Lomba Menulis @Bumiputera 1912

Kesederhanaan yang Penuh Kemewahan dan Kenikmatan di bulan Ramadhan

Rutinitas yang menuntutku melakukan berbagai macam hal, hal yang membuatku mabuk akan berbagai macam kemewahan. Seperti,  saat mata terbuka di pagi hari, tak satupun kata syukur yang terucap, ku langsung bergegas mandi lalu melahap dua helai roti berisikan daging sapi yang tebal, dua helai keju yang mahal, dan ditutup satu gelas susu putih kental manis dan segelas orange jus. Sangat nikmat santapan di pagi hari, membuat perut kenyang dan saking kenyangnya ingin sekali kembali ke kamar merasakan empuknya kasur. Siang pun kembali ku lalui dengan santap siang yang begitu mewah, berbagai macam lauk pauk, sayur mayur, dan kembali segelas jus strawberry. Semuanya membuatku rutin  menghabiskan uangku yang melebihi uang transport dan makan siang yang aku dapat dari kantor setiap harinya. Itu pun tak cukup, perut selalu merasa lapar, keseharian di kantorpun tak lepas dari makanan kecil dari yang mahal sampai murah, dari makanan basah sampai keripik-keripik kering, semuanya selalu mengisi setiap waktuku. Sungguh hari yang selalu penuh dengan kemewahan, keborosan tanpa ada rasa sadar kalau semuanya berlebihan. Yah…”hidup adalah menikmati setiap detik yang aku miliki”, namun “apakah aku menikmati semuanya ?” pertanyaan yang seketika muncul di kepalaku.

Tak terasa ku kembali dihadapkan kepada sebuah bulan, yang sebelumnya ku menganggap itu bulan biasa, bulan Ramadhan. Berubah semua rutinitasku. Aku bangun tidak lagi di hadapkan dengan sebuah sarapan yang mewah, aku hanya mengisi perutku saat sahur hanya dengan satu lauk atau dengan satu macam sayur dengan rasa yang sederhana. Sepanjang menghabiskan waktu dikantorpun mulutku hanya terdiam tanpa merasakan lezatnya makan-makanan yang biasanya aku santap. Berat menjalani semuanya pada awalnya. Berbuka pun hanya dengan seteguk air dan sepotong gorenganpun sudah membuat perut terasa kenyang. Satu, dua, tiga hari kulewati, dan tepat di hari ke tujuh aku kembali bertanya kepada diriku “apakah aku menikmati semuanya ini?”, pertanyaan yang sama saat aku menikmati mewahnya hari-hariku di luar bulan ramadhan.

Memasuki minggu ke dua di bulan Ramadhan. Aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas yang sederhana, namun kali ini aku lebih sering bertanya-tanya tentang pertanyaan yang sama namun ada kalimat yang ditambahkan, “apakah aku menikmati semuanya ini, dan bagaimana dengan saudara-saudaraku yang lain?”. Pertanyaan yang mulai membandingkan diriku dengan orang diluar sana. Tiba-tiba sebuah kenyataan kecil masuk kedalam benakku ditengah aku mengendarai mobilku dalam kemacetan, tepat saat adzan magrib berkumandang di radio.

“ aku melihat seorang anak kecil yang menarik sebuah gerobak yang berisikan batu es batangan yang menutupi semua isi gerobak yang ia dorong. Dengan mengagantung sebotol air yang penuh berisikan air putih dilehernya (pertanda ia belum meminum sedikit pun, dan pertanda ia pun sedang berpuasa seperti halnya diriku). Seketika adzan berkumandang, anak kecil yang bertubuh kurus dan kumuh itu berhenti dalam langkahnya. Sesaat ia mengambil botol yang ia gantungkan di lehernya, lalu ia minum air itu dengan mengahabiskan separuh dari isi botol itu dan setelah itu tanpa berfikir panjang  ia kembali mendorong gerobaknya”

Seketika itu pula aku meneteskan air mata melihat kenyataan hidup yang baru saja aku lihat, begitu beruntungnya aku dengan hidup yang aku miliki sekarang. Seorang anak kecil yang membantu orang tuanya mencari uang dan tetap bisa berpuasa dan tetap melanjutkan mendorong gerobaknya, dengan muka yang terlihat sungguh tulus dan ikhlas, di lihat pula dari langkahnya yang tetap pasti walau hanya berbuka dengan beberapa teguk air putih. Termenung aku sesaat, aku pun mengambil sebotol air putih yang berada ditepat dibawah radio mobilku. Dan aku meneguk air putih itu, entah kali ini aku merasakan kenikmatan saat aku meneguk air putih itu. Aku pun sudah merasa kenyang walau hanya dengan beberapa teguk air putih. Kali ini aku bukan kembali mempertanyakan hal yang sama seperti biasanya “apakah aku menikmati semuanya ini?”,tapi aku menjawab pertanyaan aku itu “aku menikmati puasa ku hari ini, walau hanya dengan seteguk air putih.”

Tersisa beberapa hari lagi bulan Ramadhan ini, aku mulai menikmati berbagai kesederhanaan yang aku rasakan. Aku menikmati segelas air putih, berbuka dengan hanya satu atau dua potong kue manis dan makan hanya dengan lauk maupun sayuran sederhana, dimana aku hanya butuh Rp 10.000,- untuk membelinya. Buah pun hanya buah sederhana, seperti pepaya, ataupun belimbing yang menjadi ikon kota Depok, tempat dimana aku tinggal. Dan ucapan syukur selalu terucap, saat aku bangun setiap paginya, ku mengucap syukur kalau akhirnya aku masih diberi waktu untuk menikmanti hidup di bulan Ramadhan tahun ini.

Semua kesederhanaan itu membuat aku mampu beryukur dan menikmati semuanya. Dan semua terasa akan lebih sempurna saat aku mampu berbagi yang aku punya dengan orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung diriku, karena “ada hak orang lain dari setipa rezeki yang aku terima”. Dan satu sisa pertanyaan pun akhirnya kembali aku dapat jawab, “semua saudara-saudaraku diluar sana mungkin ada yang menikmati kesederhaan di bulan Ramadhan ini, dan mungkin ada juga yang belum merasaknnya”. Tapi aku bersyukur karena aku satu dari sekian orang yang disadarkan akan “kenikmatan yang sesungguhnya”.

Sampai dengan akhirnya aku dapat menyimpulkan satu hal, “kesederhaan yang menghasilkan kenikmatan itulah kemewahan hidup yang aku dapatkan di bulan Ramadhan tahun  ini, bulan yang yang luar biasa”. Dan kembali sebuah pertanyaan muncul “pelajaran apa lagi yang akan aku dapat di bulan-bulan Ramadhan kedepannya? Semoga umurku masih ada untuk menikmati indahnya Ramadhan tahun depan dan kembali dapat berbagi hal indah yang aku rasa melalui tulisan yang aku buat dengan penuh kesungguhan, seperti tulisan ini”. Beruntungnya aku mengetahui satu dari beribu nikmat dari bulan Ramadhan.

Rasulullah saw. Bersabda :

“Janganlah kamu mematikan hati dengan makan dan minum berlebihan, meskipun makanan dan minuman itu halal. Sebab, hati ibarat tumbuh-tumbuhan, jika terlalu banyak disiram ia akan mati”

Leave a comment

Filed under Tulisan Dyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s