pohon-pohon pisang yang masih sangat banyak disekitar rumah-rumah saya. Setiap hari saya tinggal memetik jambu ataupun belimbing depan rumah saya, sesekali saya ingin mencuci mulut saya setelah makan. Masih teringat jelas diotak saya, kenakalan-kenakalan saya, seperti memanjat pohon jambu lalu bertengger digenteng rumah, main ke sawah mencari belalang sampai matahari terbenam. Sungguh masa kecil yang begitu menyenangkan. Saya benar-benar menikmati bermain dengan alam.

Tahun 1990an, sepertinya belum terdapat banyak mall atau pusat perbelanjaan di sepanjang jalan margonda, saya sedikit lupa. Yang jelas sewaktu saya ingin membeli perlengakapan sekolah, saya bersama orang tua saya pergi ke “Ramanda” yang sekarang adalah tempat bengkel-begkel mobil. Setelah beberapa saat barulah muncul “Hero” yang sekarang menjadi tempat penjualan alat-alat furniture, lalu dibangunlah “Plasa Depok.” Tak terasa dua puluh tahun membuat sebuah perubahaan besar pada kota masa kecil saya ini. Rumah saya pun sekarang sudah tidak terdapat pohon jambu ataupun pohon belimbing, namun masih tetap ada sawah yang membentang luas yang merupakan suatu kebanggaan jika saya menceritakan tentang rumah saya kepada teman-teman, secara jalan sekarang sudah sangat jarang komplek yang memiliki persawahan yang sangat luas (bagi yang mau tahu, datang saja ke rumah saya…hehe, nanti saya ajak muter-muter;p).

20 tahun merubah banyak hal. Jalan tak lagi sepi, kemacetan dimana-mana apa lagi sepanjang jalan margonda. Mall sudah amat sangat banyak, ada Margo City yang menawarkan berbagai macam produk kelas menengah atas, yang sesekali muncul di tv seputar acara-acara yang diselenggarakannya, tempat nongkrong yang sudah menjadi pilihan kota Depok untuk menghabiskan weekend mereka, ditambah dengan bioskop yang menampilkan film-film ter-update. Ada juga Depok Town Square tepat di depan Margo City, yang tidak kalah bagusnya. Ada sebuah mall pula yang baru saja di renovasi yaitu Mall Depok untuk menyeimbangi mall-mall yang baru lainnya. Tempat perbelanjaan yang masih tetap ada sampai dengan sekarang “Plasa Depok”, yang mampu bertahan selama 20 tahun, ada pula ITC Depok yang menawarkan berbagai macam barang grosiran. Terdapat juga berbagai macam toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, Toko buku Utam.


Saya dan warga Depok lainnya dapat dengan mudah memperoleh segala barang yang kami cari. Tempat makanpun berserakkan di sepanjang jalan, dari “Mpek-mpek Pak Raden”, makanan tradisonal “Mba Jingkrak”, sampai makanan luar “Waroeng Steak” “Burger n Grill”, ada juga berbagai macam makanan berbahan dasar ikan lele “Pecel Lele Lela”, dan tempat makan enak lainnya seperti “Ayam bakar Christina”, Rumah Makan Mang King yang terdapat di dalam komplek Universitas Indonesia. Depok mampu menjadi tempat istana kuliner dan tempat perbelanjaan. Di tambah pula salah satu Universitas terbaik di Indonesia terdapat disana, apartemen-apartemen yang menjulang tinggi, adapula Hotel “Bumiwiyata”. Lengkaplah kota Depok, wajar kalau kemacetan selalu meramaikan hari-hari warga yang berdiam di kota tersebut.


Oh ya, terdapat juga salah satu mesjid yang sangat ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah luar kota Depok ataupun turis-turis mancanegara. Mesjid Kubah Emas yang tepatnya berlokasi di di Maruyung, Cinere, Limo, Kota Depok (lima belas menit dari rumah saya jika tidak macet). Masjid Dian Al Mahri ini diresmikan pada tanggal 31 Desember 2006 bertepatan dengan pelaksanaan sholat Idul Adha 1427 H oleh pendirinya Ibu Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs H. Maimun Al Rasyid. Masjid ini juga disebut sebagai Masjid Kubah Emas, sesuai namanya masjid ini memang menggunakan material emas dengan 3 teknik pemasangan : pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota/pilar, kedua gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab, yang ketiga gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara. Mesjid yang dibangun di tanah seluar 70 hektar dan dengan luas 8000 meter persegi ini mampu menampung 15.000 jamaah untuk pelaksanaan sholat dan 20.000 jamaah untuk pelaksanaan majelis taklim. Mesjid ini merupakan salah satu yang menjadi daya tarik kota Depok. Sebagai contoh, jika saya berkenalan dengan orang baru dan saat mereka mendengar kata kota Depok dari mulut saya, mereka selalu bertanya “deket donk dengan Mesjid Kubah Emas?”.

Selain tempat perbelanjaan, tempat makan, institusi pendidikan, hotel, tempat ibadah, tidak ketinggalan tpula tempat-tempat olah-raga yang dijadikan sebagai tempat rekreasi. Seperti kolam renang yang selalu ramai dengan pengunjung setiap hari libur. Seperti Kolam renang Griya tugu Asri, kelapa 2 depok, Kolam renang Bumiwiyata, margonda, Kolam renang Pesona Khayangan margonda, Kolam renang Matoa Ciganjur (perbatasan depok), Kolam renang Aquatis yang menawarkan berbagai fasilitas permainan air untuk anak-anak yang terdapat di perumahan Telaga Golf, sawangan, Kolam renang Dahlia di Jl Dahlia I Beji yang bisa disewa 1 jamnya Rp 30.000, Kolam Renang Rivaria sawangan (kolam renang yang menjadi favorite saya). Selain kolam renang, ada pula tempat bermain olahraga futsal baik in door maupun out door. Orang Depok juga hobi memnajakan diri di tempat olahraga lho, habis dapat dilihat tempat-tempat tersebut jarang sepi dari pengunjung.

Bagi para wanita seperti saya, banyak pula salon-salon kecantikan yang memiliki fasilitas perawatan dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki, dimana harganya relatif murah. Sehingga membuat saya ingin selalu mendatanginya. Hehehe..dasar perempuan yah;p. Ttep saja walau sering ke salon, yah gak berubah-rubah tuh bdan dan rambut;p. “Buang-buang aja”, seperti kata Papah saya.hehe

Hufff…

Memang sekarang “Depok” membuat saya lebih mudah mengakses segala hal, namun sesekali saya merindukan keadaan Depok yang dulu. Masih belum ada polusi dan kemacetan. Ketenangan selalu dirasakan saat saya berjalan pergi kemanapun. Dua puluh tahun memang bukan waktu yang singkat, perubahan pun terjadi pada diri saya, dari yang dulu masih menggunakan kaos kutang dan celana kolor (maaf bahasanya gak sopan..he) saat main keluar rumah sampai dengan sekarang saya sangat berusaha tampil terbaik kapanpun dan dimanapun.

Pertanyaan tiba-tiba muncul dipikiran saya
“Apa yang akan terjadi 20 tahun mendatang yah?”

Apa ada yang mau bantu menjawab ? ^_^

11 Comments

Filed under Tempat dan Peristiwa

11 responses to “20 Tahun Berlalu Saya Masih di Depok

  1. XXX

    hmmm setuju dgn ts….background sy jg hampir sama dgn ts,,sy pindah ke depok kira 19-20 thn lalu saat saya umur 3 atw 4 thn hanya saja sy perantau dari padang ,sumatera barat.Depok yg sekarang sudah berkembang pesat ditandai dgn byknya kemacetan dimana-mana,Mall dimana2,sbutan yg dulunya JABOTABEK berkembang menjadi JABODETABEK. Pdhl saat sy kecil kota depok masih bisa diblg kota pinggiran ,kota kecil,kampung2 masih byk,,bahkan da jg yg bilang tempat jin buang anaklah…haha gak tw asal muasal depok tempat jin buang ank tu darimana. Kl ditanya depok 20 th kemudian bgm ??? hmmm gak tw deh mungkin depok bisa jadi haluan baru migrasi penduduk luar kota bahkan bisa aja penduduk jakarta bakalan mengungsi ke Depok.So pasti Depok makin padet

    • Iya sangat setuju, yang jelas Depok akan semakin padat yah.

      Terima kasih yah telah kasih comment.
      Terus berkunjung ke blog saya dan ditunggu masukan-masukannya:)

      Sukses selalu yah..

      Best regards,
      Dyan

  2. XXX

    ok..tentu aja…sy mulai tertarik dengan tulisan2nya mbak dian…keep posting y…^^

  3. Pingback: 2010 in review | Jejak Langkah Seorang Wanita Biasa

  4. Perilaku birokrat acapkali membuat masyarakat prihatin. Mereka bukannya berusaha gigih untuk nasib dan kesejahteraan rakyatnya, malah hanya memperhatikan diri sendiri dan kelompoknya.

  5. roby

    gw dari depok terdampar di denpasar…kadang 2 aja gw kangen ma depok..tapi kalau inget sekarang macet …hmmmff….!!!!!!!!!!!

  6. Lutvia

    Wah, berarti pian buhan banjar jua lah… sama z to lwn uln. tp uln pindah ke depok hanyar2 aj. Awal tahun 2010 lah… dan ini artikel yng menarik utk di baca

  7. Wahh…memang kadang2 sedihh dan kangen sekali kalau mengingat tempat masa kecil dimana kita tumbuh besar disana, pasti banyak kenagannya….! Salam kenal dari orang yang sama2 besar di Depok1

  8. Kota kota yang memberi pengharapan yang dulunya nyaman hijau, sekarang tambah parah pembangunan oleh urban membuat lingkungan tidak asri lagi…sawah telah menghilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s