Sekarang Laut Adalah Sahabat Saya

*Pulau Tidung

Kata pertama yang ada dalam bayangan Saya saat teman Saya “Tatah” mengajak untuk berlibur ke Pulau Tidung adalah “menyeramkan”. Yups…Saya takut air dengan kedalamannya (walau saya hobi berenang – karena renang hanya ditempat yang kecil, tidak ada ombak dan tidak terlalu dalam-). Yang ada dibayangan Saya adalah naik kapal yang sederhana ditengah-tengah lautan luas tanpa ada batas dan ujung, dengan ombak-ombak yang sedang menari liar tanpa mengenal musuh dan kawan, serta hewan-hewan laut yang liar tanpa ada pawang yang mengendalikan. Itulah ketakutan Saya yang luar biasa…

Kali ini ketakutan Saya dikalahkan oleh rasa “keingintahuan” akan keindahan salah satu Pulau di Kepulauan Seribu yang sering dibicarakan orang. Kali ini Saya harus membuktikan “Apakah seindah itu Pulau yang didalamnya terdapat Jembatan Cinta?”. FYI, di Kepuluan Seribu terdapat banyak Pulau, bukan hanya Pulau Tidung yang baru bulan Januari kemarin menjadi tempat wisata atau Pulau Bidadari dan Pulau Pramuka yang sudah sering para wisatawan kunjungi, tapi banyak Pulau-pulau lain seperti Pulau Air (Pulau yang akhirnya Saya kunjungi), Pulau Sepa dimana tour guide Saya berkata inilah Pulau dengan biaya akomodasi termahal karena biasa dikunjungi oleh orang-orang Jakarta kelas atas (kelas atas masuk tour guide Saya apa yah??hehe), Pulau Kelor dimana terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng yang dibangun oleh VOC untuk menghadapi serangan Portugis pada abad ke 17, serta ada Pulau Onrust atau yang biasa disebut Pulau Kapal, dan terdapat pula Pulau Untung Jawa yang terletak ditengah-tengah kepulaun seribu dan terdapat hutan bakau yang masih asri. Yah..itulah sekilas tentang keanekaragaman Pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu, masih banyak Pulau lainnya yang tidak habis Saya bicarakan melalui tulisan (hehe..bilang aja males nulis..;p). Namun sayangnya hanya Pulau Tidung (Tidung besar dan Tidung Kecil) dan Pulau Air yang sempat Saya kunjungi, sebetulnya seh “tidak sayang” karena walau hanya dua pulau itu ketakjuban Saya sudah amat sangat hebat.

Let’s start..

Saya berserta tiga belas teman Saya lainnya Tatah, Dwi, Uni, Endah, Novi, Aan, Ivan yang merupakan teman satu komplek Saya, serta  Anggy, Nabila dan Dwi yang merupakan teman SMA Saya dan empat teman baru yakni Romi, Ayu, Miky, serta Hakim yang lebih tepatnya adalah “teman dekat Tatah”, tepat tangga 9 Juli 2010 pagi dini hari berangkat menuju Muara Angke dengan mengunakan angkot merah yang berkapasitas 13 orang (Anggy, Dwi dan Nabila berangkat langsung dari kediaman Nabila).  Satu jam perjalanan tak terasa dan sekitar pukul tujuh Kami tiba di Muara Angke, tempat kapal yang mengantarkan Kami ke Pulau Tidung berlabuh. Tiga teman SMA Saya sudah tiba sejam sebelumnya, terlalu pagi untuk tiba.hehe,,alhasil deringan HP dari bunyi dering BBM, tlp, sms silih berganti berbunyi hanya untuk menanyakan “udah dimana lo?” suara cempreng Anggy yang terdengar sampai di telinga teman disamping  Saya, Mba Endah (panggilan Mba yang terbiasa Saya lontarkan) . Walau sepanjang jalan kita tidak yakin arah jalan menuju Muara Angke akhirnya Kami sampai juga. Yups…baru pertama kali Saya menginjakkan kaki disana, jalanan yang becek, bau amis, dan keadaan riuh itulah yang saya rasakan. Maklum Muara Angke adalah salah satu pelabuhan kapal ikan atau nelayan tempat pelelangan ikan-ikan.Kami bersebelas berjalan kaki sampai dengan pom bensin tempat berkumpul para wisatawan. Banyak sekali orang, ternyata tidak hanya kami berempat belas yang ingin ke Pulau Tidung tapi ada mungkin sekitar 200-300 orang yang ingin pergi ke pulau di Kepulauan Seribu, entah Pulau Tidung, atau Pulau Pramuka atau Pulau Bidadari. Yang jelas Kami sama-sama ingin berlibur ke pulau. Akhirnya Saya bertemu tiga teman SMA Saya, perkenalanpun terjadi antara mereka, teman komplek Saya, dan tema kuliah Tatah. Saya sangat berharap semua mampu bercampur lebur tanpa membuat kelompok-kelompok (harapan kecil yang ternyata menjadi kenyataan)^.^nice guys!!

Pukul delapan, pukul sembilan, pukul sepuluh, sampai akhirnya pukul sebelas berlalu tanpa kepastian jam berapa kapal Kami akan tiba dan berangkat. Saya hanya bisa menikmati waktu dengan memperhatikan gerak-gerik orang disekeliling Saya sambil mengambil potret mereka. Ada yang sibuk mengangkat ikan-ikan dari kapal untuk dibawa dengan mengunakan gerobak, ada orang yang sedang lahap menyantap segelas pop mie (terlihat sekali bahwa Ia sangat lapar, maklum mungkin Ia berangkat subuh dari rumahnya sama seperti Saya.hehe..), Anggy yang terlihat sangat ngantuk karena telah lebih dulu meminum obat penghilang mabok, Nabila yang sedang asik foto-foto bersama Saya, Mba Uni yang mukanya sudah sangat lelah dan BT, dan ekspresi wajah lainnya yang unik dan berbeda-beda.hehe…Sungguh bukan pemandangan biasa, kapal-kapal berserakan didepan pandangan mata Saya, para wisatawan dari mata belok sampai mata sipit, dari kulit putih sampai kulit hitam, dari celana panjang sampai celana pendek para wisatawan kenakan. “SERU” pertama yang Saya rasakan walau hanya baru merasakan “riuhnya” Muara Angke.

Mr.R adalah travel yang kami gunakan (bagi yang mau CP nya bisa hubungi Saya, maklum semenjak satu minggu setelah saya menghabiskan dua hari saya disana, telpon silih berganti menanyakan tentang Pulau Tidung). Sedikit kekecewaan Saya rasakan, namun itulah manusia yang hanya mampu berencana namun Tuhan yang punya kuasa menentukan kejadian sesungguhnya (Kapal utama yang tidak dapat digunakan, sehingga Kami semua wisatawan harus menaiki kapal-kapal yang berkapasitas tidak sebanyak kapal utama yakni 400 orang). Akhirmya…..tiba juga kapal yang akan membawa Kami kepulau yang mampu membuat Saya tertantang untuk mengunjunginya. Ketakutan pun mulai tiba lagi, “naik Kapal, rasa mabok laut, ombak besar, badan tanpa pelampung”…wow, tiba-tiba jantung Saya berdegup dengan sangat kencang, namun Saya tetap menutupinya. Saya hanya mampu berdoa dan duduk paling depan (Kami mendapat tempat diatas kapal) sehingga pemandangan dapat Saya lihat dengan sangat jelas. Lautan biru terhampar luas…Indah dan sangat luar biasa mempesona!!!Di tengah kapal terdapat Bendera Merah Putih yang berkibar tertiup angin laut yang cukup kencang. Saya memberanikan diri untuk berdiri tegap dengan memegang tiang bendera, Saya serasa menjadi seorang pahlawan wanita yang sedang ingin berjuang mempertahankan kepulauan Nusantara tercinta (hehe…lebay;p). Ombak-ombak membuat badan Saya serasa melayang-melayang diudara, angin laut yang mengibaskan rambut Saya membuat mata sangat ingin terpejam karena sentuhan kelembutannya. Saya mengabadikan moment keberangakatn diatas kapal bersama teman-teman Saya, namun sayang, kebanyakan teman Saya memilih untuk tidur. Bagi Saya, sayang sekali menghabiskan waktu diatas kapal dengan tidur, Saya lebih memilih melihat keindahan lautan hijau beserta semilir angin yang menyejukan. Disela-sela perjalanan Saya berkenalan dengan mahasiswa Universitas Gajah Mada yang sedang ingin berlibur ke Pulau Pramuka (Saya sempat berfoto bersama mereka) dan kelompok wisatawan lainnya yang nota bene berumuran tidak jauh berbeda dengan Saya. Pengalaman yang luar biasa langka. Hilang seketika rasa takut Saya, inilah “SERU” kedua yang Saya rasakan, kali pertama Saya menaiki kapal dengan sebuah keberanian layaknya seorang pahlawan.

Akhirnya…….setelah kurang lebih tiga jam berada diatas kapal Saya dan teman-teman tiba di Pulau Tidung, tepatnya Pulau Tidung Besar (tempat pemukiman). FYI, Pulau Tidung layaknya sebuah komplek perumahan yang didalamnya terdapat rumah-rumah penduduk, terdapat pula Puskesmas, Sekolahan, Kantor Polisi dan kantor kelurahan (Pulau Tidung merupakan salah satu kelurahan di Kepuluan Seribu), serta terdapat warung-warung yang menjajakan jajanan dan makanan berat sampai makanan ringan dan hampir disetiap rumah terdapat pohon jambu yang sedang berbuah sangat lebat yang memapukan tenggorokan Saya menelan ludah beberapa kali. Kesan pertama Saya “biasa saja” saat pertama kali Saya menginjakan kaki di Pulau Tidung Besar, namun tunggu dulu cerita belum selesai..kesan Saya ternyata berubah seketika saat saya menyusuri jalan setapak  panjang yang mengantarkan Saya akhirnya disebuah jembatan panjang yang merupakan jembatan , penghubungn antara Tidung Besar dan Tidung Kecil. Pemandangan yang begitu indah, hamparan air yang berwarna sangat hijau saking jernihnya, jembatan yang terlihat berkelok-kelok jika dipandang dari kejauhan, luar biasa ciptaan Tuhan. Saya bersepeda sampai dengan jembatan yang akan membawa Saya ke Tidung kecil. Sepanjang bersepeda Saya nikmati udara sejuk walau jam masih menunjukan pukul dua siang. Saat tiba di rumah tempat saya bermalam, kata syukurpun terlontar karena Saya dan teman mendapatkan rumah yang besar, bersih dan tepat dibelakang rumah pemandangan yang indah Pulau Tidung. Lanjut bersepeda,  Saya jarang sekali bersepeda ketika Saya di rumah maklum gak punya sepeda..hehe;p. Ternyata asik sekali kegiatan bersepeda, apa lagi bersama teman-teman. Semua berlomba menggenjot sepeda, dari sepeda warna merah jambu seperti yang Saya taiki sampai dengan becak motor yang berbahan bakan solar. Celingak-celinguk Saya  perhatikan pemandangan kanan kiri Saya, sesekali sepeda Saya onggel karena asiknya Saya memandangi pemandangan yang begitu indah (padahal seh onggel karena gak bisa naik sepeda..hehe;p). Semua orang bersemangat bersepeda, sperti sedang ingin berlomba mendapatkan hadiah sebuah mobil mewah jika sampai paling pertama di tempat yang ditentukan. Akhirnya sampai juga ditempat parkir sepeda, semua sepeda Saya dan tiga belas teman saya lainnya diparkir seperti sepeda motor, dengan diikat denga tali rapia supaya tidak tertukar dengan kelompok wisatawan lainnya. Lalu kita jalan menyusuri jembatan dimana orang menyebutnya “jembatan cinta”. Oh ya terdapat satu jembatan yang cukup tinggi untuk melalui suatu cekungan laut yang agak dalam (sekitar 10 meter) dan disitulah orang-orang memperagakan loncat indah mereka (body jumping). Sempat tergerak hati untuk mencoba berpartisipasi meramaikan tontonan yang memacu adrenalin, tapi kali ini Saya kalah karena Saya tidak cukup nyali untuk melakukannya. Empat jempol untuk mereka yang berani ikut serta memperagakan loncat indah karangan pribadi mereka (dari anak kecil, pria, wanita sampai dengan teman Saya Nabila, Romi dan Miky). Sepanjang jalan kami tanpa kehabisan gaya berpose untuk mengabadikan keindahan pemandangan di kanan kiri depan belakang Kami layaknya model-model kelas internasional (Bisa dilihat di Face Book Saya). Ada sekitar tujuh buah kamera dan empat belas telpon berkamera mengabadiakn moment indah itu. Sampai tiba akhirnya Kami sampai di Pulau Tidung Kecil. Indah sekali….tanpa ada bangunan seperti di Pulau Tidung Besar, para wisatawan bebas memilih dan mengambil tempat yang paling pas untuk bermain air (pualu ini tanpa ombak) dan bersenda gurau. Yah…kekonyolan-kekonyolan Saya dan teman-teman Saya lakukan, dari  main pasir, main jorok-jorokan, sampai main ciprat-cipratan air yang rasanya sangat asin. Seketika itu semua masalah, penat hilang seketika, yang ada hanya rasa senang ria bercampur takjub. Inilah “SERU” ke tiga yang tidak kalah hebat  mengguncang rasa takjub Saya akan keindahan alam Pulau Tidung.


Setengah hari saya dan teman habiskan dengan melakkukan kegiatan yang berkaitan dengan air, dari naik kapal sampai bermain air di Pulau Tidung kecil. Kaki terasa sangat lelah dan badanpun terasa tidak seputih saat sebelum tiba (hehe…hitam sipa takut;p). Kami bergantian untuk mandi, badan penuh dengan pasir pantai yang putih dan agak terasa gatal dibadan. Makan malam pun tiba, sampai pada akhrinya Saya, Mba Uni, Tatah dan Mas Ivan memilih untuk kembali makan mencicipi bakso Mpok Tidung (hehe…memang Mpok yah panggilan untuk Ibu-ibu di Pulau Tidung?;p). Jalan kecil masih sangat ramai, orang masih banyak yang bersepeda walau sudah pukul tujuh malam. Akhirnya waktu istirahat pun tiba, banyak teman yang sudah nyeyak tidurnya (Anggy, Dwi, Nabila….tidur dengan pose ciri khas masing-masing..hehe). Kami disediakan empat buah kasur besar, setiap kasur teruntuk tiga orang alhasil ada dua orang yang tidur dilantai dengan menggunakan tiker, saya dan Hakim lah orang yang beruntung itu..hehe;p. Namun…seperti biasa Saya tidak akan bisa tidur ditempat baru, mata Saya masih terbuka, Saya memandangi teman-teman Saya yang sedang nikmat beristirahat. Akhirnya Saya pun memilih untuk tetap menghidupkan TV hingga akhirnya menonton Piala dunia dimana pada malam itu pertandingan untuk  memperebutkan juara ke tiga, pertarungan antara Jerman vs Uruguay (tadinya Miky dan Romi niatnya mau nonton bareng, eh.,..tapi mereka tidur duluan. Cupu!!!Tapi sempatlah nonton film-film horor yang membuat bulu kuduk Saya merinding beberapa kali..hehe). Sambil mata merem melek saking ngantuknya Saya mampu menyelesaikan tontonan satu pertandingan penuh yang sangat mendebarkan yang akhirnya gelar juara ke tiga piala dunia 2010 diraih oleh Jerman dengan skor akhir 3-2. Tidak terasa akhirnya Saya sempat tertidur hampir satu jam (Saya sangat beruntung sekali walau hanya satu jam) dan tepat jam empat pagi Saya terbangun. Saya masih melihat pemandangan yang sama “teman-teman yang masih nyenyak tidur dengan gaya ciri khasnya masing-masing” . Jam lima pagi Kami pun kembali siap menikmati hari terakhir Kami, hari terakhir yang akan diisi dengan kegiatan snorkeling ditengah Pulau Tidung Kecil dan Pulau Air. Ini adalah “SERU” ke empat, melihat lucunya wajah-waajh teman Saya yang sedang tidur, luar biasa karya Tuhan yang mampu menciptakan berbagai macam karakter fisik manusia (sempat termenung sejenak mensyukuri apa yang dianugerahkan kepada Saya).

Snorkeling….

Atau selam permukaan atau selam dangkal (skin diving) adalah kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel serta mengenakan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) untuk menambah daya dorong kaki saat berenang. Kami sebelumnya menaiki sebuah kapal kecil bermuatan sekitar 13-20 orang, selain saya dan tiga belas teman Saya terdapat pula tour guide Kami Mas Bayu dan dua orang yang Saya sebut dengan “anak pantai” (karena  Saya sempat berbincang-bincang dengan mereka, mereka dengan perawakan yang terlihat sangat kuat dengan badan yang sangat keras dan dengan kulit berwarna gelap berkata “KAMI TIDAK TAKUT LAUT DAN AIR”..kata-kata yang sangat bertolak belakang dengan diri Saya yang sangat takut dengan air yang berkedalaman). Kita mengguanakn baju pelampung sebelum menaiki kapal (baju ini dipakai untuk berjaga-jaga agar Kami tetap bisa bersahabat dengan laut yang akan Kami lalui). Kali ke tiga jantung Saya berdegup dengan sangat kencang, kali ini puncak ketakutan Saya. Bayangkan kapal kecil yang lebih kecil dibanding kapal saat Saya berangkat berada ditengah lautan yang beromabak sangat kencang (lebay…hehe,gak kenceng bgt seh..tapi tetap kencang “menurut Saya) maklum jam sudah menunjukkan pukul sembilan dimana semakin siang dan semakin sore ombak-ombak tersebut akan semakin besar (tidak termasuk ombak besar jika dibandingkan dengan pulau-pulau selain Kepulauna Seribu). Saya hanya bisa berdoa dalam hati sambil memegang erat tangan Ayu, dimana sesekali ombak mengehempaskan perahu kecil Kami yang membuat posisi duduk saya selalu bergeser ke kanan kiri. Angin sangat kencang, keindahan yang lebih luar biasa dibanding saat Saya berangkat kemaren siang. Saya benar-benar bangga terhadap diri Saya (meski kata teman, Saya lebay) karena akhirnya Saya BERANI MENGALAHKAN SALAH SATU RASA TAKUT TERBESAR DALAM HIDUP SAYA yaitu “NAIK KAPAL DITENGaH LAUTAN YANG DALAM DAN LIAR”. Tiba juga akhirnya ditempat Kami bersnorkeling, dari atas kapal Saya telah bisa melihat ekosistem laut yang begitu nyata, yang biasanya hanya Saya lihat di foto-foto. Terubu karang dan tumbuhan-tumbuhan laut yang indah dan memamerkan keanekaragaman yang menakjubkan. Jantung saya kembali berdegup seketika Saya harus loncat turun dari kapal untuk langsung bersentuhan dengan air dan ekosistem yang ada. Rasa takut ada karena pemandangan yang tidak dapat dibohongi, ombak-obak yang mungkin akan membuat Saya terombang-ambing saat saya bersnorkeling nanti. Satu demi satu teman Saya turun dari kapal dan akhirnya Saya beranikan diri turun. Kaki Saya langsung lemas, saya merasakan ombak mengayun-ayunkan badan Saya, Saya ingin sekali berpeganagn namun teman-teman Saya yang lain sama-sama berusaha untuk menjaga dirinya masing-masing. Saya coba menenangkan nafas Saya dan coba menikmati setiap ayunan ombak-obak. Sekali dua kali saya memasukkan separuh kepala saya di dalam air, lebih jelas lagi terlihat ekositem laut yang ada. Memang benar kata orang “Pulau Tidung memang paling pas untuk dinikmati ekosistem lautnya dengan bersnorkeling” (kalau untuk diving Saya belum berani, habis snorkeling saja sudah takut apa lagi diving..hehe). sekitar setengah jam Kami habiskan di Pulau Tidung Kecil ini. Lalu Kami melanjutkan perjalanan untuk menuju Pulau Air, Pulau dimana semua orang memuji keindahaannya. Kali ini Saya tidak takut karena Saya mulai terbiasa dengan hempasan ombak. Lumayan setengah jam lebih akhirnya Kami sampai di Pulau Air. Kata pertama yang terlontar dari mulut Saya adalah “KEREN!!!!!!!!!!!!!” Perahu Kami melewati pepohonan (entah pohon apa namanya, seperti pohon cemara) , kanan kiri pohon yang sangat hijau dan sangat simetris layaknya satu deretan pohon yang sedang bercermin dan perahu Kami yang menyusuri cermin itu. Indah…..jernih….hijau….romantis!!!! Mata Saya tidak berkedip  beberapa menit, ternyata foto-foto yang Saya temukan di bapak Google tidak menipu . Ternyata memang benar adanya “panorama yang sangat indah yang dipamerkan oleh Pulau Air”, pulau dimana milik pribadi Bapak Ponco Sutowo (pengusaha terkenal yang merupakan pemilik dari Hotel Sultan yang sekarang disebut hotel Hilton, Bapak mertua Dian Satro kalau tidak salah.hehe..). Entah tak terbayangkan berapa harga Pulau seindah ini, pulau yang hanya didiami oleh orang yang bertugas merawat pulau tersebut. Saya berasa seperti terdampar disebuh pulau, karena tepat kapal Saya berhenti disalah satu pesisir pantai yang sangat kecil (kecilnya ini yang menambah indah pemandangan Pulau Air) berpasirkan pasir putih. Untuk kali ke dua kami menikmati keindahan ekosistem laut. Namun kali ini tidak seindah ekosistem sebelumnya. Kami disini lebih menikmati dengan berenang, berfoto-foto, dan bersantai-santai layaknya wisatawan asing berjemur dipinggir pantai Sanur Bali…hehe;p. Satu jam terasa sangat cepat, tidak terasa Kami harus segera pulang karena kapal untuk pulang akan berangkat pukul dua siang ini. Pulau…pulau….indah sekali Tuhan!!!!ini adalah hal “TERSERU” sepanjang liburan saya di kepulauan seribu.

Kembali pulang ke Depok..hehe

Kami mandi, beres-beres, dan sampai pada akhirnya duduk diatas kapal kembali.^^300 ribu yang tidak sia-sia.Terima kasih Tuhan…Terima kasih Pulau Tidung & Pulau Air…Terima kasih Tatah yang sudah repot-repot mengurus travel Kami..Terima kasih Teman semuanya!!!!!!!

Tak akan habis kata-kata jika Saya terus menuruti semua perasaan bahagia Saya untuk menuliskan semua pengalaman indah di Pulau Seribu. Tulisan ini hanya sepuluh dari ratusan pengalaman seru yang Saya dapat disana.

Segala puji syukur hanya untuk MU TUHAN, untuk segala kuasa dan kebesaran-MU atas hidup hambu—MU ini.

Leave a comment

Filed under Jalan-jalan, Tulisan Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s